Part 5 : Anak perempuan



Phasmina Merah dari Aramoun


Part 5
Oleh Halwa M

Judul : Anak Perempuan

"Jika ada bidadari surga yang meludah di lautan, kemudian lautan menjadi manis, mungkin itu adalah kau." Rasanya ia ingin meluapkan kata-kata itu, tetapi tertahan.

🌠🌠🌠

"Kau masih mengenakan abaya yang kemarin?" Nyonya Naili dan Leen duduk di sofa.

"Tidak mengapa, Bu, aku hanya mengenakannya ketika keluar kamar saja." Kedua tangan Leen terulur, menangkupnya dari samping.

"Bagaimana pun juga, Ibu belum tahu seleramu. Mana yang lebih kau sukai? Yang glamor atau yang elegan?"

"Apa pun yang Ibu berikan," jawab Leen melepas rangkulannya.

"Begitu 'kah anak perempuan? Bicaranya menyenangkan dan tidak membuat seisi rumah menjadi gaduh." Nyonya Naili menarik hidung Leen pelan.

"Akan tetapi, Ibu harus menjaganya melebihi sepuluh anak laki-laki," sahutnya.

Gadis itu membuka koper yang ia bawa dari Amman, Yordania. Barang-barang selain pakaian belum ia letakkan di tempatnya. Tiga pasang sneaker bertali, dua heels, dan alas kaki berbulu ia pindahkan ke sebuah lemari kayu dengan sepuluh laci, yang ada di dekat pintu kamarnya. Satu kotak kayu kouka berisi puluhan aksesoris ia letakkan di meja rias. Perlengkapan make up sudah tertata rapi sejak ia baru datang di rumah ini.

"Ah, ya Rabb. Apa kau banyak meninggalkan barang-barang milikmu di Amman?" Nyonya Naili melihat-lihat  lemari pakaiannya yang tampak longgar.

"Aku hanya meninggalkannya sebagian," kata gadis itu.

Ayah Leen dan Tuan Harun adalah saudara kandung. Dahulu, Tuan Harun beserta istri dan Anak-anaknya, tinggal di Yordania. Namun, keberuntungan menjalan roda ekonomi di Lebanon, membuat Tuan Harun memboyong semua anggota keluarganya ke negeri Arab tanpa gurun tersebut.

Tiga tahun sejak ayah Leen wafat, gadis itu tinggal bersama ibu tirinya. Ibu Kandung si gadis sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Sebenarnya ia hidup dengan baik di sana. Namun, gaya hidup Leen berubah drastis dari gadis polos berpenampilan ala kadarnya, menjadi wanita pemburu fashion seperti sang ibu tiri. Sedikit dari hal yang membuat ia semangat berpindah ke Lebanon, karena adanya beberapa perancang busana dunia terkenal di negeri itu, hingga ia merasa lebih puas menemukan apa yang dicari.

Akan tetapi, dua hari di rumah Tuan Harun merubah sedikit demi sedikit pola pikirnya. Perlahan, gaya berpakaian Leen jadi tidak terlalu terbuka seperti hari pertama ia kemari.

"Bu, apa Ibu yang melahirkan sembilan pria di meja makan kemarin?" Leen mengajukan pertanyaan dengan malu-malu. Akan tetapi, ia sangat penasaran.

"Ayah mereka itu, menikahi tiga wanita hanya dalam waktu lima bulan saja," kata Nyonya Naili sedikit heboh.

"Hah!"

Gadis itu tercengang sejenak lalu melepas tawanya.

"Bayangkan, dalam kurung waktu 4 tahun kami semua sudah melahirkan tiga kali kecuali Ibu. Meski pada awalnya masalah sering terjadi di antara kita para istri, tetapi lambat laun kami jadi saling mengerti. Dan mereka lebih dulu di panggilan oleh Sang Maha Pencipta," jelas Nyonya Naili.

"Lalu Aramoun?" Leen menyelidiki, karena hari-harinya lebih sering bertemu dengan Aramoun daripada yang lain.

Nyonya Naili diam sejenak lalu berkata, "Demi Allah, dia anak kecil yang malang, dulu. Empat tahun dengan tiga istri, ayahmu menyempurnakannya menjadi empat. Dia 'lah ibu Aramoun. Entah bagaimana mengatakannya, Ibu takut salah bicara. Tak lama setelah ia dilahirkan, mereka berdua berpisah." Meskipun terasa ada yang ditutupi, tetapi Leen merasa cukup dengan penjelasan Nyonya Naili.

Kamar Leen dan Aramoun terpisah dari rumah yang dihuni Tuan Harun. Ada lima kamar yang dibangun seperti rumah-rumah kecil bergaya modern. Terdapat pohon kurma yang menaungi setiap kamar.

Berbagai macam bunga bermekaran indah di sekitarnya, seperti bunga mawar putih, mawar merah, anggrek dan tulip.

Untuk sekadar bersantai menikmati rangkaian awan, tersedia kursi kayu panjang. Kelipan bintang pada malam hari juga tidak kalah menarik dari sini.

Ini adalah areal bebas untuk Leen tanpa berhijab dari siapa pun. Tukang kebun hanya akan datang di waktu sarapan saja, di mana Leen jelas tidak berada di sana.

Lima Asisten rumah tangga wanitanya rata-rata berusia di atas empat puluh tahun dan tidak berpenampilan menarik. Semuanya bermuara pada Tuan Harun yang ketat dalam urusan hijab.

Leen mengantarkan Nyonya Naili hingga ke ambang pintu rumah besarnya. Begitu akrab mereka, hingga Leen  menggandeng tangan wanita itu.

Bukan karena Nyonya Naili yang terlalu tua. Wanita itu bahkan masih terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya, karena Tuan Harun merawat sang istri dengan sangat baik. Wanita itu sedikit lebih tinggi dari Leen. Tubuhnya masih ramping dan berambut panjang. Leen hanya berusaha menjaga kesopanan pada orang tua.

Warna-warni bunga dan aromanya membuat gadis itu semakin terhibur. Leen kembali ke kamar dengan perasaan yang lebih baik.

"A ...!" teriak Leen. Gadis itu menemukan sesuatu di balik pintu saat menutupnya.

Aramoun berulah. Pria itu tersenyum meringis dengan pandangan risau kesana kemari. Memang Leen meninggalkan kamar dalam keadaan terbuka. Kedua tangan Leen dilipat, tatapannya menikam sengit. Ia dipermainkan oleh suasana hati yang mendadak berubah. Memaafkan pria itu, masih seperti menggores luka baru.

Aramoun merapatkan mulut, setelah terpukau dengan gadis di hadapannya.

"Jadi begini, saat kau berada di kamar?" bisik pria itu.

Leen semakin mengikatnya dengan belenggu yang tak dapat diurai. Gadis itu mengenakan cardigan blaster berwarna putih dan biru yang memanjang hingga ke lutut, sangat serasi dengan iner berwarna putih dan celana jeans navy.

Aroma parfum yang flowery menyeruak di hidung Aramoun. Tidak menyengat. Hanya saja Aramoun jadi ingin mengingat aromanya.

Anting bunga matahari sesekali berkilat, menggantung indah di balik rambut lurus Leen yang tersingkap di belakang telinga. Hampir-hampir Aramoun merasa tidak berada di dunia lagi.

"Jika ada bidadari surga yang meludah di lautan, kemudian lautan menjadi manis, mungkin itu adalah kau." Rasanya ia ingin meluapkan kata-kata itu, tetapi tertahan.

Mungkin gadis itu tidak menyadari, bahwa pria di depannya begitu terkesan. Leen menarik kaos Aramoun. "Bahkan jejakmu, aku tidak ingin melihatnya!"

Pemuda itu menampik tangan Leen. Si gadis menghentakkan kaki. Aramoun beranjak menuju lemari pakaian dengan empat pintu. "Apa ini? Semua pakaianmu tidak bisa lagi dikenakan di sini!"

Aramoun melempar sembarangan beberapa mini dress milik Leen dulu, di atas ranjang. Dari mulai yang glamor dengan payet bertebaran hingga yang elegan namun tetap terlihat modis dengan simetrisnya.

"Hentikan, atau kau akan melihat apa yang tidak boleh kau lihat!"

Aramoun mengakhiri dan membiarkan semuanya berserakan.

"Sebenarnya, apa yang kau inginkan? Dua hariku di sini seperti satu tahun. Waktu terasa lebih panjang." Leen terduduk lemas setelah beberapa kali meneriaki pemuda itu. Si gadis menangkup wajah, kemudian menyingkap rambutnya. Seperti tersengat sinar matahari secara langsung, wajahnya menjadi panas dan memerah.

"Ganti pakaianmu! Kita akan membeli pakaian baru. Kau juga membuatku tidak selera makan, tadi!" ketusnya.

"Hah!"

Leen menghela napas, mengurangi kekesalan pada pria yang seenaknya saja itu.

"Kenapa kau tidak menggunakan cara yang lebih baik dari Ini!" Gadis Itu mengeluh lemas.

"Jangan membuang waktu!" Aramoun beranjak meninggalkannya.

"Seharusnya aku membuat surat perjanjian damai untuk kau tanda tangani!" Teriakan Leen menderu di telinganya sebelum Aramoun lenyap di balik pintu. Bantal sofa melayang dari tangan gadis itu membentur pintu.

***

Berbeda dengan Leen yang menyadari kecantikannya hingga penampilan gadis itu tak selalu sama. Alyan Areekah ( yang lembut perangainya ) adalah wanita yang  monoton dalam berpenampilan. Wanita dengan ciri khas kacamata miu-miu itu menghabiskan sebagian besar waktunya di Rumah Sakit Rafiq Hariri. Sejak dua tahun terakhir, ia memberikan kenyamanan pada Aramoun.

"Dia tidak lebih dari anak keras kepala yang ingin dimanja oleh ibunya," bisik Alyan seraya mendekatkan wajah pada Fareha, sahabatnya.

Di sela-sela waktu, mereka berbincang di cafe rumah sakit. Berteman cemilan yang sama yakni kacang almond dan kismis dengan dua gelas jus berbeda.

"Semoga saja yang kau katakan itu benar," sahut Fareha.

"Dia bukan sekadar membutuhkan  seorang dokter yang memberikan resep obat saja. Dia juga membutuhkan dokter yang memberinya kasih sayang." Alyan menambahi tanpa berhenti mengunyah kacang almond.

"Jadi, kau benar-benar tidak tertarik padanya?"

Alyan menghela nafas geram karena Fareha kembali pada pertanyaan yang sama. Mata biru wanita dengan Frame kacamata yang berganti-ganti warna itu, membulat malas.

"Aku tidak punya alasan untuk itu. Lagipula, sejak kecelakaan yang itu, aku menjadi lebih dingin pada pria," tukasnya. Alyan kembali mengurai penjelasan untuk meyakinkan kawannya.

"Seandainya kau mau berhias sedikit, dan ...," potong Fareha

"Kacamataku?" sahut Alyan.

"Seharusnya kau mengucapkan selamat tinggal pada kacamatamu itu, maka usiamu akan terlihat sepuluh tahun lebih muda." Kedua tangan Fareha bertepuk di udara seraya tertawa euforia.

Alyan menggeleng malas.

"Jika aku mau, aku sudah melakukan hal itu!" Raut masam Alyan terlihat.

"Ah ..., siapa yang bisa menyembuhkan penyakitku ini ...?" Seorang pria baru muncul di cafe setelah menaiki anak tangga, kedua tangannya membentang sambil menggoda. Tentara Hati pria itu seketika menangkap Alyan.

"Lalu, bagaimana dengan pria ini?" Fareha menggoda dengan senyum memperlihatkan gingsulnya.

"Dia tidak akan mendapatkan apa pun dariku!" Alyan melirihkan suara bernada tegas.

Pria itu datang dan pergi ke rumah sakit hanya untuk mencuri perhatian Alyan. Allen namanya. Kedatangan pria itu semakin membuat suasana hati Alyan  menjadi keruh setelah bincang-bincang yang dibumbui perdebatan tadi.

"Dan satu hal gila lagi yang akan membuat tidurmu terganggu jika aku mengatakannya." Alyan bangkit dari perhelatannya bersama Fareeha.

"Apa? Katakan saja, aku akan menyimpannya!" Fareha mencekal tangan Alyan yang mulai berdiri.

Alyan tersenyum tipis mengejeknya. Ia meninggalkan Fareha dengan raut kecewa karena penasaran.

"Kali ini, penyakit apalagi yang anda derita, Tuan?"

Allen mengekorinya.

0 Response to " Part 5 : Anak perempuan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel