Part 26 : Pecahnya Hati

Judul       Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh        Halwa M
Genre      Religi-Romance
Part         26

Terkadang perpisahan membuat hubungan seseorang kembali membaik, walau tidak seperti dulu.

🌠🌠🌠

Aramoun dan Leen berpisah sejak mereka masuk ke kantor percetakan Daroul Kotob. Leen ke perputakaan besar  di gedung 3 lantai tersebut. Sementara Aramoun menemui direkturnya.

Aramoun terpukau dengan satu paket kitab yang kini berada di tangannya. Perpaduan warna yang memikat yakni merah dan hitam dengan tulisan khot diwali pada tepi kitab berwarna gold. Pria itu menuruni tangga menuju lantai dasar. Sampai di areal parkir, rupanya gadis itu belum muncul. Leen memang izin padanya untuk mencari sesuatu di perpustakaan berada di lantai 2.

Ia meletakkan satu paket kitab tadi pada dashboard lalu mengambil ponselnya. Pria itu mencari nama Leen. Belum menemukan nama gadis itu, ponselnya terjatuh. Ada serangan mendadak di paru-parunya.

Aramoun mencoba bertahan berpegangan pada pintu mobil, ia tidak mengantongi benda pusakanya. Mata pemuda itu mulai berkunang-kunang dengan himpitan dada yang semakin menjeratnya. Pria itu terkapar di sisi mobil, tak sadarkan diri.

Sementara itu, Leen masih berkutat pada rak-rak raksasa yang merapat di semua sisi dinding diperpustakaan. Ada juga rak-rak yang menyekat membuat perpustakaan ini memiliki banyak ruangan untuk pengunjung.

Rak-rak tersebut sudah dibagi berdasarkan jenis-jenis kitab. Ada kitab-kitab Tafsir, Hadist, Fiqih, dan masih banyak lagi.

Memang di sini tidak terlalu ramai pengunjung, tapi bagian distributor tidak berhenti menyiapkan kitab-kitab yang akan dikirim ke luar negeri. Darul Kotob ini mempunyai cabang di berbagai negara.

"Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkannya juga." Leen mendekap kitab bertuliskan 'Saifullah ( Pedangnya Allah )'.

"Berapa aku harus membayarnya?" tanya Leen pada seorang karyawan.

"Sebelas Ribu Lira," jawab si karyawan.

Selesai bertransaksi gadis itu segera menuju lantai dasar. Saat menginjak anak tangga terakhir, kaki Leen tergelincir. Gadis itu tersungkur di lantai dengan menahan malu.

"Mari kubantu," kata seorang wanita parubaya yang datang menolong Leen.

"Mutasyakir awi." Leen mengucapkan terima kasih pada wanita tadi.

Ia dipapah hingga ke areal parkir. Pandangannya mengedar, tetapi ia tidak menemukan mobil Aramoun. Kaki gadis itu terkilir, sedikit mengeluarkan darah. Tidak ada yang mempedulikannya hingga   hampir dua jam.

Saat ini sama mengesalkan sewaktu Aramoun menjemputnya di bandara dulu. Leen berdecak kesal sambil menitihkan air mata. Ia juga merasa malu jika harus berjalan tertatih di tempat umum seperti ini dan tanpa siapa pun.

***

"Bukan 'kah itu mobil Aramoun?" selidik Afnan.  Pria itu membuka pintu kaca mobilnya, memperhatikan mobil Aramoun memasuki gerbang rumah besar.

"Siapa pengemudinya?" tanya Alyan yang berada di sisi Afnan.

Afnan juga melajukan mobilnya mengekori mobil Aramoun dari belakang.

"Aramoun?" Afnan dan Alyan terkejut secara bersamaan.

Pria yang mengemudi mobil Aramoun ke luar mobil memapah saudaranya.

"Maaf, ada apa dengan saudaraku?" tanya Afnan panik.

"Dia pasti kambuh lagi!" gerutu Alyan dari dalam mobil.

"Aku menemukannya terkapar di depan kantorku. Lalu bosku menyuruh mengantarnya ke alamat ini," jelas pria itu.

"Bukan 'kah dia bersama seorang wanita?" tanya Afnan.

"Aku tidak tahu." Pria itu mendudukkan Aramoun kembali di kursi mobil.

Aramoun terpejam tak berdaya. Afnan berusaha menghubungi Leen. Rupanya, ponsel gadis itu berdering di dalam mobil.

"Ah, Ya Rabb. Bagaimana dengan Leen?" Afnan semakin panik.

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu kembali ke kantor," kata Afnan.

"Terima kasih."

"Lalu bagaimana denganku?" protes Alyan.

"Kau urus Aramoun, aku yakin Leen masih di sana."

Afnan bersama seorang karyawan Tuan Ali Baydoun melaju ke kota Aramoun. pria itu menunjukkan jalan pada Afnan. Mereka tiba di tempat setelah menempuh waktu dua puluh menit.

Seperti menemukan oase di tengah gurun, Leen merasa sangat tertolong saat melihat sosok Afnan. Setelah tiga jam ia tak dapat melakukan apa-apa.

Gadis itu duduk di kursi alumunium. Ia tampak lemah tak berdaya.

"Mau pulang denganku?" ajak Afnan.

"Tentu saja. Kakiku terkilir, aku tidak bisa melakukan apa-apa."

"Ayo, aku bantu." Afnan mengapit lengan gadis itu.

Leen berpegang kukuh pada pundak Afnan.

"Tadi, Aramoun ...," kata Afnan terpotong.

"Jangan sebut dia lagi!" gertak Leen.

Afnan berjalan memapahnya. Belum memasuki mobil, Aramoun muncul diikuti Alyan.

Bisa dibayangkan bagaimana amarah yang diperlihatkan gadis itu lewat tentara hatinya. Wajah pucat Aramoun pun tak terlihat di mata gadis itu. Ia masih memendam amarah. Gadis itu tak mau mendengar alasan apa pun. Yang jelas ini yang ke dua kalinya Aramoun muncul bersama Alyan di situasi yang sulit. Aramoun juga belum memberi penjelasan apa pun tentang Alyan.

Hingga Afnan melajukan mobilnya bersama hati Leen yang terluka. Aramoun kecewa pada dirinya.

***

"Jadi putraku, tidak terdaftar menjadi wali untukku?" Nyonya Shima Menyimpulkan.

"Tentu tidak. Saat ini walimu adalah paman Mahmud." Tuan harun membelakanginya.

"Aku sudah tahu. Aku hanya ingin memberi tahumu tentang pernikahanku ini," tuturnya.

"Aku sengaja mendekatkan Aramoun dengan Alyan, agar dia menemukanmu. Apa kau tahu dari Alyan?"

"Aku menemukan kenangan putraku di rumah paman Mahmud."

"Setelah sekian lama, rupanya kau bisa pulih juga dari situasi itu  dan ... masih sanggup bicara denganku?" Tuan Harun terheran.

"Terkadang perpisahan membuat hubungan seseorang kembali membaik, walau tidak seperti dulu.

Aku terpuruk cukup lama setelah kau mengusirku. Aku baru kembali ke Tripoli satu tahun terakhir. Apa masih tersisa kebencian untukku?"

"Aku tidak pernah benci padamu. Aku hanya ingin meluruskanmu."

"Baiklah, aku tidak mengingatnya lagi." Nyonya Shima mengulurkan tangannya.

"Itu tidak perlu, kita bukan siapa-siapa lagi," tolak Tuan Harun.

Nyonya Shima beranjak Meninggalkan Tuan Harun.

Prang!

Benda-benda dari atas meja Tuan Harun berjatuhan, bahkan sebagian ada yang hancur. Ada sedikit penyesalan di hati Tuan Harun, melihat mantan istrinya berubah drastis. Dulu wanita itu seperti Leen, punya banyak gaya busana, belum berhijab, dan digandrungi para laki-laki. Saat itu Tuan Harun kurang bersabar menangani ibu dari Aramoun tersebut.

***

Tap!

Tap!

Leen melempari kerikil ke dinding kamar Aramoun. Gadis itu terduduk di kursi panjang dengan banyak kerikil di sisinya.

"Apa yang kau lakukan?" Aramoun datang.

"Aku sedang melempari setan yang ada di dalamnya!" gertak Leen. Gadis itu meniru-niru orang yang melempar jumrah.

Aramoun menahan tawa. Pria itu hampir menyentuh ubun-ubun Leen, tetapi Leen segera menepisnya.

"Afnan ...," panggil Leen saat pria itu muncul. Ia meminta bantuan padanya.

Afnan sekilas menatap Aramoun. Wajah pria itu sudah seperti kobaran api yang menyala. Leen pun beranjak dengan bantuan Afnan.

0 Response to "Part 26 : Pecahnya Hati"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel