Part 22 : Gadis di Balik Niqob

Judul       Phasmina Merah Dari Aramoun #PMDA
By            ST Leen
Genre      Religi-Romance
Part         22

Acara mengunjungi toko baru Afnan gagal total. Pria itu dan Aramoun saling geram. Apalagi Leen, entah apa yang dirasakan gadis itu?

Leen sudah basah kuyup menenteng sepatu di tangannya. Mereka turun dari speedboat. Aramoun juga basah kuyup seperti Leen, hanya blazernya saja yang masih kering.

"Ya Rabb, aku hanya minta seorang pria saja untuk menjagaku. Tapi dengan rahmat-Mu, Engkau mendatangkan dua. Sekarang aku minta yang terbaik saja Ya Allah ..., karena apa yang kuminta belum tentu yang terbaik," keluh gadis itu sambil berdoa.

Dua pria yang mengawalnya saling melirik, mendengar gadis itu meluapkan kesusahannya. Gerakan mereka berdua sama. Mereka menyembunyikan kedua tangan di saku celana. Aramoun hendak memberikan blazer slimfitnya kepada gadis itu.

"Mau apalagi?" gertak Leen saat Aramoun menyampirkan blazer itu di pundak si gadis.

"I-ni ---, mungkin ...." Aramoun tergagap.

"Mungkin apa? Itu tidak ada gunanya dengan pakaian basah kuyup seperti ini!" gertak Leen.

Aramoun mundur beberapa langkah.
Afnan tergelitik geli. Leen tentu jadi pusat perhatian. Selain pakaiannya basah kuyup, ia juga meninggalkan tetesan air dan jejak kaki yang sangat jelas.

"Apa yang kau lihat?" gertak Leen pada seorang pria yang duduk di kursi panjang.

Walaupun tidak ramai, tetapi mata-mata mereka cukup mengganggunya. Mereka masih harus menempuh 1 km lagi untuk sampai ke mobil. Sebagian pengunjung ada yang berjalan seperti mereka, ada pula yang sedang menikmati santapan di restoran-restoran berkonsep outdoor. Ada juga yang sibuk berfoto di kursi-kursi panjang yang tersebar. Mendapati rerumputan hijau, Leen akhirnya menjejakkan kaki di sana.

Mobil yang mereka kendarai mulai terlihat.

"Hah!" Leen melegakan beban di dadanya lalu memasuki mobil.

Aramoun juga memasuki mobil. Pria itu langsung menghidupkan mesin, meninggalkan Afnan.

"Hei, Aramoun! Awas saja kau nanti!" teriak Afnan.

Aramoun membiarkan pria itu berlari mengejar dan mengabaikannya.

"Kau meninggalkannya?" Leen melihat ke belakang, "hah! Aku tidak peduli, itu urusan kalian." Gadis itu menaikkan salah satu sudut bibirnya.

Mungkin karena tidak ada Afnan, Aramoun tidak akan melarangnya melepaskan niqob dan penutup kepala. Tanpa sengaja, ia menyegarkan tentara hati si pemuda.

Kilauan anting yang berkilat memanjang hingga menyentuh leher gadis itu. Rambut burgundinya yang masih basah membuat aliran darah pria itu memanas. Bulu mata yang terlihat melengkung dari samping, benar-benar membuat Aramoun rela tenggelam bersama gadis itu tadi. Leen meletakkan apa yang dilepasnya pada dashboard.

Sayangnya, Aramoun tinggal menelan ludah saja. Tangannya meraba dada, ia berusaha bertahan dari badai yang memberontak di kepalanya.

Leen tercekat. Pria itu melayang dalam angan-angan dan mobil mendadak berhenti. Batang hidungnya mendekat hingga ke rambut si gadis yang terurai. Hampir-hampir gadis itu memejamkan matanya, tanpa tahu harus bagaimana.

Pria itu kembali meluruskan punggungnya ke sandaran kursi kembali menyetir. "Setelah menjadi putri duyung, aromamu berubah --- seperti Emberjack atau Barracuda, mungkin," terka Aramoun semaunya, sedikit gugup.

Leen tersenyum menertawakan Aramoun yang salah tingkah, tanpa melepas pandangannya. "Apa aku juga harus melupakan ini?" sergah Leen.

"Apa ada yang istimewa?" elak Aramoun.

"Apa saja yang berhubungan denganmu jadi istimewa. Bukan aku wanita yang tidak tahu malu karena sudah menyatakan berkali-kali tentang apa yang ada di hatiku. Aku jadi berani menyatakannya karena kau selalu menyatakannya lewat bahasa tubuhmu itu," tandas Leen.

Aramoun punya jutaan kata untuk diungkapkan kepada gadis itu. Hanya saja kekhawatirannya teramat besar jika yang terjadi menyakitkan ke duanya. Saat ini ia masih rapat menyimpan. Bagaimana jika gadis itu tahu bahwa kebersamaan mereka hanya untuk mengisi detik-detik perpisahan. Lagi-lagi mata Aramoun berkelana menyembunyikan kepedihannya. Ia biarkan gadis itu terhibur dengan perasaannya sendiri atau dengan perlindungan dan perhatian Aramoun.

"Semua yang indah pada dirinya tak kan menjadi milikku, tetapi aku bersikeras melindunginya dari apa pun, bahkan dari nafsu yang disebut cinta.

Cinta yang aku rasa hanya bersamanya, walaupun dengan ayah dan ibuku. Aku  merasa tidak ditumbuhi sebesar itu, kami malah cenderung bertikai. Menerjangnya atau tidak, aku dan dirinya hanya akan terluka. Entah cinta itu atau kita yang akan terbunuh." Aramoun menyungging senyum berbalut kepedihan di matanya.

Leen juga membalas senyumannya dengan penuh tanya. "Kenapa setiap kali aku mengungkap sihir-sihirnya terhadapku, ia jadi terluka? Apa aku bagian dari lorong masalalunya yang menyakitkan? Dia memang tidak pernah membahas panjang lebar tentang perasaannya, tetapi apa yang ia lakukan terhadap seakan-akan ia memberikan seluruh cinta di dunia ini, hanya untukku."

Semua bertanya pada dirinya masing-masing tanpa ada jawaban.

Tulisan di jalanan Beirut berbahasa Arab walaupun ada tiga bahasa di sini yaitu, Arab, Inggris, dan Prancis. Walaupun papan reklame memamerkan wanita yang hanya mengenakan underwear, tulisannya berbahasa Arab. Banyak gedung-gedung apartemen berjajar di tepi laut.

***

Pagi yang ditunggu-tunggu oleh Leen sejak lama, sebelum Aramoun ke Tripoli. Menyempurnakan kekurangannya dalam sholat adalah hal paling utama setelah mempelajari tentang iman. Bagaimana iman adalah harga dari semua amalan yang dikerjakan seorang muslim.

Leen sangat antusias, ia jadi cepat memahami apa yang dipelajari. Berbeda dengan Afnan yang mengikutinya sambil bermalas-malasan. Mereka menghabiskan waktu dua jam setiap hari, selebihnya Afnan menghabiskan waktu di tokonya dan Aramoun rela bolak-balik dari Beirut ke Tripoli agar mandat dari ayahnya tetap berjalan.

Meski yang ia tahu, Aramoun dan Afnan adalah sepupunya. Leen tetap seperti biasa karena sejak awal memang tidak ada larangan dari Tuan Harun. Jadi, ia tetap mengindahkan larangan Aramoun.

Predikat Afnan sebagai pangeran baru tidak selalu mulus. Aramoun adalah sebagian batu-batu yang menghalanginya. Mereka akan berebut tempat di mana Leen duduk, di mana gadis itu berjalan dan di mana pun gadis itu berada. Rumah ini jadi lebih gaduh dari sebelumnya. Jangan kan mengambil hati Leen, wajah gadis itu saja, Afnan belum juga mengetahuinya. Padahal dia sudah hampir dua bulan di Beirut.

"Jadi siapa idolamu dari kalangan sahabat Nabi?" tanya Aramoun.

"Semua sahabat Nabi mengagumkan. Ada Sayyidina Abu bakar yang ketabahannya luar biasa saat Nabi wafat, Sayyidina Umar juga beliau jagoan di kalangan orang islam yang mana bila menaiki kuda kakinya tetap menyentuh tanah karena gagahnya beliau, Sayyidina Usman yang kaya dan dermawan, beliau menyiapkan seratus ekor unta untuk peperangan, Sayyidina Ali juga pendekar. beliau mengangkat pintu benteng musuh seorang diri. Padahal, pintu itu hanya akan terangkat oleh empat puluh orang.  Yang kusebutkan tadi adalh empat sahabat utama Nabi."

"Afnan, apa yang bisa kau simpulkan dari jawaban panjang lebar Leen?"

"Jawaban Leen tidak ada hubungannya dengan pertanyaanmu," ejek Afnan menertawakan gadis itu.

"Huf! Afnan ...." Tangan Leen mengepal geram. Ia melayangkan pena ke kepala pria itu.

"Ah!" sesuatu melayang di kepala Afnan, "  Seharusnya kau jawab satu saja dan tidak perlu menyebutkan sifat-sifatnya." Afnan semakin berdalih.

Aramoun menyumpal mulut Afnan dengan kertas.

"Itu jawaban orang semangat dan penuh kecintaan. Kesimpulannya, sebagai orang Islam kita punya banyak pilihan memilih figur yang kita inginkan untuk dijadikan idola. Aku tambahi pilihannya," kata Aramoun terpotong.

Leen meneruskan, "Biasanya gadis sepertiku suka yang tampan." Leen melirik seraya menyikut Aramoun, mata Afnan membulat malas. "Ada Sayyidina Jarir bin Abdillah yang dikatakan Nabi Muhammad sebagai Yusufnya umat ini. Bahkan Nabi selalu tersenyum jika melihat wajah beliau. Ada lagi yang tampan, Sayyidina Dihyah Al kalbi di mana malaikat Jibril akan menyerupainya jika sedang berwujud manusia," lanjut Leen begitu semangat.

"Kau hanya akan dapat nilai merah, nantinya!" kata Aramoun pada Afnan, membanggakan Leen.

"Aku tidak peduli nilai merah, kuning, atau pun hijau. Aku hanya ingin istri cantik, cantik, dan cantik," kata Afnan menghitung dengan jari-jarinya sambil menaikkan kedua alis melirik Leen.

Aramoun menutup mata pria itu dengan tangannya, "Yalla ruhi! ( Pergi sana! )". Aramoun juga menggiringnya ke luar dari perpustakaan.

Aramoun bersiap-siap akan ke Tripoli. Seperti biasa, Leen tinggal seorang diri di perpustakaan. Gadis itu melepas khimar, lalu meletakkannya di atas meja.

Tidak biasanya Afnan kembali melongok ke perpustakaan. Ia hendak mengambil barang-barang miliknya karena dia diusir begitu saja oleh Aramoun.  Ia melihat Leen menggeliat sesaat meluruskan otot-ototnya.

Afnan menerobos masuk, mencengkram pergelangan tangan gadis itu. Pria yang tak pernah meladeni Aramoun dengan amarah itu, kali ini naik darah.

"Afnan! Ada apa denganmu?" tanya Leen heran. Gadis itu sedikit ketakutan.

"Aramoun!" panggil Afnan menendang pintu kamar Aramoun.

Mereka tidak menemukan pria itu di sana.

0 Response to "Part 22 : Gadis di Balik Niqob"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel