Part 20 : Syariat
Judul Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
Part 20
Adanya syariat itu untuk memudahkan dan menyelamatkan kita, bukan mendatangkan kesusahan.
🌠🌠🌠
Gadis itu melirik ke sekitar dengan penglihatan terbatas. Leher gadis itu tak dapat digerakkan. Ia sedikit berupaya melepas tangan yang menyekapnya. Seperti ada aliran listrik yang menjalar di tengkuknya sesaat. Sampai-sampai gadis itu sulit menelan ludah.
"Jangan tinggalkan aroma ini untuk siapa pun selain ...," bisik Aramoun, ragu meneruskan perkataannya. Ia melepas tangannya dari si gadis penyihir hati. Bahkan Aramoun tidak merelakan aroma flowery gadis Itu dihirup pria lain.
Aramoun menarik lengan Leen, meninggalkan ruang tamu karena beberapa langkah lagi Afnan dan ayahnya singgah di ruangan itu.
"Sudah kubilang wajahmu itu mendatangkan masalah!" Aramoun mulai cemas dengan kedatangan Afnan.
"Yang kau bilang mendatangkan masalah itu, banyak pria yang tertarik padaku. Begitu 'kan?" Leen tersenyum kecil. "Seharusnya kau gunakan kata itu, supaya aku merasa lebih baik. Lalu bagaimana denganmu?" Leen menggodanya. Sudut bibirnya terangkat menertawakannya.
"Jangan main-main, bukan 'kah kau hampir kehilangan segalanya, kemarin?" kilah Aramoun.
"Itu karena kau lebih memilih pergi daripada tinggal di sisiku!" tandas Leen.
"Aku ingin, kau bisa melindungi dirimu sendiri. Tidak selamanya aku akan ada bersamamu." Aramoun merendahkan nada bicaranya. Ada gelombang besar yang menerjang sanubarinya.
"Apa? Bagaimana dengan sengatan listrik di tengkukku, tadi? Apa itu bukan tanda kalau kau ingin bersamaku?" Leen merasa dipermainkan. Gadis itu membuat Aramoun mundur beberapa langkah karena pukulannya.
"Abaikan saja semuanya, kau tidak perlu mengingat apa pun tentangku." Aramoun masih enggan mengungkap siapa dirinya bagi gadis itu.
"Aku tidak bodoh Aramoun. Aku bisa merasakan apa yang ada di hatimu. Apa pun alasanmu, aku sudah mempelajarinya. Meskipun setelah ini kau memilih pergi." Leen menegakkan lehernya memburu tentara hati Aramoun.
Pria itu salah tingkah. Leen melepaskan anak panah tepat pada sasarannya. Entah Aramoun akan benar-benar pergi lagi atau bertahan di rumah itu. Ia masih mempelajari situasinya.
Aramoun mengekori gadis itu, menelusuri koridor hendak kembali ke kamarnya. Saat akan melewati ruang tamu Aramoun mencekal lengannya. Gadis itu menoleh melihat ke arah tangan yang mencekalnya lalu memperhatikan wajah pria itu.
"Baik Kak, Akan kukirim lewat email." Aramoun bicara dengan Zuhal melalui ponselnya.
Aramoun memperingatkan gadis itu.
"Kau dengar, ada suara di ruang tamu. Ayah mendatangkan seseorang pria kemari mungkin untuk mengajarimu. Sebaiknya kenakan niqobmu itu walaupun di dalam rumah. Mungkin kau akan bebas tanpa hijab hanya di dalam kamar saja," terang Aramoun. Pria itu mengedipkan salah satu tentara hatinya usai berbicara.
Leen mengangguk mantap meski masih merasa kesal padanya. "Siapa pria itu?"
Aramoun hanya meliriknya tajam. Mungkin ia bisa menyembunyikan Leen dari Afnan, lalu Afnan? bagaimana ia menyembunyikannya dari gadis itu.
"Tidak usah dijawab, kalau kau tidak suka. Aku akan mencari tahu sendiri," tukas Leen.
***
"Bi abi anta wa ummi, aku masih tidak percaya. Aku sudah menjadi salah satu pangeran di rumah ini. Paman Harun bilang 'ayah dan ibumu menyerahkan urusanmu padaku' sebelum mereka wafat." Afnan berleha-leha di atas kasur. Salah satu kakinya dilipat menopang kaki yang lain.
Ia banyak berbicara dengan Alyan sampai-sampai pria itu sudah mengganti posisi beberapa kali.
"Kau bilang ada seorang gadis? Aku belum melihatnya," tanya Afnan.
"Apa Aramoun tahu kau ada di sana?" Alyan balik bertanya.
"Dia bahkan sudah ada di sini saat aku datang ...," tandas Afnan.
"Kalau begitu, jangan macam-macam dengan gadis itu .... Dia tidak akan melepasnya." Alyan memperingatkan pria bermata biru itu.
"Jangan melarangku, nanti aku malah melanggarnya."
"Baiklah, itu urusan kalian. Ah, apa kau membawa kuncinya, tadi?"
"Aku titipkan pada resepsionisnya."
"Hah! Kalau begitu selamat menjadi pangeran baru di rumah itu. Aku masih banyak pekerjaan."
"Yalla bi syufak."
Afnan sekilas melihat Aramoun melintas di depan kamarnya. Ia membuntuti Pria itu tanpa suara. Aramoun jelas tahu tingkah sepupunya. Ia meraih kepala pria itu dan membelenggunya di bawah ketiak.
"Aramoun ... Afnan ..." panggil Tuan Harun.
Andai Tuan Harun tak memanggil mereka, tentu Aramoun masih ingin menyiksa pemuda itu. Aramoun melepas belenggunya. Mereka diminta berkumpul di ruang Tuan Harun.
Aramoun terkejut saat mendapati Leen sudah duduk di antara salah satu dari tiga kursi di depan meja Tuan Harun. Afnan yang sejak di Tripoli sudah penasaran pun, mulai memperhatikan sosok Leen.
"Mizah ..., ( Minggir ...,)" suruh Aramoun pada Leen yang semula duduk di tengah.
Aramoun mengambil alih tempat duduk Leen. Gadis itu berdecak sesaat, lalu duduk di sisi Aramoun. Ekor mata Afnan terus membidik Aramoun dan Leen. Wajah gadis itu tertutup rapat, kilauan hitam dari cahaya payet pada Abaya gadis itu memberi kesan kemuliaan pada pemakainya.
"Kalau kau ingin bertahan lama di sini ... jaga pandanganmu," ancam Aramoun tepat di daun telinga Afnan.
Pria itu bersikap tak acuh, bahkan menganggap ancaman Aramoun sebagai gurauan. Leen membuang pandangan ke arah jendela di belakang kursi Tuan Harun.
"Leen, kau tidak perlu kesulitan berhijab dari Afnan. Kau bisa membukanya," tutur Tuan Harun.
Aramoun menahan tangan gadis itu. Ia hampir menyingkap niqobnya. "Adanya syariat itu untuk memudah dan menyelamatkan kita, bukan mendatangkan kesusahan," ketus Aramoun.
Aramoun kembali diguncang. Bertanya berarti menentang. Ia tak ingin lagi perpisahan panjang. Lama atau tidak, bagi Aramoun perpisahan itu tetaplah melelahkan. Entah dirinya atau Afnan yang beruntung. Akan tetapi, Afnan di rasa lebih berpeluang.
Leen mengerutkan dahi heran. Afnan beruforia memperhatikan Leen yang hampir memperlihatkan pesonanya.
"Hm! Aramoun, kalau kau punya waktu yang lama di sini, Ayah minta kau yang membimbing mereka. Jika kau ingin segera kembali ...."
"Aku punya waktu lama di sini, Ayah." Jawaban Aramoun yang menyenangkan sang ayah bermuara pada cemburu.
Leen terkesiap, apa yang ia harapkan tewujud. Mata gadis itu berbinar.
"Ayah minta besok segera dimulai. Jangan sampai mereka terlambat membawa bekal. Kalian dengar, Leen? Afnan?"
"Labbaik, Ayah," sahut Leen.
Ada anak panah yang tiba-tiba melesat tepat sasaran lagi. Mengoyak bagian dada, menghentikan aliran darah yang berpacu dengan organ yang tidak lebih besar dari kepalan tangan.
Aramoun harus menyiapkan senjata lengkap, perisai yang lebih banyak, dan raga yang lebih kuat agar ia dapat menyingkirkan lawannya.
Sorotan kekaguman pria itu pada satu-satunya gadis di tengah mereka membangkitkan kekuatan baru untuk Aramoun, untuk bertahan demi Leen.
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
Part 20
Adanya syariat itu untuk memudahkan dan menyelamatkan kita, bukan mendatangkan kesusahan.
🌠🌠🌠
Gadis itu melirik ke sekitar dengan penglihatan terbatas. Leher gadis itu tak dapat digerakkan. Ia sedikit berupaya melepas tangan yang menyekapnya. Seperti ada aliran listrik yang menjalar di tengkuknya sesaat. Sampai-sampai gadis itu sulit menelan ludah.
"Jangan tinggalkan aroma ini untuk siapa pun selain ...," bisik Aramoun, ragu meneruskan perkataannya. Ia melepas tangannya dari si gadis penyihir hati. Bahkan Aramoun tidak merelakan aroma flowery gadis Itu dihirup pria lain.
Aramoun menarik lengan Leen, meninggalkan ruang tamu karena beberapa langkah lagi Afnan dan ayahnya singgah di ruangan itu.
"Sudah kubilang wajahmu itu mendatangkan masalah!" Aramoun mulai cemas dengan kedatangan Afnan.
"Yang kau bilang mendatangkan masalah itu, banyak pria yang tertarik padaku. Begitu 'kan?" Leen tersenyum kecil. "Seharusnya kau gunakan kata itu, supaya aku merasa lebih baik. Lalu bagaimana denganmu?" Leen menggodanya. Sudut bibirnya terangkat menertawakannya.
"Jangan main-main, bukan 'kah kau hampir kehilangan segalanya, kemarin?" kilah Aramoun.
"Itu karena kau lebih memilih pergi daripada tinggal di sisiku!" tandas Leen.
"Aku ingin, kau bisa melindungi dirimu sendiri. Tidak selamanya aku akan ada bersamamu." Aramoun merendahkan nada bicaranya. Ada gelombang besar yang menerjang sanubarinya.
"Apa? Bagaimana dengan sengatan listrik di tengkukku, tadi? Apa itu bukan tanda kalau kau ingin bersamaku?" Leen merasa dipermainkan. Gadis itu membuat Aramoun mundur beberapa langkah karena pukulannya.
"Abaikan saja semuanya, kau tidak perlu mengingat apa pun tentangku." Aramoun masih enggan mengungkap siapa dirinya bagi gadis itu.
"Aku tidak bodoh Aramoun. Aku bisa merasakan apa yang ada di hatimu. Apa pun alasanmu, aku sudah mempelajarinya. Meskipun setelah ini kau memilih pergi." Leen menegakkan lehernya memburu tentara hati Aramoun.
Pria itu salah tingkah. Leen melepaskan anak panah tepat pada sasarannya. Entah Aramoun akan benar-benar pergi lagi atau bertahan di rumah itu. Ia masih mempelajari situasinya.
Aramoun mengekori gadis itu, menelusuri koridor hendak kembali ke kamarnya. Saat akan melewati ruang tamu Aramoun mencekal lengannya. Gadis itu menoleh melihat ke arah tangan yang mencekalnya lalu memperhatikan wajah pria itu.
"Baik Kak, Akan kukirim lewat email." Aramoun bicara dengan Zuhal melalui ponselnya.
Aramoun memperingatkan gadis itu.
"Kau dengar, ada suara di ruang tamu. Ayah mendatangkan seseorang pria kemari mungkin untuk mengajarimu. Sebaiknya kenakan niqobmu itu walaupun di dalam rumah. Mungkin kau akan bebas tanpa hijab hanya di dalam kamar saja," terang Aramoun. Pria itu mengedipkan salah satu tentara hatinya usai berbicara.
Leen mengangguk mantap meski masih merasa kesal padanya. "Siapa pria itu?"
Aramoun hanya meliriknya tajam. Mungkin ia bisa menyembunyikan Leen dari Afnan, lalu Afnan? bagaimana ia menyembunyikannya dari gadis itu.
"Tidak usah dijawab, kalau kau tidak suka. Aku akan mencari tahu sendiri," tukas Leen.
***
"Bi abi anta wa ummi, aku masih tidak percaya. Aku sudah menjadi salah satu pangeran di rumah ini. Paman Harun bilang 'ayah dan ibumu menyerahkan urusanmu padaku' sebelum mereka wafat." Afnan berleha-leha di atas kasur. Salah satu kakinya dilipat menopang kaki yang lain.
Ia banyak berbicara dengan Alyan sampai-sampai pria itu sudah mengganti posisi beberapa kali.
"Kau bilang ada seorang gadis? Aku belum melihatnya," tanya Afnan.
"Apa Aramoun tahu kau ada di sana?" Alyan balik bertanya.
"Dia bahkan sudah ada di sini saat aku datang ...," tandas Afnan.
"Kalau begitu, jangan macam-macam dengan gadis itu .... Dia tidak akan melepasnya." Alyan memperingatkan pria bermata biru itu.
"Jangan melarangku, nanti aku malah melanggarnya."
"Baiklah, itu urusan kalian. Ah, apa kau membawa kuncinya, tadi?"
"Aku titipkan pada resepsionisnya."
"Hah! Kalau begitu selamat menjadi pangeran baru di rumah itu. Aku masih banyak pekerjaan."
"Yalla bi syufak."
Afnan sekilas melihat Aramoun melintas di depan kamarnya. Ia membuntuti Pria itu tanpa suara. Aramoun jelas tahu tingkah sepupunya. Ia meraih kepala pria itu dan membelenggunya di bawah ketiak.
"Aramoun ... Afnan ..." panggil Tuan Harun.
Andai Tuan Harun tak memanggil mereka, tentu Aramoun masih ingin menyiksa pemuda itu. Aramoun melepas belenggunya. Mereka diminta berkumpul di ruang Tuan Harun.
Aramoun terkejut saat mendapati Leen sudah duduk di antara salah satu dari tiga kursi di depan meja Tuan Harun. Afnan yang sejak di Tripoli sudah penasaran pun, mulai memperhatikan sosok Leen.
"Mizah ..., ( Minggir ...,)" suruh Aramoun pada Leen yang semula duduk di tengah.
Aramoun mengambil alih tempat duduk Leen. Gadis itu berdecak sesaat, lalu duduk di sisi Aramoun. Ekor mata Afnan terus membidik Aramoun dan Leen. Wajah gadis itu tertutup rapat, kilauan hitam dari cahaya payet pada Abaya gadis itu memberi kesan kemuliaan pada pemakainya.
"Kalau kau ingin bertahan lama di sini ... jaga pandanganmu," ancam Aramoun tepat di daun telinga Afnan.
Pria itu bersikap tak acuh, bahkan menganggap ancaman Aramoun sebagai gurauan. Leen membuang pandangan ke arah jendela di belakang kursi Tuan Harun.
"Leen, kau tidak perlu kesulitan berhijab dari Afnan. Kau bisa membukanya," tutur Tuan Harun.
Aramoun menahan tangan gadis itu. Ia hampir menyingkap niqobnya. "Adanya syariat itu untuk memudah dan menyelamatkan kita, bukan mendatangkan kesusahan," ketus Aramoun.
Aramoun kembali diguncang. Bertanya berarti menentang. Ia tak ingin lagi perpisahan panjang. Lama atau tidak, bagi Aramoun perpisahan itu tetaplah melelahkan. Entah dirinya atau Afnan yang beruntung. Akan tetapi, Afnan di rasa lebih berpeluang.
Leen mengerutkan dahi heran. Afnan beruforia memperhatikan Leen yang hampir memperlihatkan pesonanya.
"Hm! Aramoun, kalau kau punya waktu yang lama di sini, Ayah minta kau yang membimbing mereka. Jika kau ingin segera kembali ...."
"Aku punya waktu lama di sini, Ayah." Jawaban Aramoun yang menyenangkan sang ayah bermuara pada cemburu.
Leen terkesiap, apa yang ia harapkan tewujud. Mata gadis itu berbinar.
"Ayah minta besok segera dimulai. Jangan sampai mereka terlambat membawa bekal. Kalian dengar, Leen? Afnan?"
"Labbaik, Ayah," sahut Leen.
Ada anak panah yang tiba-tiba melesat tepat sasaran lagi. Mengoyak bagian dada, menghentikan aliran darah yang berpacu dengan organ yang tidak lebih besar dari kepalan tangan.
Aramoun harus menyiapkan senjata lengkap, perisai yang lebih banyak, dan raga yang lebih kuat agar ia dapat menyingkirkan lawannya.
Sorotan kekaguman pria itu pada satu-satunya gadis di tengah mereka membangkitkan kekuatan baru untuk Aramoun, untuk bertahan demi Leen.
0 Response to "Part 20 : Syariat"
Post a Comment