Darul Kotob
Judul Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh Halwa
Genre Religi-Romance
Part 25
"Aku akan tetap di sisimu sampai seseorang datang di kehidupan kita. Walaupun yang kuinginkan selamanya bersamamu," kata Aramoun.
Hari yang sangat panjang untuk Leen dan Aramoun. Kebersamaan mereka dirundung rindu karena mahabbah yang tertahan.
Kamar gadis itu masih remang-remang, hanya ada cahaya lampu luar yang menerobos melalui jendela dan ventilasi. Aramoun menuntun punggung gadis itu hingga ia duduk di tepi ranjang.
Aramoun melepas tali niqob gadis itu.
Nyonya Naili menyalakan lampu. "Kalian sudah datang?" Ada pemandangan yang kurang baik di hadapannya. Mata sembap Leen membuat Nyonya itu bertanya-tanya.
"Ibu, hari ini aku mengajaknya ke Tripoli," kata Aramoun. Pria itu berdiri di sisi Leen, menyembunyikan wajah lusuh gadis itu.
"Baik, istirahatlah. Ini hampir larut malam," saran Nyonya Naili, lalu pergi dari sisi mereka.
"Aramoun," panggil Leen, meraih pergelangan tangan pria itu yang hampir beranjak. "Jangan sampai kita berjalan sendiri-sendiri menghadapi situasi ini. Aku sungguh tidak sanggup."
"Aku akan tetap di sisimu sampai seseorang datang di kehidupan kita. Walaupun yang kuinginkan selamanya bersamamu," kata Aramoun membelai mahkota gadis itu.
Aramoun beranjak menuju kamarnya. Di koridor ia bertemu Afnan yang sudah mengenakan piyama.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Afnan.
"Ya, kami tidak punya cela untuk bermusuhan. Entah kau, atau orang lain yang akan memenangkannya, yang jelas saat ini aku tidak akan melepaskannya." Aramoun menunjukkan wajah sarkas.
"Hah! Aku pesaing yang cukup sportif. Kita bersaing sehat saja." Afnan menepuk bahu pria itu.
***
Sekilas, langit tampak tersenyum hari ini. Matahari yang mulai terbit cukup menghibur mereka. Leen dan Aramoun sepakat akan pergi ke suatu tempat.
Besok Tuan Harun genap berusia enam puluh satu tahun, tepatnya tanggal 29 November 2018. Biasanya putra-putranya akan memberi hadiah yang istimewa. Sebelumnya, Aramoun mengabaikan hal ini. Namun, keberadaan Leen membuatnya beralasan mencari hadiah untuk sang ayah.
Leen kembali berphasmina seperti dulu, sebelum Afnan datang ke rumah itu. Mungkin ini efek dari penjelasan Aramoun, kemarin. Ia jadi sedikit meringankan dirinya.
Afnan tentu merasa dipuaskan dengan pemandangan pagi ini. "Ya Rabb, bagaimana bisa sudah sepagi ini masih ada rembulan bercahaya? Pantas saja, semalam rembulan tidak muncul, ia pasti malu bersaing dengan rembulan di rumah ini," Afnan terlena lalu memuji gadis itu.
Rambut burgundinya berbalut phasmina tanpa dililit. Nampak kalung yang mengkilap menghiasi lehernya. Leen hanya melirik Afnan sekilas dengan wajah datar. Tuan Harun dan Nyonya Naili belum muncul di meja sarapan.
"Ukuran tubuhmu itu lebih kecil dariku. Aku bisa menelanmu kapan saja," bisik Aramoun yang duduk di sisinya. Sementara, gadis itu ada di seberang mereka.
Afnan tak pernah ambil pusing dengan serangan pesaingnya itu. Wajah jenaka pria itu sering kali membuat telinga Aramoun memerah.
Leen dan Aramoun tetap mengkondisikan agar suasana di rumah ini tidak terbawa oleh kesusahan mereka. Meski hati ke duanya telah porak-poranda.
Berpusat di kota Aramoun, sama seperti namanya. Sebuah percetakan kitab muslim terbesar di dunia berada di sana. Hanya saja, ketika seseorang bicara Lebanon, informasi ini tak pernah muncul walaupun di pencarian internet. Mereka hanya mengelu-elukan Lebanon Parisnya Timur Tengah, Lebanon punya seorang pujangga terkenal ( yang mana bukan seorang muslim ), Lebanon pemandangan alamnya sangat menawan, wanita Lebanon pakaian mereka seperti ini dan itu. Padahal percetakan kitab bernama Daroul kotob ini penyumbang terbesar kitab-kitab yang dipelajari di pesantren-pesantren seluruh Indonesia.
Bahkan pelajar muslim Indonesia yang mengenyam pendidikan di Lebanon sekali pun, tidak ada yang meliput seputar percetakan kitab ini. Mereka lebih banyak ngeflog tempat jalan-jalan atau makanan khas di sana, walaupun itu juga cukup informatif.
Kota Aramoun berada di gunung Lebanon, 7 km sebelah barat kota Beirut. Sebagian besar penduduknya minorit. Walaupun muslim di sini sangat minim, keberadaan percetakan kitab itu cukup mengagumkan.
"Kota Aramoun?" Leen terheran mendengarnya. Sudut bibir gadis itu terangkat. Ia tidak habis pikir kalau nama pria disampingnya itu di ambil dari nama sebuah kota.
"Entahlah, aku tidak pernah bertanya pada Ayah tentang hal ini. Bicara tentang ibu saja, ayah tidak pernah.
Ayah itu ... gemar mengoleksi kitab, biasanya langsung dibeli dari percetakannya. Percetakan Daroul Kotob dulu berpusat di Beirut, tapi sekarang sudah pindah di kota Aramoun itu," terang Aramoun.
"Namamu jadi ada hubungannya dengan kegemaran ayah?" terka Leen.
"Jauh sebelum percetakan itu pindah, aku sudah lahir lebih dulu," timpal Aramoun.
Bibir gadis itu berdesis. Ke dua jari tangannya saling bersilang. Sesekali gadis itu menggosokkan ke dua telapak tangannya. Mungkin suhu di sini yang lebih dingin daripada Beirut mulai terasa.
"Kau tidak membawa jaket, sweater, atau apa pun?" tanya Aramoun.
Gadis itu tersenyum meringis dengan kerutan di dahinya. Ia menggeleng pelan.
"Ah, Ya Rabb. Aku masih trauma dengan penolakanmu waktu itu!" gurau Aramoun.
"Kalau begitu, pinjamkan saja dada bidangmu!" celetuk Leen, geram.
Aramoun tercekat. "Ah, Ya Rabb. Jangan membuat sesak napasku kambuh, dengan kata-kata seperti itu. Aku sudah menahan semuanya, bahkan rasanya ... aku sudah tidak bernapas seribu tahun," oceh Aramoun.
"Aku juga, seperti mendengar berita kematian setiap hari," timpal Leen.
Ia melempar pandangannya ke luar jendela mobil.
Infrastruktur kota ini terbilang mewah. Banyak juga gedung apartemen di sini memanfaatkan keindahan alam Gunung Lebanon ( Jabal Lubnan ), tetapi tidak padat seperti Tripoli. Sekolah-sekolah dengan bangunan beberapa lantai, bahkan sekilas seperti gedung perhotelan.
Mereka berhenti di depan apartemen milik Tuan Harun. Terdiri dari enam lantai dengan 30 kamar, bangunan ini terletak ditikungan masuk Aley Aramoun. Lebih dari sepuluh mobil terparkir di halamannya.
"Kau lihat tempat itu? Nama kamarnya di beri nama-nama Ashabul badar. Di sana ada nama sahabat Nabi favoritmu, Sayyidina Abdullah ibnu Salam," Tutur Aramoun.
Leen masih tak acuh, gadis itu menopang dagu.
"Hah! Baiklah, lebih baik kita cepat sampai ke sana," kata Aramoun.
***
Setelah melakukan perjalanan santai lebih dari setengah jam, mereka tiba di gedung percetakan Daroul Kotob. Catnya berwarna krem dengan desain bangunan seperti masjid. Pohon-pohon kurma menghiasi halaman parkir.
"Assalamualaikum," ucap Aramoun menyinggung senyum, bersalaman dengan salah satu karyawan.
Aramoun diantarkan ke ruang direktur redaksi. Tuan Mohammad Ali Baydoun, namanya. Pria berkepala plontos itu langsung menunjukkan keakraban begitu Aramoun menyebutkan nama sang ayah.
"Tuhfadzul Ahfadzi syarah Sunan Tirmdzi, Tuan," kata Aramoun menyebutkan nama kitab yang akan ia beli.
Sebetulnya ia bisa membelinya lewat karyawan di sini. Aramoun ingin menyambung hubungan baik dengan kawan-kawan ayahnya.
***
Seorang wanita mengenakan phasmina hitam, hidung mancung lancip, pipi tirus, dan bola mata yang besar datang ke ruangan di kantor Tuan Harun.
"Assalamualaikum," ucap si wanita memasuki ruangan Tuan Harun tanpa mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Tuan Harun. Pria itu membalikkan badan.
"Allahu yubarik feek fi shobah ( semoga Allah memberkahimu pagi ini )," kata si wanita sambil melepas kacamatanya.
"Shima?" Tuan Harun terkejut.
"Apa putraku bisa menjadi wali di pernikahanku, nanti?"
Mantab.,
ReplyDeletehttps://arabitzone.blogspot.com/
http://lixmedia.blogspot.com/