Part 24 : Siapa Aramoun

Judul       Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh         Halwa M
Genre      Religi-Romance
Part         24

"Itu sebabnya, kenapa aku tiba-tiba berubah. Itu sebabnya, kenapa aku ingin memenjarakan hatiku dan memilih pergi darimu. Itu sebabnya, kenapa aku harus mentaubati cintaku padamu. Itu sebabnya, kenapa perasaan ini akan membunuh kita." Leen menghujani bahu Aramoun dengan air mata.

🌠🌠🌠

Bagi Leen saat ini, gerbang pelindung dan seorang pelindung sama rapuhnya. Ternyata perasaan yang memenjarakan hatinya dari pria selain Aramoun tidak main-main. Gadis itu menahan badai di dadanya. Ia sudah merasakan betapa sulitnya sendiri walaupun tanpa disakiti, lalu sekarang? Kesendirian dan rasa sakit itu menembus kubangan meteor cintanya.

Ting

Leen sudah tiba di lantai dasar. Ia berjumpa dengan Afnan yang memang mau mengajak Alyan ke toko. Melihat gadis itu tampak tidak bahagia, Afnan mengurungkan niatnya. Tirai bening menggenang di kedua mata gadis itu.

"Apa tawaranmu untuk kita berteman masih berlaku?" tanya Leen dengan suara memilukan.

Afnan mengangguk pelan, meski ia belum dapat menerka apa yang sedang dialami Leen. Ia membiarkan gadis itu berjalan mendahuluinya. Hampir saja pria itu menuntun punggungnya, Afnan menahan diri khawatir salah langkah. Mengingat gadis itu tidak suka Afnan memperlakukannya secara berlebihan. Tentu saja permintaan Leen menjadi gerbang pembuka untuk membangun hubungan baik dengan gadis itu.

"Mau langsung pulang atau ...," tanya Afnan.

"Kemana pun, asalkan Aramoun tidak menemukanku!"

Afnan tidak banyak bertanya. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Leen terdiam sejak mobil melaju.

"Kau tidak ingin menceritakan sesuatu? Bukan 'kah kita sudah berteman?"

"Nanti kau akan menertawakanku, Afnan ...."

Mobil Aramoun sudah mengejarnya dari belakang. Afnan masih belum menyadari. hingga mereka berada di jalan yang sepi, tiba-tiba sebuah mobil menyalip lalu berhenti di depan mereka.

Leen memalingkan muka saat Aramoun tampak keluar dari mobilnya.

"Kau mau ikut Aramoun?"

Leen berdecak kesal. Aramoun mengetuk kaca Afnan. Afnan segera membukanya. Aramoun tidak menunjukkan amarahnya meski si gadis bersama pria Lain.

Aramoun melongok ke jendela mobil. "Ini kunci mobilku," kata Aramoun. Pria itu menjatuhkan kunci mobilnya di pangkuan Afnan.

"Ayo, kita pergi Afnan!" ajak Leen.

"Sudah cepat ke luar!" pinta Aramoun.

"Jangan hiraukan dia!" gertak Leen pada Afnan menatap tajam Aramoun.

Afnan semakin bingung. "Ah! Kalian selesaikan sendiri!" Afnan geram setelah tolah-toleh bergantian ke arah mereka.

Aramoun merogoh sendiri knop pintu mobil Afnan lalu membukanya. Afnan pun ke luar, kemudian Aramoun masuk. Afnan memang orang yang senang menjalani hidup dengan santai, tidak banyak masalah. Melihat mereka berdua seperti ini, dia tak mau ambil pusing apalagi sampai terlibat. Meskipun ini kesempatan yang sangat baik untuk mengambil hati gadis itu, tetapi Afnan ingin berjalan natural saja, bukan menyusun strategi atau memanfaatkan konflik.

Mobil yang dikemudi Aramoun memutar balik dengan cepat. Pria itu menggenggam tangan Leen, hampir saja si gadis melarikan diri darinya saat Aramoun memasuki mobil. Leen menarik tangannya dari genggaman Aramoun.

Kereta kencana masa kini itu berhenti sebelum Corniche --areal pejalan kaki di sepanjang garis pantai laut mediteranian Beirut. Gedung-gedung perhotelan menjamur di tepi pantai. Pesona Laut mediteranian yang Allah ciptakan tak pernah legang hingga saat ini.

Leen menghadap laut, berpegangan pada pagar besi yang memisahkan antara deburan ombak dengan Corniche. Aramoun membawanya kemari agar gadis itu merasa lebih tenang. Harapannya gadis itu akan mudah diajak bicara.

"Ternyata menundukkan pandangan tidak boleh tidak," tukas Leen.

Aramoun yang berada di sisinya tersenyum miris. Kedua mata pria itu menyipit tersengat sinar matahari yang mulai meninggi. "Tapi tidak dengan kita," sahut Aramoun.

Leen terkesiap. "Bagaimana bisa?"

Terhimpit beban di hatinya, Aramoun menjawab, "Kita saudara satu susuan, kau adikku dan aku kakakmu."

"Ini tidak mungkin," elak Leen menggeleng pelan. Kekuatan gadis itu dirobohkan. Ia berpegangan semakin erat pada pagar besi. Kelopak matanya mengapit telaga air mata yang meluncur panas.

"Kita tak 'kan punya hubungan apa-apa selain itu," ujar Aramoun memalingkan wajahnya dengan mata berair.

"Darimana kau tau hal itu?" tanya Leen terisak.

"Ayah punya undang-undang khusus untuk kami putra-putranya. Kami tidak akan dipertemukan dengan seorang wanita kecuali dia adalah istri untuk kami, karena ayah telah menikahkan semuanya sejak belia.

Aku sangat gembira saat kita dipertemukan. Aku kira kau istriku. Tetapi, Ayah malah membiarkanmu bertemu dengan semua kakakku, dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Nafsu yang dikatakan cinta itu sudah tumbuh di hatiku sejak 3 tahun yang lalu. Sejak ayah membicarakanmu. Bisa jadi, kau dan Afnan ...." Aramoun ragu meneruskannya.

"Hentikan!" pekik Leen hampir tersimpuh.

Aramoun segera menahan tubuhnya. Pria itu mendekapnya erat, memberi gadis itu kekuatan.

"Itu sebabnya, kenapa aku tiba-tiba berubah. Itu sebabnya, kenapa aku ingin memenjarakan hatiku dan memilih pergi darimu. Itu sebabnya, kenapa aku harus mentaubati cintaku padamu. Itu sebabnya, kenapa perasaan ini akan membunuh kita." Leen menghujani bahu Aramoun dengan air mata.

***

Di Roue Hamra.

Roue Hamra adalah pusat ekonomi Beirut berkelas dunia. Toko-toko beretalase yang memajang pakaian kebanyakan milik perancang busana internasional asal Beirut. Para perancang busana wanita kebanyakan laki-laki. Mereka bisa sukses di rumahnya sendiri, karena wanita Lebanon gemar memakai gaun daripada celana jeans.

Tuan Harun membangun sebuah toko 2 lantai untuk Afnan di Hamra. Di sini kaum Adam bisa mendapatkan busana yang mereka inginkan tanpa merogoh kocek terlalu dalam. Karena pria tidak seperti wanita yang senang memburu merek. Pria bermata biru itu menggeluti dunia fashion sejak 7 tahun terakhir. Ia juga sudah ahli memasarkannya baik pembelian secara online maupun di tempat. Tokonya juga melayani pembelian secara grosir.

Bukan hanya pakaian pria saja, melainkan segala yang menunjang penampilan kaum Adam juga ada di lantai 2. Mulai dari sepatu, kacamata, syal, topi, jaket trench coat pria dan masih banyak lagi.

Tidak biasanya Afnan datang lebih awal dari pekerjanya. Pagi ini cukup rumit. Mungkin Aramoun juga libur mengajari mereka hari ini.

Afnan membuka laptopnya. Baru saja dia menarik kursi merapat ke meja, ponselnya bergetar.

"Khair Alyan," sapa Afnan.

"Ada sedikit kesalahan, tapi dampaknya bisa sangat besar," kata Alyan, khawatir.

"Apa ada hubungannya dengan Leen dan Aramoun?" terka Afnan.

"Kau bersama mereka?"

"Tadi, aku mengantar Leen ke apartemen Aramoun, nampaknya dia menangis setelah itu," terang Afnan.

"Dia benar-benar salah faham. Semalam Aramoun menghubungiku tanpa suara," tandas Alyan.

"Lalu?"

"Sudah pasti pria ceroboh itu kambuh dan  persediaan obatnya sudah habis," jawab gadis itu, geram.

"Kau menginap di kamarnya?" goda Afnan.

"Bagaimana pun daruratnya, itu tidak pernah terjadi. Perlu aku tegaskan lagi, kamarku dan kamarnya bersebelahan, aku tidak punya alasan sampai harus menginap di apartemennya itu!" tegas Alyan, kesal.

Afnan mengumbar gelak tawa khasnya. "Apa aku perlu menyampaikannya pada Leen?"

"Tidak perlu, aku menyesal menceritakannya padamu. Nanti kau akan membuatku malu kalau mengumbarnya di depan Aramoun!"

Alyan mengakhirinya lebih dulu.

Dua pekerjanya datang. Mereka merupakan seorang penghuni camp Palestina dan Suriah.

"Apa aku datang terlambat, Tuan?" tanya Diab, si Suria.

"Tidak, aku memang datang lebih cepat."

"A--, Tuan. Apa saudaraku bisa bekerja hari ini?"

"Tentu saja," kata Afnan.

"Akan kupanggilkan, dia sudah di luar."

"Tuan, 313 paket siap dikirim hari ini. kita tinggal mencantumkan alamatnya saja," kata si Palestin.

"Thob'an, aku akan mengeprint alamatnya." Afnan kembali sibuk dengan laptopnya.

Sebagian besar penduduk yang tinggal di Lebanon adalah pengungsi Suriah dan Palestin. Mereka hanya diperbolehkan menjadi buruh atau bekerja di tempat bergaji rendah, atas izin pemerintah. Sebagian dari mereka juga ada yang membuka kedai-kedai makanan. Terdapat dua kewarganegaraan yang tercantum di kartu penduduk mereka. Yakni Lebanon dan asal negara mereka.

0 Response to "Part 24 : Siapa Aramoun"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel