Part 16 : Matahari redup
Judul Phasmina Merah dari Aramoun
#PMDA
Part 16
By ST Leen
Genre Religi-Romance
Part sebelumnya
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=162601605228270&id=100044352935519https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=162601605228270&id=100044352935519
"Siapa di sana?!" teriak Tuan Harun.
Pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu berlari. Ia belum berhasil membuka pintu kamar gadis itu. Alarm darurat di rumah tersebut menjerit histeris, seisi rumah terbangun. Mereka berlarian berkumpul di beberapa ruangan berbeda. Nyonya Naili mencari tempat di mana Tuan Harun berada.
"Nak ... ini Ayah ..., buka pintunya ...! teriak Tuan Harun menggedor pintu.
Pakaian gadis itu sudah basah karena sejak tadi terduduk lemas di kamar mandi. Suara Tuan Harun memberinya kekuatan. Nyawanya kembali ke raga. Gadis itu berlari, menghentikan isakannya. Nyonya Naili sudah berdiri resah di belakang Tuan Harun.
"Ah, ya Rabb, kau tidak apa-apa, Nak?" tanya Nyonya Naili, gemetar.
"Aku takut sekali, Bu ...." Pengaduan gadis itu diiringi tangisan.
Nyonya Naili memeluknya agar ia merasa lebih tenang.
"Bagaimana dengan pelakunya?!" Tuan Harun berteriak di mulut gerbang pelindung. Seseorang datang padanya dengan membungkuk.
"Maaf, Tuan, kami tidak menemukan siapa pun," ucap Hamed, dengan pandangan risau.
"Bagaimana bisa kalian dibutakan oleh satu orang. Kalian harus menemukannya!" Amarah Tuan Harun menggelegar.
Barra dan jundan tergopoh menghampiri Tuan Harun. Kedua mata Tuan Harun mengawasi sekitar halaman dan gerbang. Kemudian mereka bertiga membubarkan diri melaksanakan perintah Tuan Harun.
Gadis itu dituntun ke rumah besar. Ada yang mengambilkan segelas air putih dan minuman hangat. Bibi Zanub masuk kamar Leen mengambilkan pakaian. Bibi Fetiye berada di sisi Leen, memijit betisnya.
Bukan hanya Leen, semua wanita di rumah itu juga ketakutan karena pelakunya belum tertangkap.
Setelah membersihkan diri, gadis itu terduduk lemas di atas kasur. Rambutnya masih basah. Wajahnya pantas dikasihani. Ia tidak berkata apa pun sejak tadi. Kejadian itu membuat Leen seolah kehilangan pendengaran dan penglihatannya. Ia merespon orang-orang di sekitarnya hanya dengan mengangguk atau menggeleng saja. Di jurang hatinya sana, ia bukan hanya kehilangan Aramoun. Ia juga kehilangan pelindungnya yang bisa menahan diri walaupun seorang gadis berada di sisinya. Kamar Leen sementara ini dikosongkan.
***
Malam yang genting dilalui Leen di Beirut sana. Meski kehangatan api unggun menyelimuti tubuhnya, Aramoun belum bisa tidur. Saudaranya itu sudah mendengkur keras memeluk laptop. Diam-diam Aramoun merebut laptop itu, ia ingin menghapus jejak Leen. Ia tak rela jika penyihir hatinya di nikmati orang lain.
"Password?" Aramoun menutup laptop dengan kasar, bahkan sebelum ia mematikannya.
"Untuk apa Ayah menghubunginya?" gumam pria itu sambil memandang wajah Afnan.
Afnan belum menghubungi Tuan Harun karena sudah terlalu malam. Benang-benang di kepala kian kusut mengingat hal itu. Aramoun membungkus tubuhnya berusaha tidur.
Fajar shodiq mulai muncul, lama setelah taburan bintang dan cahaya rembulan menebar pesonanya. Aramoun mengerjap dengan senyum mengembang. Wajahnya berseri-seri.
"Aramoun?" tanya Afnan heran.
"Kenapa?" jawab Aramoun seakan tak terima dengan pertanyaan pria itu.
"Jangan bilang kalau kau bertemu gadisku!" larang Afnan dengan mimik kesal yang dibuat-buat.
"Hah! kau akan menyesal kalau tahu semuanya," ejek Aramoun.
"Sudah setahun aku memandanginya, tetapi dia tidak pernah hadir dalam mimpiku," keluh Afnan, merasa payah.
"Mungkin hatinya bukan milikmu," sahut Aramoun mengacak rambut saudaranya, kesal.
Afnan melepas tawa khasnya. Aramoun beranjak, waktu subuh masih satu jam. Ia teringat target seratus rokaatnya. Sementara Afnan, mungkin menunggu tongkat Kakek Mahmud yang membangunkannya.
Kekayaan yang teramat besar, ketika sholat tahajud didirikan tanpa meninggalkan sholat subuh berjamaah. Karena mendirikan tahajud tanpa sholat subuh berjamaah, jadi sia-sia.
***
Aramoun beberapa kali menghela napas, kesal. Ia mengunyah makanannya dengan cepat. Matanya terus memburu Afnan di sisinya. Bagaimana tidak? pria itu menyantap makanannya sambil menikmati kecantikan Leen di laptopnya.
Afnan tidak menyadari bahwa di sampingnya ada gunung berapi yang hampir meletus.
"Oh, Paman Harun? aku sampai tidak ingat. Seharusnya, aku menghubunginya, tadi." Afnan melirik Aramoun dan Kakek Mahmud secara bergantian. Ia beranjak dari sisi mereka.
Aramoun menatapnya curiga. Pria itu tak lupa mengambil kesempatan untuk menghapus foto Leen. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti.
"Kakek," sebut Aramoun sambil memberi isyarat pada Kakek Mahmud agar tidak membocorkan tindakannya pada Afnan.
Kakek itu menaikkan ke dua alis dengan mimik heran.
Aramoun membuntuti saudaranya itu, menyadap pembicaraan mereka.
"Aku belum bisa memutuskannya hari ini, Paman," kilah Afnan.
Aramoun mulai menyadap percakapan mereka dari balik dinding. Ia menajamkan pendengarannya. Pria itu malah memukuli dinding karena tak kunjung menangkap inti pembicaraan mereka, hingga Afnan mematikan ponselnya.
Aramoun bergegas kembali ke meja makan. Ia melahap makanan dengan tergesa-gesa. Pemuda itu ingin segera melarikan diri dari keluhan Afnan.
"Kakek, aku berangkat dulu!" ucap Aramoun seraya mencium punggung tangan si kakek.
Aramoun sudah rapih dengan kemeja berwarna biru dengan rompi yang membuatnya semakin rupawan. Ia menyampir jas di pundaknya. Pemuda itu berlari kecil menghilang dari pandangan Afnan.
"Ya Rabb, aku kehilangan lagi yang kedua kalinya ... apa kau yang melakukannya, Aramoun!" teriak Afnan.
Aramoun mengedikkan bahunya dengan mulut mencibir.
"Aku kehilangaan akunnya, lalu kehilangan fotonya .... Dengar Aramoun ... aku akan bertemu dengannya!" celoteh Afnan.
Tin!!!
Mobil Aramoun meluncur. Teriakan konyol Afnan terdengar. Pria itu memukul setir mobilnya.
"Apa Ayah meminta Afnan dengan sholat subuhnya yang sering kesiangan itu, untuk mengajari Leen? Ini tidak bisa dibiarkan!" Aramoun kembali memukul setir. "Bagaimana bisa aku melepas wanita penyihir hatiku ... ah, Ya Rabb ...." Aramoun menyugar rambutnya. "Bahkan sinar matahari terasa redup saat kau ada, karena kau lebih bersinar. Bagaimana aku dapat merelakanmu, Leen!"
0 Response to "Part 16 : Matahari redup"
Post a Comment