Part 17 : Menahan marah

Judul       Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh         Halwa M
Genre      Religi-Romance
Part         17

Hadiah menahan marah adalah surga.

🌠🌠🌠

Belum duduk di kursi panas, Aramoun sudah dipusingkan dengan sekelumit masalah yang ada.

"Rasanya, aku ingin tinggal di Gua Ashabul Kahfi dan istirahat 309 tahun di sana," gumam Aramoun.

Pria berdasi itu menatap layar ponsel ingin menghubungi seseorang. Ia memasang headset di telinga kanannya.
"Aku tidak melihatmu tadi pagi, kau di mana?" tanya Aramoun setengah berteriak.

"Aramoun, tenanglah! Telingaku sakit mendengarnya. Aku sudah ke Beirut sejak sore. Kau perlu sesuatu?"

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Kalau itu sangat serius, lebih baik nanti saja sampai kau kembali ke Beirut. Aku harus ke ruang operasi, sekarang. Ah, kau tidak perlu kawatir, aku tidak mengatakan apa pun pada Afnan dan Kakek tentang masalahmu kecuali pagi itu saja. Assalamualaikum." Alyan menutup ponselnya lebih dulu.

Mulut pria itu mencibir setelah suara Alyan tidak terdengar lagi. Gedung dengan lima lantai mulai terlihat.

Aramoun mengenakan kacamata berlindung dari matahari yang mulai terik. Pria itu membenahi kerah kemejanya, sedikit ditegakkan.

Ada pemandangan yang kurang berkenan
di hati Aramoun. Seorang pria dengan rambut kriting sebahu tengah memotret gedung bertuliskan 'Abu Aram Fi Syirkah', milik ayahnya itu. Mata pemuda itu seketika bak pedang terhunus. Ia melepas kacamata. Memang dirinya juga sedang memendam amarah sejak tadi. Pria itu lansung jadi sasaran empuk Aramoun.

Bug!

Pria tak dikenal itu tersungkur di tempat ia berpijak. Kamera di tangannya terpental tak jauh darinya. Sudut bibir pria itu memar dan sedikit mengeluarkan darah.

"Ada apa ini? Apa salahku?"

"Apa kau seorang Intelejen?" Aramoun menarik kerah baju pria itu.

"Aku seorang wartawan, wajar kalau aku mengambil gambar untuk melengkapi informasiku. Apa salahnya?" kilah pria tadi.

"Kau tidak menyadarinya saja, sudah suatu kesalahan!"

Aramoun kembali melayangkan pukulan ke wajah pria tadi. Orang-orang di sekitar mulai panik. Para pegawai di kantor ini belum mengenal Aramoun. Security datang hendak melerai.

"Aramoun, ada apa ini?" tanya Kak Zuhal mencekal lengannya.

Semula ia menyaksikan keributan dari lantai tiga. Menyadari yang bertikai adalah si bungsu, pria itu berlari seperti dikejar srigala.

Orang Lebanon memang tak segan-segan beramah tamah, tetapi mata mereka memburu penuh curiga. Pasca perang saudara selama 15 tahun dan serangan Israel yang membabi-buta, mereka jadi beranggapan bahwa siapa saja bisa jadi musuhnya. Terlebih lagi, orang asing.

"Sorofu ...!" teriak Aramoun pada orang-orang yang mulai berkerumun, penasaran.

Zuhal benar-benar menawan adiknya. Ia menggiring Aramoun hingga ke ruangannya. Mata Aramoun masih berkilat, membuat orang-orang yang hendak mencuri pandangan menjadi takut.

"Dia mengambil gambar gedung ini beberapa kali, tadi!" Aramoun masih meraung marah.

"Apa?!" Zuhal terkejut.

"Tentu saja, yang kulakukan padanya itu sudah benar. Apa kita akan jadi sasaran amukan bom berikutnya? Seharusnya aku memenggal leher pria itu!" Si bungsu belum juga puas.

Zuhal menghubungi seseorang di bawah sana, tak mau pria itu lepas begitu saja.
"Aku sudah menyita kameranya, Tuan. Jangan khawatir," kata security yang ia hubungi.

"Aku harus memastikan pria itu!" Aramoun hampir membuka pintu.

"Kau sudah kehilangan surga, tadi. Jangan sampai kau kehilangan lagi," titah si kakak.

Karena hadiah menahan marah Adalah surga. Sang kakak juga memberi isyarat agar tetap di tempat. Aramoun pun mengikuti keinginan Zuhal. Ia menunggu hasil pembicaraan Zuhal dengan security.

 "Hari ini akan ada tamu dari Beirut," kata Zuhal. Pria itu menyodorkan syai.

Aramoun membelalak dengan leher yang tiba-tiba menjadi kaku. 

"Apa Leen akan ke sini?" bisik Aramoun.

Kuda-kuda berpacu kencang mengitari hatinya, menyuarakan gemuruh. Antara gembira dan penolakan jika gadis itu benar datang.

Tok tok

"Udkhul! ( Masuklah! )" sahut Zuhal saat pintu kamarnya diketuk.

Aramoun enggan menoleh ke arah pintu. Ia menggerutu. "Bagaimana dia bisa menemukan tempat persembunyianku?"

"Assalamualaikum, ya Akhiy, " sapa seorang pria yang baru datang.

"Waalaikumsalam, ahla wa sahla," jawab Zuhal, menjabat tangan pria tadi.

Aramoun mengelus dadanya, lega.

Pria itu menawarkan kerjasama yang belum pernah ada. Dia merupakan Chief Executive Officer Ahla Hayeh, yang bergerak di bidang yang sama. Asokka Nahawan, namanya.

"Ya Rabb, apa yang membuat Anda yakin kami akan menerima kerjasama dengan laba yang terbilang kecil, bahkan Anda meminta kami untuk berkorban?" Peluru pertanyaan Aramoun menyungging senyum pria itu.

"Kau tahu? Aku terbiasa mengelola dana sebesar 5 sampai 10 miliar dollar AS dari investor. Mereka berinvestasi sebanyak mungkin, padahal keuntungan itu sama saja belum nyata. Yang aku tawarkan sekarang, akan mendatangkan dua keuntungan yaitu keuntungan dunia dan keuntungan akhira, walaupun keuntungan dunia terbilang kecil atau bahkan tidak ada. Anggap saja ini investasi akhirat.

Aku juga tahu persis ayahmu. Bagaimana ia bisa membimbing kalian sedemikian rupa, itu karena ayah kalian punya pembimbing atau guru spiritual yang banyak berinvestasi untuk akhirat. Aku menjadi yakin kalian akan menerima kerjasama ini," jawab Asokka panjang lebar hingga Aramoun sulit mengukurnya.

Zuhal dan Aramoun saling berpandangan. Mereka tertawa ringan lalu menyeruput syai masing-masing.

"Kalian tahu, kenapa aku begitu bertekad membangun perkampungan muslim? itu karena kaum masihah, sedang gencar menambah populasi mereka. Salah satu cara untuk menjaga kaum muslim kita dengan membuat suasana islam yang kental. Bisa dengan membuat perkampungan dengan suasana Madinah,  mungkin.  Menyatukan mereka dalam satu lingkungan tentu membuat iman mereka akan lebih kokoh dan dapat mengamalkan syariat dengan mudah," Asokka menambahi.

"Ya Rabb, aku tidak pernah memikirkan saudara muslimku yang lain. Tuan Asokka, Anda memang punya jiwa sosial yang sangat tinggi." Aramoun terkagum.

"Apa ayah kalian masih sering berkunjung ke India?" tanya Asokka.

"Ya, bisa dibilang setiap tahun ayah kami ke sana," jawab Aramoun.

"Aku dengar ayahmu punya cara tersendiri dalam hal menikahkan putra-putranya." Mendengar pujian Aramoun, pria itu tidak melayang begitu saja. Ia pun ingin menyebutkan kebaikan lawan bicaranya.

"Ayah kami sedikit menerapkan kehidupan suku Fosto, Afganistan. Di mana, anak-anaknya dinikahkan dengan kerabat mereka saja. Agar jumlah keluarga kami semakin besar dan lebih kuat untuk kerja sama dalam agama, terutama. Sebenarnya pengaturan seperti ini sudah diterapkan oleh qobilah-qobilah bangsa Arab zaman Nabi dulu, tetapi sekarang hampir tidak ada."

Mereka berdiskusi lama hampir dua jam, hingga Asokka bangun dari duduknya.

"Semoga wacana ini jadi nyata. Aku akan datang lagi bersama beberapa stafku untuk mendiskusikan ini secara resmi," kata Asokka sambil menjabat tangan mereka.


***

"Ya Rabb, hari-hariku hampa sekali ...," sindir Afnan, lalu meneruskan menggosok gigi.

Pria di sampingnya tampak melirik tajam  dari cermin besar. Aramoun juga mulai menyikat giginya. Saat busa pasta gigi mengembang di mulutnya, Aramoun berkata, "Seharusnya, kau menyimpannya di sini," kata Aramoun menunjuk kepala Afnan dengan sikat gigi dari mulutnya, hingga busa-busa menempel di rambut brown pemuda itu, "di sini," lanjut Aramoun menunjuk lagi, hampir mengenai ekor mata pria itu, "dan di sini," pekik Aramoun menunjuk dada pemuda yang lebih usil darinya itu.

Aramoun kembali menggosok giginya. Afnan kesal, ia mencuci rambut kepalanya di washtaple. Aramoun menertawakan sepupunya.

"Lihat, aku saja melihatnya di sini," ejek Aramoun sambil menunjuk cermin.

Hari-hari berlalu tanpa Leen, tetapi ruhnya masih sibuk mencari bayangan gadis itu. Hingga satu bulan lamanya, tidak ada kabar dan tidak saling memberi kabar. Aramoun juga masih menyimpan rapat sekelumit masalahnya dari siapa pun.

Hingga suatu hari Aramoun kehilangan Afnan di rumah itu. Ia pulang sudah cukup larut.

"Apa Afnan belum pulang, Kek?" tanya Aramoun di ambang pintu kamar Afnan.

"Tadi, ayahmu menghubunginya. Dia ingin Afnan segera ke Beirut. Ada yang harus ia kerjakan di sana," jelas Kakek Mahmud.

"Apa? Kapan dia berangkat?"

"Satu jam yang lalu."

"Kalau begitu, aku akan menyusulnya, Kek!"

Lelah di badannya mendadak hilang. Kantuknya berkurang, ia seperti menjawab seruan perang, mendengar musuh sudah menghadang.

Aramoun mengemasi beberapa setel pakaian yang dibawa dengan ransel.

Catatan

Sorofu ...! : Menyingkir kalian ...!

Udkhul!  :  Masuklah!

0 Response to "Part 17 : Menahan marah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel