Part 21 : Insiden speedboat
Judul Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
Part 21
Apa kalian belum pernah tersengat belut listrik!
🌠🌠🌠
Dapur dirasa tempat paling menyesakkan bagi Leen. Ia jarang menjamah tempat itu, mungkin sekadar mengambil cemilan penunda lapar pada malam hari. Itu saat Aramoun tidak. Mengisi waktu dengan makanan ringan adalah hiburannya.
Bersanding dengan nyonya di rumah itu, Leen membereskan taman bunga yang sedikit rusak akibat perkelahian Aramoun dan Barra' malam itu.
"Kau kesulitan atau tidak berhijab lengkap seperti ini?" tanya Nyonya Naili.
Leen mengguting mawar putih yang hampir busuk. "Bu, kata Aramoun wajahku ini mendatangkan masalah. Ayah juga sudah mempersilakanku untuk membukanya, tapi sepertinya Aramoun tidak suka. Aku sendiri masih trauma dengan pria asing, Bu."
"Kalau ayahmu bilang begitu, dia tidak melanggar syariat."
"Maksud Ibu?"
"Kau tidak berdosa jika tidak berhijab di depan Afnan," jelas Nyonya Naili.
"Begitu? Tapi aku masih belum mengerti pada siapa saja aku harus berhijab."
"Nanti kau akan tahu, bukan 'kah besok Aramoun bersedia memulainya?"
"Dia memang aneh. Kenapa harus mendatangkan orang lain, baru dia mau mengajariku?" gerutu Leen.
Nyonya Naili menyemprotkan za'faron sedikit demi sedikit pada bunga-bunga tersebut. Selain bisa dibuat teh, aroma za'faron juga memberi efek menenangkan dan mencerdaskan otak.
Gadis itu berjongkok, menajamkan penglihatannya pada sebuah batang mawar. Ia memotongnya karena beberapa bunga di atasnya sudah layu.
"Ah!" Leen tertusuk duri bunga mawar.
"Hati-hati, Nak!" kata Nyonya Naili.
Afnan sejak tadi memperhatikannya. Pria itu bergegas menghampiri gadis itu. "Sini, biar aku obati!" Afnan mengusap titik darah di ujung jari telunjuk Leen.
Aramoun muncul dari pintu rumah besar. Matanya mulai berkilat. Telinga panjangnya memanas.
"Ah, jangan berlebihan!" tegas Leen menarik tangannya dari Afnan.
Aramoun mengangguk setuju dengan tanggapan Leen pada pria itu. Nyonya Naili menggeleng pelan.
"Lagipula, duri itu tidak seberapa menyakitkan dibanding duri-duri yang menusuk hatiku," tukas Leen.
Afnan menyuarakan gelak tawa. "Aku hanya mencari cela berkenalan denganmu," kata Afnan. Suara dibalik niqob itu semakin membuat Afnan penasaran.
"Afnan ... ayo, aku beri tahu toko barumu!" ajak Aramoun. Dia juga tak kan memberi kesempatan pada pria itu.
Leen dan Afnan menoleh ke arah Aramoun. Leen baru menyadari, bisa jadi ada yang tersindir dengan ucapannya.
"Kau tidak mau mengajakku, Aramoun?" tanya Leen.
"Ajak dia juga .... Sudah lama dia tidak ke luar rumah," pinta Nyonya Naili.
"Lain kali saja, kita pergi ber dua," tolak Aramoun seraya mengedipkan satu matanya pada Leen.
"Wah! Itu sangat mematikan!" Afnan terkagum melihat kedipan dan penolakan Aramoun pada Leen. Di mana Afnan ditolak, tapi Aramoun malah diminta.
***
Brak!
Leen tiba-tiba masuk mobil duduk di samping Aramoun. Padahal dia sudah dilarang ikut hari ini. Pria itu yang tengah memasang sabuk pengaman itu menatapnya kesal.
"Kenapa? Daripada aku bersembunyi di dalam bagasi, bukan 'kah itu sangat menyiksa?" ketus Leen.
Aramoun tak dapat berbuat apa-apa. Gadis itu tak peduli dengan taring predator Aramoun. Leen membuang pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan pemuda itu, sementara Aramoun masih memandang si gadis.
"Ow!" Afnan terkejut saat membuka pintu mobil bagian depan. Seharusnya ia duduk di samping Aramoun, tetapi gadis itu sudah mendahuluinya.
"Naik mobil sendiri saja," kata Aramoun.
"Ah, kita berangkat bersama saja!" tolak Afnan, memasuki mobil.
Aramoun memijit keningnya. Dua orang di sisinya membuatnya kesal. Mereka sengaja dipisah, tetapi Leen malah ikut bersamanya.
"Di saat seperti ini, seharusnya Alyan ikut juga," celetuk Afnan.
Aramoun semakin geram. Ia malas menjawab jika Leen bertanya.
"Alyan? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" Leen melempar pandangan ke arah Aramoun, mengintimidasinya.
Aramoun menoleh ke arahnya terdiam sambil terus menyetir.
Rumah-rumah yang dilewati rata-rata memiliki dua lantai menghadap ke jalan. Hampir sebagian besar tidak punya halaman. Mobil-mobil berbaris panjang terparkir di tepi jalan.
Pemandangan mulai mengagumkan setelah Laut Mediteranian mulai memamerkan pesonanya. Areal pejalan kaki ( Corniche ) tidak begitu ramai, karena ini bukan hari Ahad dan setiap harinya akan ramai pada saat matahari terbit atau menjelang terbenam. Pohon kurma berbaris rapih membelah ke dua jalan.
"Yah lad dahsyat!" Leen berdecak kagum.
Sejak di Lebanon, ini baru pertama kalinya ia menikmati pemandangan Laut. Kedatangannya dulu, tidak menikmati laut karena Aramoun yang terlambat menjemput. Saat bepergian bersama Aramoun yang terakhir kali, pria itu kembali membuatnya kesal di Souk Beirut.
"Kita akan ke toko dulu atau ke laut?" tanya Aramoun.
Leen senang sekali. Aramoun jadi tidak ingin membuatnya kecewa. Mereka memutuskan untuk singgah di Zaitunay Bay.
Zaitunay Bay adalah ruang publik di tepi Laut Mediteranian dengan berbagai fasilitas bertaraf internasional. Lebih dari tujuh belas restoran dengan teras menawan yang menghadap ombak mediteranian. Rata-rata makanan Prancis dan Itali yang disuguhkan. Berbagai festival sering diadakan di sini karena pemandangannya yang cantik dan memiliki ruang terbuka yang cukup luas.
Tidak ada mobil terparkir di areal ini. Jadi, jika kemari harus berjalan kaki. Banyak speedboat berjejer di tepi laut yang bisa di sewa. Pemandangan siang menawan dengan laut birunya. Malam pun menakjubkan dengan pelita-pelita yang bertebaran.
Mereka bertiga jalan beriringan. Langkah Leen kalah cepat membuatnya berkali-kali tertinggal.
"Berjalanlah di sampingku!" Aramoun menarik Leen yang semula berada di tengah.
Afnan juga pangeran jahil, ia sengaja berpindah di sisi Leen. Ia memahami kecemburuan Aramoun.
"Jangan jauh dariku!" Aramoun kembali menariknya ke pinggir, tidak di tengah lagi.
Aramoun masih jadi sasaran kejahilannya. Pemuda itu kembali mendekati Leen.
"Aku bilang jangan dekat-dekat dengan Afnan ...!" Aramoun kembali menyeretnya.
"Hah!" Leen menghentakkan kaki, kesal.
Bug!
Bug!
Mereka ber dua terkena amukan singa betina itu. Kini Leen berjalan sendiri di belakang, mengikuti mereka. Aramoun tampak emosional, sedangkan Afnan tertawa renyah berhasil menjahili mereka.
***
Masih ada lagi yang membuat Leen kesal. Gadis itu membeli bros berbentuk bulu merak untuk Nyonya Naili. Ia hanya membawa paper bag kecil saja. Tetapi mereka berebut ingin membawanya. Dan gara-gara mereka, ia harus merelakan bros itu jatuh ke Laut.
"Apa kalian belum pernah tersengat belut listrik ...!" gertak Leen. Kedua tangan gadis itu mengepal geram.
Seperti biasa, Afnan hanya terpingkal karena hal itu. Ia benar-benar menjadikan Aramoun yang mudah marah itu sebagai sasaran.
Kini mereka menaiki speedboat. Kendaraan laut itu mulai melaju kencang. "Menjauh dariku, bisa-bisa kalian menenggelamkanku di sini!" larang Leen saat mereka ber dua menuju ke arahnya.
"Justru aku ingin menjagamu," pinta Aramoun.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi aku hanya mau Aramoun," tukasnya.
Aramoun melenggang bangga melewati Afnan, sambil menegakkan kerah kemejanya.
Mereka berdua berfoto-foto menggunakan ponsel gadis itu. Afnan mulai gerah. Tiba-tiba ia menyalip di antara Leen dan Aramoun. Lalu tampak di layar ponsel Leen terdorong hampir jatuh ke laut.
"Leen ...!" panggil Aramoun.
Aramoun sempat meraihnya, ternyata ia tidak sanggup bertahan.
Biur ...!
Apa yang dikhawatirkan gadis itu terjadi.
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
Part 21
Apa kalian belum pernah tersengat belut listrik!
🌠🌠🌠
Dapur dirasa tempat paling menyesakkan bagi Leen. Ia jarang menjamah tempat itu, mungkin sekadar mengambil cemilan penunda lapar pada malam hari. Itu saat Aramoun tidak. Mengisi waktu dengan makanan ringan adalah hiburannya.
Bersanding dengan nyonya di rumah itu, Leen membereskan taman bunga yang sedikit rusak akibat perkelahian Aramoun dan Barra' malam itu.
"Kau kesulitan atau tidak berhijab lengkap seperti ini?" tanya Nyonya Naili.
Leen mengguting mawar putih yang hampir busuk. "Bu, kata Aramoun wajahku ini mendatangkan masalah. Ayah juga sudah mempersilakanku untuk membukanya, tapi sepertinya Aramoun tidak suka. Aku sendiri masih trauma dengan pria asing, Bu."
"Kalau ayahmu bilang begitu, dia tidak melanggar syariat."
"Maksud Ibu?"
"Kau tidak berdosa jika tidak berhijab di depan Afnan," jelas Nyonya Naili.
"Begitu? Tapi aku masih belum mengerti pada siapa saja aku harus berhijab."
"Nanti kau akan tahu, bukan 'kah besok Aramoun bersedia memulainya?"
"Dia memang aneh. Kenapa harus mendatangkan orang lain, baru dia mau mengajariku?" gerutu Leen.
Nyonya Naili menyemprotkan za'faron sedikit demi sedikit pada bunga-bunga tersebut. Selain bisa dibuat teh, aroma za'faron juga memberi efek menenangkan dan mencerdaskan otak.
Gadis itu berjongkok, menajamkan penglihatannya pada sebuah batang mawar. Ia memotongnya karena beberapa bunga di atasnya sudah layu.
"Ah!" Leen tertusuk duri bunga mawar.
"Hati-hati, Nak!" kata Nyonya Naili.
Afnan sejak tadi memperhatikannya. Pria itu bergegas menghampiri gadis itu. "Sini, biar aku obati!" Afnan mengusap titik darah di ujung jari telunjuk Leen.
Aramoun muncul dari pintu rumah besar. Matanya mulai berkilat. Telinga panjangnya memanas.
"Ah, jangan berlebihan!" tegas Leen menarik tangannya dari Afnan.
Aramoun mengangguk setuju dengan tanggapan Leen pada pria itu. Nyonya Naili menggeleng pelan.
"Lagipula, duri itu tidak seberapa menyakitkan dibanding duri-duri yang menusuk hatiku," tukas Leen.
Afnan menyuarakan gelak tawa. "Aku hanya mencari cela berkenalan denganmu," kata Afnan. Suara dibalik niqob itu semakin membuat Afnan penasaran.
"Afnan ... ayo, aku beri tahu toko barumu!" ajak Aramoun. Dia juga tak kan memberi kesempatan pada pria itu.
Leen dan Afnan menoleh ke arah Aramoun. Leen baru menyadari, bisa jadi ada yang tersindir dengan ucapannya.
"Kau tidak mau mengajakku, Aramoun?" tanya Leen.
"Ajak dia juga .... Sudah lama dia tidak ke luar rumah," pinta Nyonya Naili.
"Lain kali saja, kita pergi ber dua," tolak Aramoun seraya mengedipkan satu matanya pada Leen.
"Wah! Itu sangat mematikan!" Afnan terkagum melihat kedipan dan penolakan Aramoun pada Leen. Di mana Afnan ditolak, tapi Aramoun malah diminta.
***
Brak!
Leen tiba-tiba masuk mobil duduk di samping Aramoun. Padahal dia sudah dilarang ikut hari ini. Pria itu yang tengah memasang sabuk pengaman itu menatapnya kesal.
"Kenapa? Daripada aku bersembunyi di dalam bagasi, bukan 'kah itu sangat menyiksa?" ketus Leen.
Aramoun tak dapat berbuat apa-apa. Gadis itu tak peduli dengan taring predator Aramoun. Leen membuang pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan pemuda itu, sementara Aramoun masih memandang si gadis.
"Ow!" Afnan terkejut saat membuka pintu mobil bagian depan. Seharusnya ia duduk di samping Aramoun, tetapi gadis itu sudah mendahuluinya.
"Naik mobil sendiri saja," kata Aramoun.
"Ah, kita berangkat bersama saja!" tolak Afnan, memasuki mobil.
Aramoun memijit keningnya. Dua orang di sisinya membuatnya kesal. Mereka sengaja dipisah, tetapi Leen malah ikut bersamanya.
"Di saat seperti ini, seharusnya Alyan ikut juga," celetuk Afnan.
Aramoun semakin geram. Ia malas menjawab jika Leen bertanya.
"Alyan? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" Leen melempar pandangan ke arah Aramoun, mengintimidasinya.
Aramoun menoleh ke arahnya terdiam sambil terus menyetir.
Rumah-rumah yang dilewati rata-rata memiliki dua lantai menghadap ke jalan. Hampir sebagian besar tidak punya halaman. Mobil-mobil berbaris panjang terparkir di tepi jalan.
Pemandangan mulai mengagumkan setelah Laut Mediteranian mulai memamerkan pesonanya. Areal pejalan kaki ( Corniche ) tidak begitu ramai, karena ini bukan hari Ahad dan setiap harinya akan ramai pada saat matahari terbit atau menjelang terbenam. Pohon kurma berbaris rapih membelah ke dua jalan.
"Yah lad dahsyat!" Leen berdecak kagum.
Sejak di Lebanon, ini baru pertama kalinya ia menikmati pemandangan Laut. Kedatangannya dulu, tidak menikmati laut karena Aramoun yang terlambat menjemput. Saat bepergian bersama Aramoun yang terakhir kali, pria itu kembali membuatnya kesal di Souk Beirut.
"Kita akan ke toko dulu atau ke laut?" tanya Aramoun.
Leen senang sekali. Aramoun jadi tidak ingin membuatnya kecewa. Mereka memutuskan untuk singgah di Zaitunay Bay.
Zaitunay Bay adalah ruang publik di tepi Laut Mediteranian dengan berbagai fasilitas bertaraf internasional. Lebih dari tujuh belas restoran dengan teras menawan yang menghadap ombak mediteranian. Rata-rata makanan Prancis dan Itali yang disuguhkan. Berbagai festival sering diadakan di sini karena pemandangannya yang cantik dan memiliki ruang terbuka yang cukup luas.
Tidak ada mobil terparkir di areal ini. Jadi, jika kemari harus berjalan kaki. Banyak speedboat berjejer di tepi laut yang bisa di sewa. Pemandangan siang menawan dengan laut birunya. Malam pun menakjubkan dengan pelita-pelita yang bertebaran.
Mereka bertiga jalan beriringan. Langkah Leen kalah cepat membuatnya berkali-kali tertinggal.
"Berjalanlah di sampingku!" Aramoun menarik Leen yang semula berada di tengah.
Afnan juga pangeran jahil, ia sengaja berpindah di sisi Leen. Ia memahami kecemburuan Aramoun.
"Jangan jauh dariku!" Aramoun kembali menariknya ke pinggir, tidak di tengah lagi.
Aramoun masih jadi sasaran kejahilannya. Pemuda itu kembali mendekati Leen.
"Aku bilang jangan dekat-dekat dengan Afnan ...!" Aramoun kembali menyeretnya.
"Hah!" Leen menghentakkan kaki, kesal.
Bug!
Bug!
Mereka ber dua terkena amukan singa betina itu. Kini Leen berjalan sendiri di belakang, mengikuti mereka. Aramoun tampak emosional, sedangkan Afnan tertawa renyah berhasil menjahili mereka.
***
Masih ada lagi yang membuat Leen kesal. Gadis itu membeli bros berbentuk bulu merak untuk Nyonya Naili. Ia hanya membawa paper bag kecil saja. Tetapi mereka berebut ingin membawanya. Dan gara-gara mereka, ia harus merelakan bros itu jatuh ke Laut.
"Apa kalian belum pernah tersengat belut listrik ...!" gertak Leen. Kedua tangan gadis itu mengepal geram.
Seperti biasa, Afnan hanya terpingkal karena hal itu. Ia benar-benar menjadikan Aramoun yang mudah marah itu sebagai sasaran.
Kini mereka menaiki speedboat. Kendaraan laut itu mulai melaju kencang. "Menjauh dariku, bisa-bisa kalian menenggelamkanku di sini!" larang Leen saat mereka ber dua menuju ke arahnya.
"Justru aku ingin menjagamu," pinta Aramoun.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi aku hanya mau Aramoun," tukasnya.
Aramoun melenggang bangga melewati Afnan, sambil menegakkan kerah kemejanya.
Mereka berdua berfoto-foto menggunakan ponsel gadis itu. Afnan mulai gerah. Tiba-tiba ia menyalip di antara Leen dan Aramoun. Lalu tampak di layar ponsel Leen terdorong hampir jatuh ke laut.
"Leen ...!" panggil Aramoun.
Aramoun sempat meraihnya, ternyata ia tidak sanggup bertahan.
Biur ...!
Apa yang dikhawatirkan gadis itu terjadi.
0 Response to "Part 21 : Insiden speedboat"
Post a Comment