Part 15 : Pria masa lalu
Silakan krisannya kakak, belum diedit buru-buru.
Judul Phasmina Merah Dari Aramoun
#PMDA
Part 15
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
https://m.facebook.com/groups/291426671038978?view=permalink&id=1493413610840272
Godaan tak berhenti menghalangi seseorang yang hendak memperbaiki diri. Teruslah dalam perbaikan karena rahmat Allah sebentar lagi datang.
🌠🌠🌠
Hingga malam semakin larut, Aramoun masih berkeliaran. Entah bayangan Leen atau bayangan Alyan yang membawanya bergentayangan. Kakek Mahmud juga resah, setelah mendengar sesuatu dari Afnan.
"Ya Rabb, dia sedang dalam masalah." Kakek Mahmud risau.
"Seperti yang Alyan katakan, Kek." Mata Afnan membelalak meyakinkan Kakek Mahmud.
Aramoun kecil hingga remaja tak pernah menghilang. Kebiasaan tidurnya menguntungkan. Alyan menceritakan penyakit yang bersarang di tubuh Aramoun pada Afnan hingga membuat ke dua pria di rumah ini menjadi khawatir. Menghubunginya lewat jaringan seluler seperti tak ada gunanya.
Terdengar suara mesin mobil yang dimatikan, Afnan beranjak dari Kakek Mahmud dengan cepat.
"Huf! Bravo alaik! ( keberuntungan kau! ) aku khawatir kau pulang tinggal nama," celoteh Afnan.
"Apa yang kau lakukan di luar sana?" tanya Kakek Mahmud.
"Aku berniat sholat hajat seratus rokaat, Kek. Ternyata tidak semudah itu. Baru dua puluh rokaat, aku seperti dihadang seribu pasukan bersenjata lengkap," jawab Aramoun panjang lebar.
"Memang, jika kita tidak punya target seperti itu, kapan kita punya prestasi amal yang gemilang di hadapan Allah. Teruskan saja targetmu itu, Nak."
"Apa? Seratus rokaat?" Afnan membungkam mulut, "memang apa yang kau minta?" tanya Afnan penasaran.
"Aku minta agar aku dianugerahi cinta yang sangat besar untuk seseorang yang seharusnya jadi milikku," jawab Aramoun serius melirik mereka berdua satu per satu. Seharusnya Aramoun bertaubat dari mencintai Leen.
"Amalan yang kita kerjakan sekarang bisa menjadi benteng dari kemaksiatan, maka buatlah sebanyak mungkin. Godaan tak berhenti menghalangi seseorang yang hendak memperbaiki diri. Teruslah dalam perbaikan karena rahmat Allah sebentar lagi datang."
Afnan menghilang sebentar. Dalam hitungan menit ia kembali dengan tiga cangkir karkadeh.
"Yalla, akan kusediakan mimbar dan sound sistem, nanti Kek ...," gurau Afnan mendengar ceramah sang kakek.
"Anak sholeh! Kapan kau akan mengurangi tawamu itu?!" hardik Kakek Mahmud.
Afnan terbahak, menyepelekan nasihat si kakek.
Pria-pria di rumah ini tidak pernah memasak. Sejak satu tahun terakhir, kakak dari Alyan yang menghidangkan makanan untuk mereka. Entahlah, ia dari saudara yang mana lagi. Yang jelas mereka masih satu nenek moyang.
Malam ini masih ada rembulan, walaupun bulatannya tidak sempurna lagi. Ia hanya menyampaikan salam dari Leen, bahwa gadis itu tetap menunggunya. Mungkin gadis penyihir hatinya itu kecewa hingga tak ada lagi panggilan masuk di ponselnya atau sekadar pesan chat, tetapi ia harus tega.
Pria itu tak bisa tenang. Saat ia tidur terlentang, ia akan melihat senyumannya. Ia mencoba berbaring, Aramoun melihat bayang-bayang nyata gadis itu berlinangan air mata. Pria itu pun tengkurap, ia malah teringat pelukan hangat gadis itu saat memohon.
"Kau jadi sangat berharga. Kau jadi sangat berharga. Kau jadi sangat berharga."
"Tidak ...!" pekik Aramoun. Pria itu mengacak rambutnya.
Ia menyelimuti diri dengan bed cover, lalu ke luar kamar. Apa tempat perapian yang masih klasik dengan cekungan di dinding ruang tamu. Sudah ada tumpukan kayu di dalamnya dan sebuah korek. Di ruang ini tidak ada sofa. Hanya ada meja pendek dan lima buah bantal sebagai alas duduk di atas hamparan karpet merah khas maroko. Aramoun menyalakan api sebagai obat imsomnianya.
Sementara itu, Leen di Beirut sana terduduk di bawah sisi ranjang berselimut kain bohemian dengan led rose di tangan. Ia meletakkan dagu di atas lututnya. Sinar redupnya menghangatkan suasana kamar gadis itu.
Mereka berdua seperti majnun yang kehilangan kantuk atau pun lelah karena merindukan kekasihnya. Mungkin teman bicaranya saat ini adalah penghuni led rose itu.
"Aramoun, apa kau di sana?" Leen menghadapkan led rose itu di wajahnya, sambil melihat isi di dalam kristal bercahaya tersebut. "Seharusnya aku menyadari kalau kau terkurung di sini!" Leen menggosok-gosok led rose, seperti Aladin mengundang jinnya. "Hah ... Aku hampir gila," gerutu gadis itu seraya melempar led rosenya ke kasur.
Ada suara kecil yang cukup mengganggu di depan kamarnya. Leen terkesiap, memburu tatapan ke arah pintu. Pendengarannya ditajamkan, bukan suara manusia.
"Apa ...?" Gadis itu bertanya-tanya.
Ia melangkah tanpa suara, mulutnya dikunci rapat mendekati pintu. Leen melihat sosok pria bertubuh besar, berpakaian serba hitam dengan topeng trasparan menyamarkan wajahnya, dari lubang pintu. Nampaknya pria tadi sedang menekan tombol, berupaya membuka pintu kamar itu.
"Itu bukan Aramoun!" gumam gadis itu.
Leen membungkam mulutnya sendiri. Tubuhnya mulai kehilangan kekuatan, ia begitu gemetar. Matanya sedikit berair. Gadis itu berjalan bersandarkan dinding, lalu berpindah sambil berpegangan pada meja atau benda apapun seperti seseorang yang lumpuh.
Ia menyingkap bed cover, meraba nakasnya, lalu mengeledah laci dan lemarinya untuk mencari ponsel guna meminta bantuan. Entah di mana ponsel itu bersambunyi. Suara-suara itu belum juga hilang. Bahkan, knop pintunya bergerak-gerak. Gadis itu berlarian lalu terjatuh. Leen berusaha bangkit tetapi dia tidak berdaya. Knop pintunya masih bergerak-gerak. Ia tak sanggup berdiri, hingga gadis itu menyeret tubuhnya sendiri hendak bersembunyi di dalam kamar mandi.
"Ya Rabb selamatkan aku ...." Doanya dihiasi tangisan memilukan. Bahkan gadis itu sudah menelan air matanya sendiri.
***
"Ah, ya Rabb ... Aku pikir hanya aku yang tidak bisa tidur." Afnan tiba-tiba muncul.
"Memang, apa yang mengganggumu?"
"Seharian ini aku belum melihat bayangan di dalam benda hitam ini." Afnan mendekap laptop miliknya.
Aramoun menyungging senyum, menertawakannya.
"Sayang sekali, itu hanya bayangan ...," ejek Aramoun meneriaki telinga pemuda itu. Aramoun masih berkutat pada api unggunnya agar tetap hidup. "Seharusnya kau menyimpannya di ponsel saja!" tandar.
"Ponsel itu layarnya kecil, aku tidak akan puas melihatnya ...," kilah Afnan.
Afnan duduk bersila di sisinya. Ia segera membuka benda itu, ingin sekali memamerkannya sosok wanita tadi pada Aramoun. Sepupunya itu menipiskan bibir, menggeleng malas.
Afnan menyikut lengan saudaranya. Aramoun terkesiap. Ia bergantian melihat senyum sumringah Afnan dan senyum gadis dengan mini dress berwana putih bergaris rainbow yang muncul di layar laptopnya. Wajahnya natural tanpa polesan.
"Pasti gadis di rumahmu tidak ada apa-apanya dengan gadis ini," ejek Afnan menertawakan.
Hampir saja Aramoun menutup layar laptop itu, tapi ia menahannya. Khawatir jika Afnan bertanya-bertanya. Seluruh organ tubuh Aramoun nyaris tidak berfungsi. Bagaimana tidak? Ia tahu persis bagaimana tarian langkahnya yang menggoda, senyuman malu-malu dari wajah polosnya, amarahnya yang tetap memikat dan masih banyak lagi tentang dirinya yang ia tahu.
Aramoun membuang pandangannya. Matanya mengerjap seolah tak percaya. Ia mengembus napas, membuang beban di dadanya.
"Sudah sebulan ini, sepertinya semua akun pribadinya dihapus. Untung saja aku sudah menyimpan beberapa gambarnya." Afnan mengklik gambar berbeda dengan wanita yang sama.
"Kau berkenalan dengannya di media sosial?" selidik Aramoun dengan wajah menegang.
"Tentu saja, dia berasal dari Yordan. Kau tahu? Semua temannya wanita. Aku satu-satunya pria yang dikonfirmasi olehnya. Bukan 'kah itu istimewa?" soraknya.
Aramoun tersenyum sinis, "Hah! Kau tidak tahu, ada seorang pria yang sudah dipeluk olehnya," ejek Aramoun dengan kilatan api di matanya.
Afnan mengernyitkan dahi, heran. Tak lupa pria itu menyuarakan gelak tawa.
"Ah, ya Rabb, sudah ada panggilan tidak terjawab sebanyak lima kali!" Afnan terkejut, panggilan itu sejak ba'da isya' tadi di ponselnya.
"Siapa?"
"Ayahmu," bisik Afnan.
Judul Phasmina Merah Dari Aramoun
#PMDA
Part 15
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
https://m.facebook.com/groups/291426671038978?view=permalink&id=1493413610840272
Godaan tak berhenti menghalangi seseorang yang hendak memperbaiki diri. Teruslah dalam perbaikan karena rahmat Allah sebentar lagi datang.
🌠🌠🌠
Hingga malam semakin larut, Aramoun masih berkeliaran. Entah bayangan Leen atau bayangan Alyan yang membawanya bergentayangan. Kakek Mahmud juga resah, setelah mendengar sesuatu dari Afnan.
"Ya Rabb, dia sedang dalam masalah." Kakek Mahmud risau.
"Seperti yang Alyan katakan, Kek." Mata Afnan membelalak meyakinkan Kakek Mahmud.
Aramoun kecil hingga remaja tak pernah menghilang. Kebiasaan tidurnya menguntungkan. Alyan menceritakan penyakit yang bersarang di tubuh Aramoun pada Afnan hingga membuat ke dua pria di rumah ini menjadi khawatir. Menghubunginya lewat jaringan seluler seperti tak ada gunanya.
Terdengar suara mesin mobil yang dimatikan, Afnan beranjak dari Kakek Mahmud dengan cepat.
"Huf! Bravo alaik! ( keberuntungan kau! ) aku khawatir kau pulang tinggal nama," celoteh Afnan.
"Apa yang kau lakukan di luar sana?" tanya Kakek Mahmud.
"Aku berniat sholat hajat seratus rokaat, Kek. Ternyata tidak semudah itu. Baru dua puluh rokaat, aku seperti dihadang seribu pasukan bersenjata lengkap," jawab Aramoun panjang lebar.
"Memang, jika kita tidak punya target seperti itu, kapan kita punya prestasi amal yang gemilang di hadapan Allah. Teruskan saja targetmu itu, Nak."
"Apa? Seratus rokaat?" Afnan membungkam mulut, "memang apa yang kau minta?" tanya Afnan penasaran.
"Aku minta agar aku dianugerahi cinta yang sangat besar untuk seseorang yang seharusnya jadi milikku," jawab Aramoun serius melirik mereka berdua satu per satu. Seharusnya Aramoun bertaubat dari mencintai Leen.
"Amalan yang kita kerjakan sekarang bisa menjadi benteng dari kemaksiatan, maka buatlah sebanyak mungkin. Godaan tak berhenti menghalangi seseorang yang hendak memperbaiki diri. Teruslah dalam perbaikan karena rahmat Allah sebentar lagi datang."
Afnan menghilang sebentar. Dalam hitungan menit ia kembali dengan tiga cangkir karkadeh.
"Yalla, akan kusediakan mimbar dan sound sistem, nanti Kek ...," gurau Afnan mendengar ceramah sang kakek.
"Anak sholeh! Kapan kau akan mengurangi tawamu itu?!" hardik Kakek Mahmud.
Afnan terbahak, menyepelekan nasihat si kakek.
Pria-pria di rumah ini tidak pernah memasak. Sejak satu tahun terakhir, kakak dari Alyan yang menghidangkan makanan untuk mereka. Entahlah, ia dari saudara yang mana lagi. Yang jelas mereka masih satu nenek moyang.
Malam ini masih ada rembulan, walaupun bulatannya tidak sempurna lagi. Ia hanya menyampaikan salam dari Leen, bahwa gadis itu tetap menunggunya. Mungkin gadis penyihir hatinya itu kecewa hingga tak ada lagi panggilan masuk di ponselnya atau sekadar pesan chat, tetapi ia harus tega.
Pria itu tak bisa tenang. Saat ia tidur terlentang, ia akan melihat senyumannya. Ia mencoba berbaring, Aramoun melihat bayang-bayang nyata gadis itu berlinangan air mata. Pria itu pun tengkurap, ia malah teringat pelukan hangat gadis itu saat memohon.
"Kau jadi sangat berharga. Kau jadi sangat berharga. Kau jadi sangat berharga."
"Tidak ...!" pekik Aramoun. Pria itu mengacak rambutnya.
Ia menyelimuti diri dengan bed cover, lalu ke luar kamar. Apa tempat perapian yang masih klasik dengan cekungan di dinding ruang tamu. Sudah ada tumpukan kayu di dalamnya dan sebuah korek. Di ruang ini tidak ada sofa. Hanya ada meja pendek dan lima buah bantal sebagai alas duduk di atas hamparan karpet merah khas maroko. Aramoun menyalakan api sebagai obat imsomnianya.
Sementara itu, Leen di Beirut sana terduduk di bawah sisi ranjang berselimut kain bohemian dengan led rose di tangan. Ia meletakkan dagu di atas lututnya. Sinar redupnya menghangatkan suasana kamar gadis itu.
Mereka berdua seperti majnun yang kehilangan kantuk atau pun lelah karena merindukan kekasihnya. Mungkin teman bicaranya saat ini adalah penghuni led rose itu.
"Aramoun, apa kau di sana?" Leen menghadapkan led rose itu di wajahnya, sambil melihat isi di dalam kristal bercahaya tersebut. "Seharusnya aku menyadari kalau kau terkurung di sini!" Leen menggosok-gosok led rose, seperti Aladin mengundang jinnya. "Hah ... Aku hampir gila," gerutu gadis itu seraya melempar led rosenya ke kasur.
Ada suara kecil yang cukup mengganggu di depan kamarnya. Leen terkesiap, memburu tatapan ke arah pintu. Pendengarannya ditajamkan, bukan suara manusia.
"Apa ...?" Gadis itu bertanya-tanya.
Ia melangkah tanpa suara, mulutnya dikunci rapat mendekati pintu. Leen melihat sosok pria bertubuh besar, berpakaian serba hitam dengan topeng trasparan menyamarkan wajahnya, dari lubang pintu. Nampaknya pria tadi sedang menekan tombol, berupaya membuka pintu kamar itu.
"Itu bukan Aramoun!" gumam gadis itu.
Leen membungkam mulutnya sendiri. Tubuhnya mulai kehilangan kekuatan, ia begitu gemetar. Matanya sedikit berair. Gadis itu berjalan bersandarkan dinding, lalu berpindah sambil berpegangan pada meja atau benda apapun seperti seseorang yang lumpuh.
Ia menyingkap bed cover, meraba nakasnya, lalu mengeledah laci dan lemarinya untuk mencari ponsel guna meminta bantuan. Entah di mana ponsel itu bersambunyi. Suara-suara itu belum juga hilang. Bahkan, knop pintunya bergerak-gerak. Gadis itu berlarian lalu terjatuh. Leen berusaha bangkit tetapi dia tidak berdaya. Knop pintunya masih bergerak-gerak. Ia tak sanggup berdiri, hingga gadis itu menyeret tubuhnya sendiri hendak bersembunyi di dalam kamar mandi.
"Ya Rabb selamatkan aku ...." Doanya dihiasi tangisan memilukan. Bahkan gadis itu sudah menelan air matanya sendiri.
***
"Ah, ya Rabb ... Aku pikir hanya aku yang tidak bisa tidur." Afnan tiba-tiba muncul.
"Memang, apa yang mengganggumu?"
"Seharian ini aku belum melihat bayangan di dalam benda hitam ini." Afnan mendekap laptop miliknya.
Aramoun menyungging senyum, menertawakannya.
"Sayang sekali, itu hanya bayangan ...," ejek Aramoun meneriaki telinga pemuda itu. Aramoun masih berkutat pada api unggunnya agar tetap hidup. "Seharusnya kau menyimpannya di ponsel saja!" tandar.
"Ponsel itu layarnya kecil, aku tidak akan puas melihatnya ...," kilah Afnan.
Afnan duduk bersila di sisinya. Ia segera membuka benda itu, ingin sekali memamerkannya sosok wanita tadi pada Aramoun. Sepupunya itu menipiskan bibir, menggeleng malas.
Afnan menyikut lengan saudaranya. Aramoun terkesiap. Ia bergantian melihat senyum sumringah Afnan dan senyum gadis dengan mini dress berwana putih bergaris rainbow yang muncul di layar laptopnya. Wajahnya natural tanpa polesan.
"Pasti gadis di rumahmu tidak ada apa-apanya dengan gadis ini," ejek Afnan menertawakan.
Hampir saja Aramoun menutup layar laptop itu, tapi ia menahannya. Khawatir jika Afnan bertanya-bertanya. Seluruh organ tubuh Aramoun nyaris tidak berfungsi. Bagaimana tidak? Ia tahu persis bagaimana tarian langkahnya yang menggoda, senyuman malu-malu dari wajah polosnya, amarahnya yang tetap memikat dan masih banyak lagi tentang dirinya yang ia tahu.
Aramoun membuang pandangannya. Matanya mengerjap seolah tak percaya. Ia mengembus napas, membuang beban di dadanya.
"Sudah sebulan ini, sepertinya semua akun pribadinya dihapus. Untung saja aku sudah menyimpan beberapa gambarnya." Afnan mengklik gambar berbeda dengan wanita yang sama.
"Kau berkenalan dengannya di media sosial?" selidik Aramoun dengan wajah menegang.
"Tentu saja, dia berasal dari Yordan. Kau tahu? Semua temannya wanita. Aku satu-satunya pria yang dikonfirmasi olehnya. Bukan 'kah itu istimewa?" soraknya.
Aramoun tersenyum sinis, "Hah! Kau tidak tahu, ada seorang pria yang sudah dipeluk olehnya," ejek Aramoun dengan kilatan api di matanya.
Afnan mengernyitkan dahi, heran. Tak lupa pria itu menyuarakan gelak tawa.
"Ah, ya Rabb, sudah ada panggilan tidak terjawab sebanyak lima kali!" Afnan terkejut, panggilan itu sejak ba'da isya' tadi di ponselnya.
"Siapa?"
"Ayahmu," bisik Afnan.
0 Response to "Part 15 : Pria masa lalu"
Post a Comment