Part 7 : Berjalan dengan Malu-malu

   Phasmina Merah dari Aramoun

Judul     Berjalan dengan Malu-malu
Part        7
Oleh      Halwa M
Genre    Religi-Romance

"Berjalanlah di belakangku seperti yang dicontohkan Sayyidah Safuro' terhadap Nabi Musa!" seru Aramoun. Yakni, 'tamsyi 'alas tihyaa' ( berjalan dengan malu-malu ) dalam surat Al Qosos.

🌠🌠🌠

"Bagaimana ini?"

Leen tergopoh tanpa alas kaki. Khimar tak lagi membalut rambut gelombang gadis itu. Bak mendengar petir-petir menyambar yang membuatnya ketakutan. Rasa panik menguasai. Sebisa mungkin ia melakukan sesuatu. Tangan Leen terulur perlahan karena gugup, menyentuh bagian wajah Aramoun yang sedikit kasar.

"Aramoun ... Aramoun ...," panggilnya lirih.

Leen menepuk pipi si pemilik jambang tipis beberapa kali. Mata lentik pemuda itu tetap terpejam. Tangan Aramoun terasa dingin saat Leen mengeceknya.

Andai saja dirinya yang terkapar saat ini, tentu lebih mudah bagi Aramoun. Leen tak mau membangunkan kedua orang tuanya yang sudah beristirahat. Gadis itu bangkit dari sisi Aramoun berlari mencari pertolongan pada siapa pun di balik gerbang pelindung. Rasa khawatirnya menjalar dari jantung hingga ke seluruh tubuh, entah bagaimana mendeskrepsikannya. Ia juga ikut merasa lemas.

Tanpa sadar, Leen menerjang areal bebasnya tanpa hijab. Suara gerbang itu menggema hingga tiga pria yang masih berjaga dekat gerbang utama di depan sana, serentak menoleh. Mereka adalah Jundan dan Barra yang menemani Hamed si security, berjaga.

Gadis itu berlari menghampiri, tanpa mereka sadari, hingga jarak tidak membuatnya berteriak.

"Aiz eh, ya Sayyidah?" tanya Hamed, mendengar langkah kaki semakin dekat."

Tiga pria itu kembali terkesiap ke arahnya. Hamed seketika memalingkan wajah, tak ingin mengambil kesempatan. Dia juga memberi isyarat pada kedua pria di sampingnya agar melakukan hal yang sama.

"Ada yang bisa membantuku?" tanya Leen. Napasnya tersengal. Ia benar-benar kelelahan.

Mereka bertiga saling berpandangan. Tidak ada yang memberi jawaban. Hingga seseorang di antara mereka bersuara.

"Biar aku saja, Nona," sahut Barra'.

"Ayo cepat, ikut aku!" Leen menyegerakan langkahnya.

Mereka berdua tiba di sisi Aramoun.

"Ah, Ya Rabb, aku tidak tahu kode kamarnya," keluh Leen, menekan tombol untuk membuka pintu kamar Aramoun. Ia mencoba menerkanya, tetapi gagal.

Gadis itu berlari kebingungan, lalu memutuskan untuk membiarkan Aramoun di kamarnya. Mereka berdua memapah pria yang masih belum sadar itu. Barra' berdiri di belakang menahan tubuh Aramoun saat sang nona menekan tombol untuk membuka pintu kamar.

"Baringkan saja di sini," titah Leen.

"Baik, Nona."

"A ..., tunggu! Apa seharian ini kau bersamanya?"

"Ya, Nona." Barra' menghadapnya.

"Apa dia menenggak alkohol atau ... apa yang membuatnya seperti ini?"

"Aku rasa, sakit maghnya kambuh, Nona."

"Thob'an, kembali ke tempatmu!"

Bicaranya tegas seperti polisi wanita yang mengintrogasi.

"Berinteraksi sebentar saja dengannya, membuatku merasa kembali muda," bisik Barra' saat keluar dari kamar Leen.

***

Leen membuka kotak obat yang menempel di dinding. Ia mencari sesuatu yang dapat membuat Aramoun sadar. Minyak angin bertuliskan 'Abu Fa's' ia ambil.

Mata Aramoun mulai mengerjap setelah Leen mengolesi minyak angin tadi di sekitar hidungnya beberapa kali.

"Alyan?" terka Aramoun.

"Apa?" Leen sedikit terkejut.

"Ah, tidak." Ia salah terka setelah wajah Leen mulai terlihat jelas.

"Kau harus makan sesuatu, akan kuambilkan di dapur." Jauh di lubuk hatinya, ada setitik rasa bersalah hingga Aramoun mengalami kondisi seperti ini.

Tanpa menghabiskan waktu lama, Leen kembali dengan sebuah apel dan dua lembar roti maryam. Hanya itu yang ia peroleh di dapur. Memasak makanan baru hanya mengulur waktu saja.

Ia membantu Aramoun untuk duduk. Tak dapat dipungkiri, kalau pemuda itu merasa sangat istimewa. Baru kali ini sakitnya membawanya pada keberuntungan. Bukan disalahkan sang ayah seperti sebelumnya.

Mahkota brown gadis itu menyapu mata Aramoun. Pria itu menghirup keharuman mahkota sang gadis. Aramoun memejamkan mata, ia merasa seakan  menghilang dari bumi. Saat membuka mata, pemuda itu kembali bermusuhan dengan perasaannya.

"Tidak ada kari untuk rotinya?" tanya Aramoun.

"Tidak ada kari untuk lambung sakitmu," sahut Leen.

"Aku tidak selera makan!" Aramoun membuang muka.

Leen menghela napas kasar, sedikit geram dengan penolakan dan sikap keras kepala Aramoun.

"Walaupun kau makan dari tanganku?" rayu Leen.

Aramoun memburu tatapan si penyihir hati. Wajah pemuda itu masih muram, walaupun si gadis terlihat tulus menawarkannya. Mata Leen berbinar dan menyungging senyum. Ada detik-detik seperti dijatuhkan dari langit, saat Aramoun memutuskan untuk menerima suapan gadis itu.

"Biar aku saja!" Aramoun tak sanggup menahan perang Mahabbah di hatinya. Ia menyerobot nampan dan piring berisi makanan tadi dari pangkuan Leen.

Wajah Leen memerah, matanya membelalak, dengan bibir mencibir, bahkan terdengar raungan geram dengan gigi mengerat dan kedua tangan yang mengepal hampir meninju si pria menyebalkan. Sementara Aramoun, hanya menatapnya datar sambil menggigit apel.

Menjelang fajar. Rasa sakit yang luar biasa tadi malam sekarang sudah hilang. Aramoun menyingkap bedcover lalu bangkit dari ranjang tidur hendak kembali ke kamar. Gadis itu meringkuk di atas sofa sudah lengkap dengan bedcover yang  menghangatkan. Aramoun mengulurkan tangan kanannnya, keluar dari saku celana, ingin membelai ubun-ubun gadis itu. Namun, untuk yang kesekian kalinya ia harus menahan. Ia meninggalkan jejak senyuman di kamar Leen.

***

Bagi Leen, perlakuannya terhadap Aramoun hanya hal biasa. Sementara si pemuda, masih merasakan detik-detik istimewa itu. Di pintu masuk rumah bak kapal pesiar, mereka kembali bertemu. Seperti biasa, rutinitas saat ini adalah sarapan. Apa yang dikenakan gadis itu selalu mencuri perhatiannya.

"Shobaahul khoir," sapa Leen.

Gadis itu melewati Aramoun begitu saja.  Aramoun yang sedang memijit  tengkuknya, tak sempat menjawab sapaan gadis itu.

Lagi-lagi gadis itu menunjukkan pesonanya. Leen mengenakan Long cardi sifon berwarna toska dengan lengan panjang memberi kesan clasy. Terdapat tali yang melilit pinggang gadis itu. Berbalut celana jeans panjang, kaki gadis itu sesekali tersingkap. Ini sudah lebih baik dibanding mini dress saat pertama Leen memasuki gerbang rumah Tuan Harun. Tak ketinggalan phasmina tersampir di pundak gadis yang tarian langkahnya membuat Aramoun tergoda. Phasmina dan Long cardi yang dikenakan gadis itu mengibar diterpa angin. Sungguh, pemandangan yang membuat isi kepala pemuda di belakangnya menjadi berantakan. Aramoun semakin sulit menganggap Leen sebagai adik perempuan yang harus dilindungi.

"Berjalanlah di belakangku seperti yang dicontohkan Sayyidah Safuro' terhadap Nabi Musa!" seru Aramoun. Yakni, 'tamsyi 'alas tihyaa' ( berjalan dengan malu-malu ) dalam surat Al Qosos.

Leen berhenti. ia membuang udara dari mulutnya yang menggembung, geram. Ekspresi wajah berpura-pura bodoh Ia tunjukkan saat Aramoun mendahuluinya.

"Kau tidak menginap di rumah Ukasyah?" tanya Nyonya Naili.

"Aramoun mengajakku pulang, Bu," jawab Leen.

"Bukan 'kah, Ibu yang merasa kesepian?" sahut Aramoun.

"Aramoun ...," Nyonya Naili mendekatkan wajah di hadapan Aramoun, "tetapi Ibu tidak menyuruhnya pulang," tambah Nyonya Naili.

Aramoun menyungging senyum menertawakan Nyonya di rumah itu. Suasana benar-benar hangat saat ini.

Tuan Harun fokus menyantap lamb kiblinya, Leen memilih shawarma sebagai sarapannya. Aramoun tergiur dengan kari kambing buatan Bibi Zanub. Sementara, Nyonya Naili sudah menggigit baklava sebagai makanan penutup.

"Setidaknya, kau, berterimakasih dulu sebelum penyakitmu kambuh lagi," bisik Leen, memindahkan mangkuk kecil yang sudah diisi dengan kari.

"Hah!" Aramoun tersenyum sarkas.

"A ... Ayah dengar, semalam kau menginap di kamar Leen?" tanya Tuan Harun.

"Semalam ...," sela Leen.

"Kami hanya tidur bersama." Aramoun menahan pergelangan Leen agar gadis itu tidak meneruskan bicaranya.

"Jangan kau ulangi lagi," larang Tuan Harun.

"Apa itu berarti tidak boleh?" selidik Aramoun kembali memastikan.

"Apa ada makna lain dalam 'jangan' selain tidak boleh?"

Suara-suara tenggelam sesaat. Bahkan Nyonya Naili memilih bungkam, tak ingin memperpanjang perhelatan mereka. Gadis itu menahan diri, matanya mulai berkaca-kaca. Leen jelas merasa dirugikan. Gadis itu hanya makan sedikit saja. Sementara Aramoun puas melahap kari kambing, mengabaikan peringatan Leen.

Aramoun beranjak. Leen tak akan membiarkan pemuda itu lolos. Ia membuntuti Aramoun, menjauh dari orang tua mereka. Hingga ia yakin tidak akan ada yang mendengar amarahnya.

Di taman sekitar kamar. Gadis itu dengan berani menarik bahu bidang Aramoun, hingga pria itu membalikkan badan. "Kau bilang apa yang ada di hatimu yang harus pergi, lalu untuk apa aku di sini jika terus kau sakiti? Aku baru mulai belajar menghargai diriku. Kenapa kau membuatku tidak bernilai, tadi!" Leen tak sanggup mengeraskan suara, tenggelam oleh tangisannya.

"Leen ...," panggil Aramoun.

Menyadari apa yang ia lakukan melukai gadis itu, Aramoun ingin menenangkannya. Namun, Leen menampik tangan pria itu sebelum menyentuh pundaknya.

"Jangan salahkan siapa pun, jika aku tidak di sini lagi!" gertak Leen membuat Aramoun bungkam.

Gadis itu meninggalkan Aramoun yang masih terpaku.

0 Response to "Part 7 : Berjalan dengan Malu-malu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel