11.Terlanjur cinta


  •    11. Terlanjur Cinta

"Ya Rabb, ampuni aku. Aku terlambat mengakhirinya, hingga hatinya mulai mendzikirkan cinta."

🌠🌠🌠

Dekapan bersama Aramoun menyuburkan bunga-bunga cinta yang tumbuh di hati Leen. Ia menemukan kesejukan di pelukan pangeran impiannya. Bagaimana dengan pria itu? Aramoun semakin sulit membunuh perasaannya. Akan tetapi, setiap kali teringat mereka tak kan mungkin bersama, pemuda itu ingin menghilang secepat mungkin. Belum lagi gadis itu tidak apa-apa, bahwa perasaan itu akan membunuhnya, hingga Aramoun semakin terbebani. Entah bagaimana ia akan memberi pengertian pada Leen nantinya.

Gadis itu kini bersandar nyaman di bahu Aramoun di bawah naungan pohon kurma. Ia sedikit tenang setelah Aramoun tidak meninggalkan rumah saat ini. Mata sembab gadis itu membuatnya tertidur.

Nyonya Naili terharu melihat mereka dari ambang pintu rumah besar, berharap mereka berhenti bertikai. Nyonya Naili mengira Aramoun menolak keberadaan Leen di keluarganya.

Sudah pukul 10.00 malam. Mungkin gadis itu tidak ingin bangun lagi. Tangan kekar Aramoun menopang tubuh Leen.

"Ya Rabb, ampuni aku. Aku terlambat mengakhirinya, hingga hatinya mulai mendzikirkan cinta," batin Aramoun. Ia menatapnya dengan rasa bersalah. Mereka bak menceburkan diri ke danau, lalu tenggelam bersama. Mereka belum dapat menyelamatkan diri dari mahabbah yang tidak terasa indah itu.

Aramoun membaringkannya di ranjang, menatapnya nanar. Gadis itu dengan segala pesona yang dimilikinya, membuat  si pemuda harus menahan. Aramoun bergegas lari, khawatir jika kemelut di kepalanya membawa masalah pada Leen. Pintunya ditutup rapat.

Pemuda itu terduduk di anak tangga depan kamar Leen dengan peluh dan napas tak beraturan. Kepalanya menunduk, hampir putus asa.

***

"Aku hanya seorang wanita yang tidak kehabisan cinta untuk anak-anakmu. Bagaimana bisa kau membiarkannya pergi. Dia itu putramu, paling tidak, kau tanyakan sebabnya. Hibur dia dengan perhatianmu," tandas Nyonya Naili dengan air mata bercucuran.

"Biarkan saja, jika dia ingin seperti itu. Aku akan membuatnya kembali jika aku menginginkannya," tukas Tuan Harun, lalu meninggalkan kamar.

"Kau memang selalu berbuat sesuka hatimu!" teriak Nyonya Naili saat punggung suaminya masih terlihat.

Aramoun menikam Ayahnya dengan tatapan saat pria itu ke luar kamar. Pemuda itu mendapati ibu tirinya tengah terisak. Ia merangkul Nyonya Naili.

"Terima kasih atas pembelaan, Ibu. Terima kasih atas perhatian dan kasih sayang, Ibu. Leen benar, seharusnya aku bertahan demi Ibu. Tapi ada hal tidak bisa kukatakan. Jika Ayah tahu, maka bisa-bisa ia akan memenjarakanku. Aku mohon relakan aku bebas di luar sana, tanpa Ayah memenjarakanku. Semoga dengan sendirinya hatiku akan terpenjara," kata Aramoun panjang lebar.

Wanita di sisinya menangis keras. Aramoun membiarkan Nyonya Naili melepas belenggu di hatinya.

"Ibu punya sesuatu untukmu. Naili mengambil kotak di laci, " Ayahmu tidak membiarkan apa pun yang berhubungan dengan ibumu, ada di rumah ini. Bahkan, fotonya sekalipun. Semua sudah di bakar habis."

"Hentikan, Bu! Jangan sampai, Ibu celaka karena mengungkapnya padaku. Mungkin, Ibuku tidak peduli dan Allah memberiku seseorang sebagai gantinya. Yakni, kau, Bu ...," pinta Aramoun mengecup tangan Nyonya Naili.

"Ibu ingin, kepergianmu tidak sia-sia. Ini adalah topi yang dirajut oleh ibumu sendiri .... Aku yakin Ibumu akan mengenalinya." Aramoun menatapnya getir. Ia meraih benda yang diberikan Nyonya Naili.

Nyatanya, pria itu rapuh. Air matanya meleleh juga. Demi menghargai Nyonya Naili, ia menyimpannya.

"Lalu, darimana aku harus memulainya?"

"Tempat yang kau tuju nanti, sudah tepat untuk mencari keberadaannya. Bertanyalah dengan hati-hati pada Kakek Mahmud, di sana," jelas Nyonya Naili.

"Habibti ya Ummi, minni liki athyab tahiyya ( Aku mencintaimu, Ibu. Ini adalah penghormatan terbaik dariku )." Aramoun mengecup kening ibu tirinya.

Malam semakin larut. Aramoun tidak akan berlama-lama lagi untuk menggunakan kesempatan ini, agar Leen tidak menghalangi. Ia sudah mengeluarkan kopernya dari kamar.

Aramoun menatap kamar Leen agak lama. Ia membawa sesuatu di tangannya.
Pria itu menekan tombol kode kamar Leen. Gadisnya masih tertidur pulas. Diletakkannya Led rose yang terbuat dari sutra berlapis kristal di atas nakasnya.

"Jika aku memberi bucket bunga, maka akan mudah rusak. aku memilih ini agar bertahan lebih lama, bahkan abadi."

"Maaf, aku harus memberi jurang pemisah. Entah sampai kapan, tetapi aku harus segera mengakhirinya." Aramoun mengecup lembut ubun-ubun gadis itu.

"Gantilah kode kamarmu karena terlalu mudah. Jaga dirimu baik-baik." Aramoun menulisnya pada secarik kertas.

"Bi ouyounak illim hibbik ( dengan sorot matamu, kau menyatakan cinta ), itu sudah cukup membunuhku," gumam Aramoun.

Jejak kepedihan tertinggal di kamar gadis itu.

Hanya Nyonya Naili yang mengantar kepergian Aramoun. Ibu tirinya itu menggandeng lengannya hingga memasuki mobil. Aramoun sesekali menoleh ke arah pintu berharap ayahnya memberi perhatian atau menunjukkan rasa kehilangan, seperti Nyonya Naili.
Sementara, Leen? Bagi Aramoun ini merupakan waktu yang sangat tepat.

"Ya Walad!" seru sang ayah dari pintu utama.

Aramoun hampir saja menyalakan mesin mobilnya. Pria itu turun lalu menghampiri sang ayah. Belum pernah terjadi, sang ayah menawarkan pelukan hangat.

"Jaga dirimu baik-baik. Jangan melanggar norma-norma yang sudah Ayah tanamkan padamu." Terutama tentang batasan pria dan wanita, maksud Tuan Harun.

Mata pria berusia 28 tahun itu memerah menahan air mata. Sang ayah menepuk bahu putra bungsunya. Seolah memberi penghargaan. Nyonya Naili mengeluarkan air mata dingin, pertanda bahagia. Aramoun tampak berseri di hadapan sang ayah, meski duri-duri menyayat hati harus berpisah dengan cintanya.

"Ya qomar, sahrana lil gholiy ( wahai rembulan bersinarlah terus untuk seseorang yang sangat berharga bagiku )," bisik Aramoun seraya menatap rembulan.

Mobil Aramoun melaju meninggalkan jeritan hatinya untuk Leen.

***

Sarapan pagi kali ini hanya ber tiga. Saat Leen mulai menggigit kefta, ia memperhatikan Ada yang berbeda dari raut wajah Nyonya Naili, tatapannya terlihat sendu.

"Apa ... Aramoun belum bangun?" selidik Leen.

"Nak, apa Aramoun ...?" Nyonya Naili terheran Leen tidak tahu kepergian pemuda itu.

"Ayah, Ibu, aku permisi dulu."

Gadis itu berlari meninggalkan sarapannya.

0 Response to "11.Terlanjur cinta"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel