Part 18 : Kembali

 Judul       Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh            Halwa M
Genre      Religi-Romance
Part         18

Jika  pada akhirnya aku mati karenamu, mungkin ini yang kau bilang 'rasa ini akan membunuhku'.

🌠🌠🌠

Apa yang ada di hatinya tidak kurang sedikit pun. Malah semakin besar sebesar kubangan bekas meteor atau sedalam letaknya sungai di bawah laut sana. Entah bagaimana gadis itu sekarang? Apa dia bertemu Afnan lalu mereka bersorak riang? Membayangkan hal itu, ia jadi ingin menghilang sekali pun di dalam perut ikan, asalkan ia tak melihat mereka saling menatap penuh rindu.

Ini sudah pukul 11.00 malam, Aramoun tetap bertekad kembali ke Beirut, seperti tekadnya meninggalkan Beirut dulu. Jangankan terpenjara, hatinya terkunci pun tidak. Mobilnya berpacu melawan angin.

"Satu jam, mungkin Leen sudah tidur. Afnan tidak akan bertemu dengannya malam ini," gumamnya, menenangkan diri.

Tangannya tiba-tiba terasa dingin, ada  ledakan hebat di jantungnya sejak ia memutuskan untuk bertemu si penyihir hati, getaran di dadanya menembus kerongkongan ingin berteriak dengan bait-bait syair.

"Harus 'kah aku segembira ini, ya Rabb? Atau meratapi kegagalan menjalani taubatku?" keluh Aramoun, menyandarkan dahinya sebentar pada setir mobil.

Entah sudah berapa kedai makanan atau toko roti yang ia lirik, tetapi memilih tidak berhenti. Satu detik baginya saat ini begitu berharga, padahal perutnya sangat lapar.

Malam seperti ini di Tripoli sudah sangat sepi. Tidak ada wanita-wanita yang berkeliaran dengan gaun anggun mereka di sini untuk menghadiri pesta, konser musik, atau berbagai event Kecil-kecilan seperti di Beirut. Kebanyakan wanita muslimahnya mengenakan kerudung hitam. Mereka punya kepribadian angkuh, demi menjaga kehormatan. Jalan utama Tripoli membelah dua bukit. Sebagian cahaya pelita nampak tersusun indah dari bawah ke atas. Sebagian lagi, jalanan melayang lebih tinggi daripada rumah-rumah atau bangunan yang terlihat cahayanya saja malam ini.

Mungkin, jika Qois, pasti sudah menciumi dinding-dindingnya begitu tiba di kota Laila. Tetapi tidak dengan Aramoun, ia masih dapat bertemu Leen kapan pun yang ia inginkan, cukup bagaimana pria itu mengatur teriakan jantungnya saja.

Kemegahan Beirut  mulai terlihat setelah menempuh satu setengah jam perjalanan. Untuk sekadar memesan minuman sambil menyesap shisa, kedai minuman menjamur di pinggir jalan walaupun hanya beratap tenda kecil atau naungan pepohonan dengan banyak pengunjung.

Gemerlap kota kosmopolitan itu sudah dilaluinya. Gerbang setinggi empat meter mulai terlihat. Hanya ada cahaya dari lampu kecil di depan gerbang itu. Aramoun mengklakson mobilnya.

"Selamat datang, Tuan." Hamed tersenyum sumringah saat melihat kembali wajah tuan bungsunya.

Wajah lelah Aramoun menyunggin senyum sesaat. "Apa ada seseorang datang kemari malam ini?" tanya Aramoun membuka kacanya, memastikan kedatangan Afnan.

"Tidak, Tuan."

"A ... baiklah." Aramoun mengangguk lega.

Setelah memarkir mobilnya, pria itu segera menembus gerbang pelindung untuk Leen. Pemuda itu melangkah perlahan, ia berusaha mengkondisikan jantungnya dengan baik. Belum lagi paru-parunya jangan sampai kehabisan oksigen.

Pria itu menaiki anak tangga kamarnya. Ia membalikkan badan, memperhatikan sekelilingnya terutama kamar gadis itu. Ternyata, tidak ada yang berubah. Ia ingin melongok sebentar, mencuri pemandangan indah di wajah gadis penyihir hati.

"Ya Rabb, kodenya masih sama. Bagaimana bisa ia mengabaikan
pesanku?" Aramoun memasuki kamar itu.

Tangannya menahan dada, mengembus napasnya lewat mulut beberapa kali, mengendalikan ruhnya yang hampir hilang.

"Tidak ada? Kemana perginya gadis itu?" gumamnya.

"Leen!" panggil Aramoun.

Aramoun tetaplah Aramoun. Pria itu mengendap mengikuti nalurinya. "Tidak ada?" Ia sedikit mengintai di balik dinding toilet. Lebih parahnya lagi, ia menyingkap korden setelah membuka pintu kacanya.

Entah mengapa pria itu mendadak rapuh, tidak seperti Leen saat gadis itu mengalami hal yang sama.

"Jangan salahkan siapa pun jika aku tak lagi di sini!" Peringatan Leen waktu itu sudah ia dengar dua kali.

Aramoun terduduk lemas di lantai dekat ranjang, salah satu lututnya di tegakkan. Tangannya meraba saku trench coat mencari Inhaler lalu disemprot ke mulutnya.

Ia mencari tempat ternyaman untuk berbaring. Keharuman gadis itu tidak tersisa di sini. "Apa sudah cukup lama kau pergi?" sesalnya. Ia berbaring di ranjang masih dengan pakaian lengkap.
Ia terlelap sebentar.

Pukul 02.00 dini hari. Seorang pria dengan topeng transparan membalut wajahnya menekan tombol kamar Leen. Pria yang sama seperti sebulan yang lalu. Ketika seisi rumah mulai melupakan peristiwa itu, ia datang lagi.

Pria itu berhasil masuk dengan cepat. Pandangannya langsung tertuju pada seseorang di balik bed cover.

Aramoun membuka mata terkejut saat bed covernya disingkap. Ia terkesiap, pria misterius itu hampir melarikan diri. Aramoun bangkit mengejarnya.

Perkelahian terjadi. Aramoun mencengkram pundak pria tadi. Si pria  memutar tubuhnya melepas cengkraman Aramoun lalu melayangkan pukulan ke wajahnya hingga mundur beberapa langkah. Aramoun mendorong pria itu ke dinding, memukul ulu hatinya beberapa kali. "Bagaimana bisa kau masuk ke kamar ini!" Kekuatannya bercampur amarah. Pria itu mengerang kesakitan. Aramoun menarik kerah bajunya, menyeretnya ke luar kamar.

Aramoun hampir menarik topeng di wajah pria itu. Si pria membidiknya dengan senjata api ke hadapannya. Aramoun mundur seraya mengangkat ke dua tangannya.

Aramoun melirik kesana-kemari, mencari cara untuk menjatuhkan senjatanya. Pria itu sedikit menekan pelatuknya. "Jika  pada akhirnya aku mati karenamu, mungkin ini yang kau bilang 'rasa ini akan membunuhku'." Aramoun sejenak memejamkan mata, melihat bayangan si penyihir hati. Ia berjalan mendekati pria itu, menantangnya.

Dor!

Leen terperanjat. "Ya Rabb, bunyi apa itu?" Gadis itu melepas mukenahnya.

Dor!

Leen kembali terkejut. Kedua matanya terbelalak, dengan tarikan napas yang terdengar. Ia meninggalkan sajadahnya. Memang perasaan takut itu menguasainya. Akan tetapi, mungkin orang-orang di rumah itu akan melakukan hal yang sama, yaitu mencari sumber suara. Gadis itu berjalan dengan hati-hati menelusuri koridor yang terdapat beberapa kamar kosong. Hingga ia tiba di pintu yang menghubungkan dengan kamar-kamar terpisah di luar.

Tirai bening di mata Leen menyelimuti pandangannya, ia terperangah.
Gadis itu tergopoh menghampiri seseorang yang berdiri kokoh dengan pistol di tangannya, membidik ke arah pria di bawahnya. Pria yang terduduk itu sudah terluka akibat timah panas yang menembus lututnya.

Leen menurunkan tangan Aramoun, melarangnya melepaskan peluru lagi.
"Jangan sampai karena ini kita terpisah lagi, biarkan saja. Kau sudah melumpuhkannya," pinta Leen, khawatir jika Aramoun sampai membunuh pria tadi.

Aramoun juga terperangah karena gadis itu masih ada di rumah ini. Penghuni rumah yang lain mulai berdatangan. Aramoun melepas topeng trasparan pria yang sudah dilumpuhkan itu.

"Barra?" Bibi Zanub tak menyangka.

"H-- Barra?" Yang lain pun sangat menyayangkan kejadian ini.

"Ternyata kau penghianatnya?!" Tuan Harun geram lalu menamparnya, tak menyangka ternyata pelakunya adalah supir di rumah itu. 

Aramoun segera melindungi gadis itu dari mata-mata jahat seperti Barra. Mereka masuk ke rumah besar. Hamed dan jundan menggelandangnya ke luar areal  Leen.

Leen menatapnya penuh pengaduan. Bagaimana kepergian Aramoun bukan 'lah hal mudah baginya. Aramoun melihat langit-langit sekilas, meredakan matanya yang berair. Ia tak dapat membayangkan jika Leen tidak beruntung saat itu.

Aramoun menyatukan dahinya dengan dahi Leen dan memegang erat tangan gadis itu. Mereka tenggelam di taman- taman ketenangan. Padahal mereka berada di ruang tamu.

Saat mereka membuka mata, wajah gadis itu sudah basah dengan air mata.

"Bagaimana? Apa kau akan memberi jarak lagi setelah ini?" tanya Leen, menatapnya sendu.

0 Response to "Part 18 : Kembali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel