Part 14 : Ingin Kembali

Judul       Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh         Halwa M
Genre.      Religi-Romance
Part          14

Aku mencarimu ke mana-mana, bahkan ke rumah kura-kura sekali pun.

🌠🌠🌠

Ada amarah yang disimpan saat Alyan sedikit membongkar tentang keberadaan  gadis penyihir hatinya. Ia baru datang, bahkan sama sekali belum beristirahat. Akan tetapi, mengapa bayangan gadis itu malah semakin nyata? Aramoun merasa dihujat oleh keadaan agar tidak melepas Leen, karena gurauan saudaranya.

"Hah, tidak ada yang bisa kau kerjakan di sini!" Afnan melempar bantal ke arah Aramoun. Ia duduk di ranjang sepupunya.

"Aku belum menghabiskan uang ayahku!" balas Aramoun. Pria itu menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover.

Afnan seorang penyuka warna mencolok. Ia sering kali memadukan kemeja berlengan tanggung dan celana chino. Pria ini juga penggila fashion, terbukti dirinya membuka toko beretalase yang khusus menyediakan pakaian pria.

"Mau ikut ke tokoku atau mau berpacaran di kandang kuda?!" teriak Afnan menggoda.

"Aku mau pakai rok saja!" timpal Aramoun dengan istilah dari Nenek Fatimah untuk pria yang bermalas-malasan.

Afnan masih rindu pada saudaranya. Ia ingin bercengkrama atau sekadar bertanya-tanya tentang gadis yang dikatakan Alyan tadi. Tentu saja hal itu malah membuat pria itu beralasan. Tidak terdengar sahutan lagi dari Aramoun.

"Biarkan dia beristirahat dulu!" pinta Kakek Mahmud.

"Arif ya albi ...." Ponselnya berbunyi di atas meja makan.

Afnan melirik jam dinding rumah. Hampir jam 09.00. Pria itu harus segera membuka tokonya. Entah mengapa Aramoun tak kunjung mengangkat ponselnya.

"Aramoun ... ada yang menghubungimu!"

Aramoun masih mengabaikan seruan  saudaranya. Mungkin ada sesuatu yang sangat penting, hingga orang yang menghubunginya tidak menyerah. Afnan mengangkat terlebih dahulu lalu akan memberikan pada si empunya.

"A-- Aramoun, akhirnya kau mengangkatnya juga. Bukan 'kah aku lebih pintar darimu? Begini, apa yang sedang kau hadapi aku bersedia menghadapinya bersama. Jadi, jangan biarkan aku sendiri seperti ini.

Aramoun, kau tahu? Aku mendatangi kantor hanya untuk mencarimu. Aku juga ke apartemenmu, tetapi kau tidak ada. Aku mencarimu ke mana-mana, bahkan ke rumah kura-kura sekali pun. Setidaknya kau tentukan waktunya, sampai kapan kau akan seperti ini? Aramoun ... Aramoun ... katakan sesuatu atau?"  Afnan tertegun mendengarnya. Aramoun meraih ponsel dari Afnan. "Atau jangan salahkan siapa pun jika aku tidak di sini lagi!"

Tut ... tut ... tut ....

Aramoun memutusnya terlebih dahulu. ekor matanya memburu Afnan yang tertegun sejak tadi, karena mendahuluinya.

"Aku heran, mengapa ada wanita yang rela ditimpa masalah, tetapi malah kau abaikan?" tegur Afnan.

Suara Leen membuatnya tidak tahan ingin kembali. Belum lagi ancaman gadis itu sudah yang kedua kalinya.Terdengar bicara gadis itu bercampur tangisan. Bagaimana ia dapat bernikmat dengan cinta, sedangkan merindukannya saja menyakitkan? Afnan meninggalkan Aramoun dengan pikiran kacau, tatapan kosong, dan mata sedikit berair.

Afnan mengklakson mobilnya tiga kali. Datanglah Alyan tergopoh lalu masuk ke mobil pria itu. Gadis itu menceritakan sekelumit masalah.

"Kau lihat pria yang datang bersamaku kemarin?" tanya Alyan.

Afnan berusaha mengingat, jari telunjuk pria itu mengetuk dahi. "Kenapa? Aku lihat dia bersama Kak Shima, semalam."
Afnan menajamkan tatapannya, sambil menyetir.

"Sudah yang ke tiga kali dia mengekoriku sampai di sini," tandas Alyan. "Dia selalu datang dan pergi hanya untuk menggodaku di rumah sakit. Namun, Aku memergokinya melamar Kak Shima semalam ...." Tangan Alyan melingkar di lengan Afnan lalu menyandarkan kepala di bahu pria itu.

"Apa sebelumnya kalian menjalin hubungan?" Afnan selalu mengiringi perkataannya dengan gelak tawa. Bibir gadis itu mengerucut, melepas lengan pria itu.

"Aku hanya membiarkan orang itu mengekori saja!" tukas Alyan kesal, seraya memainkan liontin di lehernya.

"Lantas, kau menyesal? Itu salahmu sendiri. Relakan saja dia bersama Kak Shima. Kasihan, dia sudah lama menjanda," saran Afnan.

Gadis itu mengangkat lehernya, berhenti terisak. Alyan selalu bersikap dewasa menghadapi Aramoun. Berbeda jika ia di sisi Afnan, Maka wanita itu akan bermanja-manja layaknya anak kecil.

"Lagi pula, kau tidak kehabisan stok pria, seperti laki-laki di sampingmu ini ...." Afnan kembali tertawa, sambil menaikkan salah satu alisnya, menawarkan diri.

"Aku sudah bosan sejak kecil bersamamu!" tolak Alyan sambil bergidik ngeri.

Pria di sisi Alyan itu tidak pernah kehabisan stok tawa. "Bukan 'kah kita sudah menikah sejak usia 7 tahun?" Afnan hanya mengingat saat bermain bersamanya dulu.

"Hidupmu tidak pernah serius. Aku merasa kau sedang menghinaku saat ini," balas Alyan, melipat kedua tangannya.

Seenaknya saja pria itu menertawakannya, sambil menggoda.

"Kapan kau akan kembali ke Beirut?"

"Sore Ini."

"Apa dengan laki-laki itu?"

Alyan menggeleng. "Dia masih menginap di hotel. Dia bilang ingin secepatnya mengurus pernikahan mereka." Alyan menunduk dengan wajah murung. Matanya sesekali mengerjap.

Mobil yang mereka kendarai menepi.
Afnan mengelus punggung tangan gadis itu, agar lebih tegar.

"Jangan sampai Kak Shima melihat wajah murungmu ini. Nanti, makan siang biar aku traktir. Afnan mengusap ubun gadis itu sambil tersenyum. Alyan mengangguk pelan.

Hukum mengenai batasan siapa saja orang-orang yang bukan mahrom, bisa dibilang hanya beberapa gelintir orang saja yang tahu. Jangankan batasan mengenai antara pria dan wanita, berpakaian menurut syariat saja masih banyak yang belum mengerjakan. Begitu banyaknya wanita muslimah yang belum berhijab, hingga terlihat biasa saja. Padahal, tidak menutup aurat juga suatu dosa.

Menutup aurat bukan sekadar ketika di bepergian ke luar rumah saja, sehingga kalau kita ke rumah tetangga sebelah pun harusnya berhijab. Apalagi, jika dalam satu rumah dihuni beberapa keluarga, tentu kita harus berhijab walaupun di dalam rumah. Karena ipar, sepupu, bukan 'lah mahrom. Bahkan Nabi bersabda bahwa ipar adalah maut. Karena ipar seperti kakak, tetapi orang lain. Ipar seperti adik, tapi nyatanya dia dilahirkan bukan dari ayah dan ibu yang sama, begitu juga sepupu.

Jadi, bagi yang berhijab dengan jilbab atau kerudung maka kenakanlah walaupun di dalam rumah, jika ada orang yang bukan mahrom. Bagi yang mengenakan cadar atau pun niqob juga demikian.

Tuan Harun telah menerapkan hal penting ini pada putra-putranya, sehingga wanita mana pun yang dibiarkan bertemu putranya, bisa jadi istrinya atau seseorang yang mahrom dengan sang putra.

Berteman deburan ombak mediteranian, Aramoun ingin menyingkirkan duri-duri di kepalanya. Ia terduduk beralaskan pasir pantai seorang diri. Mungkin besok dia mulai membantu Kak Zuhal mengurus perusahaan cabang yang ada di Tripoli.

Pria itu duduk berihtiba' ( duduk sambil memeluk lututnya ), lalu tiba-tiba saja Aramoun terperanjat, seolah melihat gulungan ombak besar di hadapannya karena sesuatu yang ia ingat.

"Ya Rabb, dulu ayah yang merekomendasikan Alyan untuk menjadi dokter pribadiku," gumam Aramoun. Ia masih terperangah mengingat hal itu. "Tapi ... Aku pikir, itu karena darurat!" pria itu menyugar rambutnya, masih tidak percaya. Ia meraup wajahnya beberapa kali.

Catatan

Mahrom, di negara kita biasanya lebih familiar muhrim. Namun, sebetulnya itu penggunaaan kata yang salah. Muhrim berarti orang yang ihrom ( orang yang  haji atau umroh ). Maka yang benar adalah mahrom ( seseorang yang tidak boleh dinikahi ). Bagi seorang wanita mahromnya yaitu, ayah, saudara laki-laki sekandung atau yang seibu dan seayah, paman kandung baik dari pihak ibu atau pihak ayah, kakek misalnya.

0 Response to "Part 14 : Ingin Kembali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel