Part 4 : Devinisi Cinta
Ilustrasi Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay
Phasmina Merah dari Aramoun
Judul : Devinisi Cinta
"Oleh karena itu, cinta Ayah tidak akan habis hanya karena membaginya dengan satu orang."
Menghadap sang ayah dan membahas sesuatu yang tidak diinginkan adalah hal terberat bagi Aramoun. Selalu ada perdebatan nantinya, kemudian keinginan Tuan Harun yang akan dijalankan. Seperti halnya saat ini. Ia melangkah rapuh, menuju ruang kerja Tuan Harun. Tangan pria itu menyentuh knop pintu, tetapi masih enggan memutarnya. Aramoun kembali mundur. Perasaan ragu mengetuk paksa pintu hati pemuda itu.
"Udkhul!" Mungkin ada getaran seperti aliran listrik hingga sang ayah seketika membukakan pintu untuknya.
Aramoun tak dapat berkutik. Ia memang butuh penjelasan. Wajahnya tertunduk di hadapan sang ayah, tak ingin memulai kata.
"Ma bala sya'nuk ya Walad?"
Aramoun tetap bungkam, memalingkan wajah dengan salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Apa Ayah ingin main teka-teki denganku?" batinnya.
"Kau mencintai Allah?"
"Tentu saja, Ayah."
"Mencintai Rosulullah?"
"Ya, Ayah."
"Ayahmu? Ibumu? Semua kakakmu?"
"Aku tidak mungkin, tidak mencintai kalian."
"Lalu apa cintamu akan habis?" Tuan Harun membrondongnya dengan peluru pertanyaan.
Aramoun menggeleng pelan. Kepalanya masih menunduk. Ruangan ini seperti ruang sidang, meja makan juga seperti ruang sidang bagi Aramoun.
"Karena itu, cinta Ayah tidak akan habis hanya karena membaginya dengan satu orang."
"Jadi, apa mau Ayah?"
"Terimalah kehadiran Leen."
"Aku tidak pernah mendengar devinisi cinta seperti yang Ayah katakan." Aramoun bangkit dari duduknya.
Belum ada penawar dari titik racun yang menyarang. Gadis yang ia damba bukan untuknya, bahkan senyuman gadis itu yang semula ia harap menjadi pereda dari segala konflik antara dirinya dengan sang ayah, malah menjadi racun mematikan yang harus disingkirkan. Ia akan bertemu? Akan menatapnya? Tak 'kan sanggup bila menyentuhnya tanpa rasa. Bagaimana dengan gadis itu? Apa dia tahu tentang ini?
"Inni ghoroma!" Teriakan hati Aramoun, meluapkan bahasa cinta bercampur amarah.
Seandainya rasa itu sebuah batu, maka ia rela melemparnya ke dasar lautan. Akan tetapi, rasa itu adalah berlian yang tidak akan ia biarkan jatuh, walaupun di sisi kakinya.
"Satu hal lagi," pinta Tuan Harun. Aramoun berbalik badan.
"Ajari Leen syariat Islam, pengetahuan agama gadis itu masih sangat minim."
Deg!
Sejenak pria itu memejamkan mata, kemudian mengangguk kaku. "Itu artinya aku akan bersamanya setiap hari, lalu bagaimana agar apa yang ada di hatiku ini bisa pergi?" Pertanyaan itu mengusik dirinya.
"Semua kakakmu telah berkeluarga, tentu saja hanya kau yang punya waktu lebih longgar."
"Bagaimana dengan tugasku di kantor?"
"Ayah akan menyerahkannya pada yang lain."
Ia bersedia datang, tetapi bukan kabar gembira yang ia dapatkan, malah membuat dugaannya semakin kuat bahwa Leen dan dirinya memiliki hubungan darah seperti kakak-kakaknya.
***
Kegembiraan yang ia rasa saat pertamakali bertemu Leen, terhempas angin kekecewaan. Meskipun malam ini begitu hening, tetapi hatinya sangat terusik.
"Rupanya, kami hanya saudara." Aramoun mencurahkan isi hatinya pada Alyan, lawan bicaranya saat ini.
"Mungkin, melupakannya sangat sulit. Jadi, mulailah mengisi hatimu dengan yang lain." Sentuhan hangat Alyan mendarat di pundak Aramoun.
"Kalau saja itu bisa, mungkin aku sudah mencintaimu sejak lama." Tatapannya lurus ke arah jendela. Ia menangkap bayangan di bola matanya, tetapi ia seolah tak melihat apa pun.
"Tidak, aku tidak menginginkan hal itu. Aku cukup menjadi kawan bicaramu saja." Alyan mengelak.
Korden di kamar tersebut menari tertiup angin malam. Alyan menutup jendela, mematikan lampu ruangan itu, lalu menghidupkan lampu table. Ia juga menyelimuti Aramoun dengan bedcover. Hal yang selalu ia lakukan jika Aramoun menginap di apartemen.
"Aku tidak ingin kau sakit. Jadi, istirahatlah!" Alyan berdiri di ambang pintu memegang knopnya.
"Yalla bi syufak." Itu yang Aramoun katakan sebelum Alyan menutup pintu.
***
Pondasi kebahagiaannya runtuh karena Leen tak mungkin jadi miliknya, bahkan hancur menjadi puing-puing yang tak dapat dibangun lagi. Membayangkan akan bertemu dengan gadis itu setiap hari, hanya akan membuat semua penyakitnya kambuh. Duri-duri di kepalanya saat ini adalah awal dari pertikaian antara mahabbah yang harus disingkirkan dan perintah sang ayah yang harus dipatuhi.
Pukul tujuh pagi. Aramoun sudah tiba di rumah putihnya, di mana sang ayah tetaplah raja bagi siapapun di rumah ini, termasuk di kerajaan bisnis property yang mereka miliki. Entah apa yang akan terjadi hari ini, ia teringat pesan Alyan sebelum meninggalkan apartemen.
"Sudahlah, nikmati saja. Hal terbaik saat ini adalah kau tidak kehilangan waktu bersamanya. Ingat, jangan memberi jarak di antara kalian karena kekesalanmu pada ayahmu. Gadis itu tidak tahu apa-apa."
Aroma misik senantiasa menyertai Aramoun. Ia nampak gagah dengan trench coat berwarna hitam. Mata pria itu menyapu ke arah sekitar, agar ia dapat mengatur teriakan detak jantungnya, saat Leen tiba-tiba muncul.
"Wah, ini menyenangkan. Aku pasti akan datang ke rumah kakak. Salam juga untuk kakak ipar." Sayup-sayup suara yang ia rindukan itu terdengar.
Masih sepagi ini, ia sudah menyaksikannya pemandangan yang membuat amarahnya berkobar. Ada kilatan api di matanya. Aramoun merapatkan diri ke dinding.
Salah satu kakaknya, putra ke 7 Tuan Harun yang kini bersama Leen, mengusap ubun-ubun gadis itu. Apalagi gadis yang di hadapannya tersenyum. Kelopak mata indahnya berbinar, setelah menerima hadiah dari Jareer. Mereka bercengkrama dan menyuarakan gelak tawa. Ada rona tersipu di wajah Leen, seraya menyingkap rambutnya ke belakang telinga, saat Jareer mengatakan sesuatu padanya. entah apa itu, Aramoun masih berusaha menyadap percakapan mereka.
Jareer tampak melambaikan tangan, kemudian Leen membalasnya.
***
"Berhenti memanggilku kakak! Aku tidak suka!" Halilintar menggelegar di hadapan Leen.
Gadis itu tergagap. Tirai bening di matanya menunjukkan hatinya terluka. Ia Mengangguk kaku, seraya Menahan napas. Bibirnya tak dapat berkata. Tatapan gadis itu memohon pada Aramoun agar ia tak dilukai lagi. Leen menyeka air mata.
Bak memiliki sembilan nyawa. Bukan sekadar tegar, gadis itu membalas halilintar tadi.
"Kau pikir, hanya kau yang bisa berubah? Aku tidak akan memanggilmu 'Kakak'. Aku juga tidak akan menatapmu dengan tatapan luka setiap kali kau bersikap seperti ini. Inagat! Mulutku akan lebih berbisa, jika kau melakukannya lagi."
Aramoun tak lagi berkacak pinggang sejak rambut Leen mengibas di udara dan melawannya.
"Apa yang kulakukan? Aku menerobos rambu-rambu yang dikatakan Alyan." Aramoun menyugar rambutnya frustrasi.
Kini mereka duduk berdampingan di meja makan. Hanya berempat. Mereka merapat di samping Nyonya Naili. Aramoun terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu sejak ia duduk di sisinya, meski Leen tidak mempedulikannya. Gadis itu cenderung memalingkan wajah, tak ingin melihat Aramoun.
"Aku tidak berselera, melihat cara makan seperti itu," kata Aramoun. Leen memasukkan makanan ke mulutnya dengan cepat dan dalam jumlah berlebihan.
"Saat seseorang membuatku marah, nafsu makanku jadi bertambah," sungut Leen sambil memandang sinis dengan sayuran yang menggantung di mulutnya.
"Kholli ma'ak." Aramoun menyodorkan piringnya.
"Isy dzih? Apa kau kira, satu piring bisa menebus kesalahanmu?" Kedua mata indah gadis itu membelalak.
Nyonya Naili menggeleng pelan menyaksikan perhelatan mereka berdua. Tuan Harun cukup menahan diri membiarkan mereka menyelesaikan semuanya sendiri.
"Hm!" Tuan Harun bersuara.
"Apa kami di sini untuk melihat kalian bertengkar?" tanya Nyonya Naili geram.
________________________________________
Inni ghoroma! : Sungguh aku mencinta!
Ma bala sya'nuk ya walad? : Apa yang terjadi padamu, wahai putraku?
Kholli ma'ak : Aku lepaskan ini untukmu
Isy dzih? : Apa ini?
Yalla bi syufak : Sampai jumpa

0 Response to "Part 4 : Devinisi Cinta"
Post a Comment