Part 3 : Tercengang

Phasmina Merah dari Aramoun
Part 3
Tercengang

Seribu kismis membungkam mulut pria yang mengenakan sweater navy dirangkap jas hitam itu, menatap ayahnya tanpa ampun. Tangannya mengepal geram. Sorotan pemuda itu terus mengikuti langkah Tuan Harun hingga menginjak balkon lantai dua.

"Di mana kamarku?"

Pertanyaan Leen melepas kepalan tangan Aramoun. Bulumata panjang, lebat, nan lentik itu menghias sorotan berbinar penuh tanya. Leen menangkap raut amarah Aramoun sebelumnya.

"Ah, sebaiknya, kau kenakan ini," kata Aramoun sambil melepas pegangan koper yang ia bawa. Tangannya merogoh paper bag berwarna jingga. Phasmina merah berbahan diamond membentang indah di udara. Untuk pertamakalinya gadis itu membiarkan senyumannya terekam di ingatan Aramoun.

"Seharusnya, kau tidak membiarkan security dan tukang kebunku melihat semuanya, tadi." Aramoun memakaikan sendiri phasmina yang ia beli beberapa hari yang lalu.

"Allahumma laa tahrimni jamiilaha." Aramoun, semakin terkesima. Bagaimana bisa ia mengingat amarahnya pada sang ayah saat ini.

"Asif anni hagah, aku tidak tahu, ternyata seseorang yang kau maksud ayah, adalah orang yang sama. Aku ...."
Wajah Leen kian gusar penuh penyesalan.

"Ssst!"

Telunjuk pria di hadapannya mendarat begitu saja menyentuh bibir Leen, menghalanginya berbicara lagi. Jantung gadis yang tak pernah tersentuh pria ajnabi itu mendadak meledak-ledak. Lehernya mengedik mundur karena sentuhan Aramoun nyata dan tiba-tiba.

***

"Yah Lad dahsyat! Ada apa ini? Biasanya hanya ada aku, Ibu, dan Ayah di sini?" Hampir saja si bungsu yang bernama Aramoun itu melompat di atas meja makan.

Sudah 2 bulan mereka tidak beramai-ramai seperti ini. Di saat semua berkumpul, Aramoun memang selalu memperlihatkan sisi bungsunya.

"Jika ini spesial untukmu, maka kami tidak akan di sini." Deehya, putra ke 5 Tuan Harun menjawab sekenanya dengan mimik malas.

"Hahaha!"

Aramoun terbahak bebas.

"Kakak-kakakku tersayang, aku merindukan kalian ...." Aramoun mengumbar kecupan tangannya ke udara.

Meja makan panjang dan dua belas kursi dengan ukiran klasik bernuansa putih, tempat berkumpul mereka saat ini. Kesembilan saudara laki-laki tersebut bersenggama layaknya masih kanak-kanak dulu. Mereka semua lahir hanya dalam kurung waktu 4  tahun. Bisa dibayangkan, beberapa di antara mereka usianya hanya berjarak bulan saja.

Mereka menunggu kedatangan Tuan Harun dan Nyonya Naili. Di belakang rumah, halaman dengan rerumputan hijau, meja dan kursi itu tertata. Aroma udara yang masih sejuk, hijau-hijauan yang membuat rileks, dan gemercik air dari kolam ikan dengan air terjun buatan, membuat lupa bahwa mereka akan kembali penat menghadapi pekerjaan di kantor. Mereka semua telah berkeluarga dan masing-masing menghadiahkan cucu pada Tuan Harun. Terkecuali Aramoun, ia masih sebatangkara.

Tuan Harun memiliki empat istri. Nyonya Naili adalah istri kedua. Istri pertama dan ketiga telah wafat. Aramoun, satu-satunya putra dari istri keempat. Entah badai apa yang menimpa, hingga Aramoun tak pernah tahu seperti apa wajah wanita yang melahirkannya ke dunia.

Wajah kaku ayahnya perlahan mengheningkan gelak tawa mereka yang masih melepas rindu. Begitu baiknya pendidikan yang diterapkan Tuan Harun pada putra-putranya, hingga mereka saling rukun dan menghargai satu sama lain.

Ayah mereka kini duduk di kursi utama layaknya raja yang bertahta. Nyonya Naili, wanita yang jelas kalah tinggi dengan sepuluh pria di sekitarnya, duduk mendampingi Tuan Harun. Hening, tidak ada yang memulai percakapan saat ini. Mereka diam penuh adab, kecuali putra bungsunya yang terlihat berleha-leha malas. Aramoun menopang dagu tidak mengacuhkan sang ayah.

"Kayfa tikum?"

"Alhamdulillah, bil iman wal islam," jawab putra-putranya serentak.

"Ayolah, Ayah. Ini bukan ruang sidang," ucap Aramoun santai.

"Kita tunggu satu orang lagi." Sorotan ayahnya kini meneduh.

Otot-otot menegang tadi mulai mengendor karena tidak ada adu tatapan antara sang ayah dengan Aramoun.

Tuan Harun punya peraturan unik untuk putra-putranya, yakni menikahkan mereka sejak belia.  Tunggu tanggal mainnya, mereka akan dipertemukan secara tiba-tiba dengan wanita pilihan sang ayah. Tentu saja menjalin hubungan pranikah menjadi hal paling anti di keluarga ini. Tuan Harun sangat ketat dalam urusan hijab, bahkan sampai saat ini, Aramoun tidak pernah tahu seperti apa wajah para kakak iparnya itu. Mereka semua tersimpan di balik cadar. Seperti sekarang, para wanita tidak duduk bersama di sini. Mereka punya ruangan tersendiri, kecuali Nyonya Naili dan satu orang lagi.

"Tafadholii, ya Habibati ...."  Nyonya Naili mempersilakan seorang gadis yang kini berada di tengah-tengah mereka.

Nyonya Naili melepaskan senyuman. Gadis itu tidak pernah hadir sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia mendapat tatapan dari banyak pria pada saat yang sama. Kepalanya menunduk hormat dengan menyungging senyum sesaat.

Gadis itu merasa sangat gugup, jari-jari kedua tangannya saling meremas, sampai-sampai ia ingin berlari dan kembali ke kamar. Semua nampak menyambut gembira pada gadis yang mengenakan abaya dengan payet hitam berkilau. Phasmina yang ia pakai masih memperlihatkan rambut gelombangnya.

Sebagian mereka tidak hanya fokus pada gadis itu, melainkan pada Aramoun juga. Si bungsu terperangah sejak Leen menampakkan diri, hingga gadis itu duduk di sisi Aramoun. Tirai bening di balik tatapan kekecewaan, kembali membuat tangannya mengepal. Leen tersenyum tipis menyapanya karena hanya Aramoun yang ia kenal, walaupun ia merasa gelisah dengan raut wajah pria di sisinya itu.

"Aku tidak lapar!"

Aramoun memejamkan kedua mata sesaat, mendorong kursi mundur, lalu bangkit dari duduknya.

Segala angan dan kerinduan yang tertahan sejak 3 tahun, inikah hasilnya? Ia dipertemukan dengan Leen, bahkan ia adalah orang pertama, lalu kenapa yang ia inginkan seperti kakak-kakaknya itu, tidak terjadi? Terlebih lagi, Tuan Harun mempertemukan Leen dengan semua saudaranya.

"Jadi, kita hanya saudara?" Pertanyaan hati, membuat sanubarinya meronta.

Aramoun meninggalkan sarapan yang baru akan dimulai. Sorotan bak pedang terhunus sesaat berkilat, menatap Tuan Harun sebelum beranjak. Ia pergi tanpa mempedulikan siapa pun, meski Leen mencekal lengannya.

"Apa dia habis melahap daging unta?" ucap Ukasyah, kakak sulung Aramoun, mengejek. Karena unta punya sifat pencemburu yang besar.

Leen menangkap sesuatu dari perkataan Ukasyah. "Mana mungkin karena posisi bungsunya tergantikan?" bisik Leen.

"Merci."

Lisan gadis itu berucap kata 'permisi' dalam bahasa Prancis, namun sudah menjadi bahasa harian di kalangan bangsa Arab, sambil menunduk hormat. Leen buru-buru mengejarnya.

Suasana hangat tadi mendadak hilang.  Sebagian saudara Aramoun bangkit dari duduk mereka, ingin mengejar. Namun, kode dari sang ayah menjadi lampu merah bagi mereka agar tetap di tempat.

***

Di bawah naungan pohon kurma. Pria berpostur tinggi dan kurus itu duduk di kursi kayu panjang. Jambang tipis dan sedikit unfuqoh menghiasi wajah murungnya. Kedua tangannya dilipat sembari menengadahkan pandangan ke langit, walaupun rangkaian awan-awan Beirut terasa mendung dan gelap.

Leen ingin mengetahui lebih dalam mengenai sikap-sikap Aramoun yang mendadak berubah, walaupun ia menempuhnya dengan tertatih.

"Leen! Buka pintunya!" Aramoun mengetuk pintu kamar gadis itu.

Tak butuh waktu lama gadis itu membukakan pintu untukknya. Leen sudah terlihat rapi dan segar. Eyeshadow tipis menghasilkan cahaya biru di kelopak matanya, dipertegas dengan celak hitam yang melingkar di garis mata. Karya seni di wajahnya semakin sempurna dengan lipstik berwarna orange dan rona kecokelatan di kedua pipi. Ada lesung pipi di balik senyuman gadis yang membuat tentara hati Aramoun enggan berkedip.

Si jahil Aramoun masih saja memanggil, padahal gadis itu jelas-jelas sudah berada di hadapannya.

"Sudah hentikan!" Leen mengulum senyum sambil mencubit perut Aramoun.

"Mana mungkin ini Leen? Leen yang kulihat kemarin tidak secantik ini," goda Aramoun.

Tidak tahan dengan gurauannya, Leen meninggalkan pria itu di ambang pintu. Aramoun tersenyum menertawakan gadis itu, lalu mengekorinya.

"Bagaimana dengan lukanya? Kau sudah mengganti perbannya?" Aramoun menyingkap rambut di dahi Leen.

Gadis itu membenahi kembali rambut seraya tersipu. Tidak ada lagi perban di dahinya, hanya saja bekas luka yang masih terlihat ia tutupi dengan rambut.

Baru saja, sebelum beranjak ke meja makan. Aramoun menunjukkan perhatiannya, bahkan pria itu menggoda, lalu ada apa dengan raut wajah yang Aramoun tunjukkan saat ia hadir di tengah-tengah keluarga, bahkan pria itu meninggalkannya di meja makan, tadi? Leen masih tidak mengerti. Gadis itu kini berdiri di belakangnya.

"Aku akan pergi sebelum banyak kenangan indah yang akan kualami di sini."

"Bukan kau yang harus pergi, tetapi apa yang ada di hatiku yang harus pergi," sahut Aramoun. Ia mengembuskan napasnya dengan kasar.

________________________________________

Allahumma laa tahrimni jamiilaha ( Ya Rabb, jangan haramkan kecantikannya dariku )

Asif anni hagah ( maafkan aku )

Yah Lad dahsyat! ( wow! )

Kayfa tikum? ( bagaimana kabar kalian? )

0 Response to "Part 3 : Tercengang "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel