Extra part 4

Extra part 4

Leen dan Aramoun mengekori Tuan Harun. Pemuda itu tak kan melepas genggamannya hingga si gadis merasa tenang. Entah vonis apa yang akan dijatuhkan oleh Tuan Harun di ruang sidangnya. Perpisahan? Mereka tidak menunggu vonis untuk hal itu. Leen dan Aramoun telah berusaha masing-masing, tetapi keadaan membawa mereka kembali pada pertemuan.

Badai yang menerpa lilin cinta mereka kian besar. Terlalu banyak jurang yang dilalui. Terkadang mereka selamat dengan ketaatan, terkadang terperosok lebih dalam karena dirasa melanggar.

Mereka didudukkan bersama di hadapan Tuan Harun. "Ayah sudah mengutus tiga orang untuk memanggil kalian. Ada apa? Kenapa kalian tidak mengindahkan panggilan ayah? Terutama kau, Leen. Ayah tidak habis pikir, kalau kau bertindak keras kepala seperti Aramoun," tandas Tuan Harun.

"Ayah, kami ...." Leen hampir menjawab.

"Ayah belum selesai bicara. Akan ada acara besar di rumah Ini, dan itu untuk kalian, juga Afnan. Bagaimana bisa kalian tidak mau tahu hal ini? Apa kalian punya pilihan lain, di luar sana? Kau boleh membawanya Aramoun, tetapi dengan beberapa syarat. Mengenai dirimu, Leen. Kau tidak punya pilihan." Tuan Harun menekan nada bicaranya di setiap akhir kalimat.

"Baik, Ayah. Kami akan taat." Aramoun mempererat genggamannya pada gadis itu, tanpa Tuan Harun tahu. Leen melempar pandangannya kesana-kemari seraya membuang air matanya.

"Boleh saja mencintai seseorang, asalkan tidak melanggar perintah Allah. Jadi, arahkan cinta itu pada yang berhak. Pada istrimu," sorotan mata Tuan Harun menyergap Aramoun, "dan pada suamimu nantinya," kata tuan besar di rumah itu, sambil memburu pandangan ke arah Leen. "Cinta karena Allah tidak membawa seseorang untuk maksiat. Walaupun kalian tidak dapat menyatukan cinta, jangan khawatir, syahid cinta itu ada," tutur Tuan Harun.

Aramoun tertunduk pasrah, sementara Leen mengusap air matanya berkali-kali.

"Tinggal dua hari, persiapkan diri kalian. Bukan berarti masalah akan berhenti setelah menikah, melainkan kita akan menghadapi masalah baru nantinya. Tidak ada jalan kecuali mendekatkan diri kepada Allah dalam menghadapi masalah itu.

Kau boleh meninggalkan tempat ini, Ayah ingin bicara empat mata dengan Aramoun."

Aramoun menuntun punggung gadis itu hingga ke luar ruangan, kemudian ia kembali ke hadapan sang ayah.

"Kau punya waktu dua hari untuk berbuat baik pada istrimu. Istri yang sudah Ayah sahkan sejak kalian belia.

Memang walimah itu sunnah, maka hal-hal yang berhubungan dengannya juga tidak wajib. Akan tetapi, Ayah suka jika kita dapat melaksanakannya dengan sempurna. Jadi, berikan bukti itu. Bukti bahwa kau telah berbuat baik pada istrimu," perintah Tuan Harun.

***

Aramoun melirik arlojinya. Selama tiga jam pria itu menelusuri jejak gadisnya di rumah itu. Ia menembus semua ruangan hingga beberapa kakak iparnya berteriak karena mereka tak berhijab. Sejak berpisah di ruangan Tuan Harun tadi, ia sama sekali belum melihat gadis itu.

"Aramoun ... bantu Ibu Nak ...," seru Nyonya Naili.

Aramoun sedikit kesal, pencariannya terhalang. Gelombang kebahagiaan di dadanya menenggelamkan kepedihan setelah ia keluar dari ruang sang ayah. Akan tetapi, kesabaran pria itu sedikit diuji karena si penyihir hati belum dapat ditemui.

"Ada apa, Bu?"

"Bantu Ibu membenahi kamar ini!" teriak Nyonya Naili dari ambang pintu.

Aramoun menghampiri kemudian mengikuti sang ibu tiri. Wanita di depannya itu membalikkan badan. "Riihul 'ajib," kata Nyonya Naili menghirup aroma maskulin dari putra tirinya.

"Ibu, mana yang harus kubenahi?" Aramoun tampak malas menanggapi sang ibu tiri. Ia ingin segera menangkap Leen.

"Itu, paku kecil itu tersangkut. Ibu khawatir akan membahayakan kalian." Ibu tirinya menunjuk ke arah paku kecil yang tersangkut di selambu tipis ranjang tidur.

Taburan bunga mawar di ranjang itu, belum mengalihkan perhatian si pemuda dari pikirannya terhadap Leen. Aramoun segera melaksanakan perintah Nyonya Naili.

"Jangan keluar dari sini!" Nyonya Naili mencabut kunci kamar itu lalu melangkah menuju toilet.

Aramoun mengerutkan keningnya tanpa bicara apa pun. Pria itu terduduk di ranjang dengan paku kecil di tangannya.

Nyonya Naili mendapati gadis itu menangis di depan cermin. Ia sudah membersihkan diri dan terlihat segar. Namun, Nyonya Naili terganggu dengan air mata si gadis.

"Leen ... bukan kah kalian sering bersama, kenapa merasa sulit dengan status ini?"

Gadis itu hanya terdiam dengan luka yang tersirat di mata indahnya. Nyonya Naili membalikkan badan si gadis lalu mengelus kedua lengannya agar ia merasa lebih kuat. Istri Tuan Harun itu membelai rambut Leen yang masih basah. "Mau Ibu bantu mengeringkannya?"

"Tidak perlu, Bu ...."

"Kalau begitu, berikan Ibu senyuman manismu ...," pinta Nyonya Naili.

Leen pun tersenyum seraya menitihkan air mata.

Nyonya Naili beranjak dari sisi gadis itu. Ia mendapati putra tirinya tengah berleha-leha malas. "Aramoun, bujuk dia dengan sabar. Wanita itu, hatinya mudah patah." Nyonya Naili menepuk pelan bahu Aramoun. Nyonya Naili mengunci kamar itu dari luar.

"Jadi sejak tadi Leen di sini?" Aramoun tersenyum seorang diri.

Pria itu melangkah perlahan menuju toilet. Sejak suara pintu yang dibuka terdengar, Leen memejamkan mata. Ia tak sanggup melihat seseorang yang menghampirinya. Gadis itu masih berada di hadapan cermin.

Mahkotanya disingkap dari belakang. Sengatan halus mulai terasa di tengkuknya. Leen membuka mata, lalu yang terlihat adalah sosok Aramoun. Gadis itu terkesiap membalikkan badan, mendorong pria itu. "Aramoun! Jangan melampaui batas!" pekik si gadis.

"Akan kuberi jawabannya, nanti. Kita yang dinikahkan sejak belia, bukan kau dengan Afnan. Ayah yang mengatakan hal itu. Ibu juga yang sengaja memanggilku lalu mengurung kita di sini," ungkap Aramoun.

Leen tergagap tak dapat berkata. Aramoun kembali meyakinkannya dengan tatapan. Air matanya yang meleleh terasa dingin, pertanda bahagia. Gadis itu menangkup tengkuk Aramoun. Tangan si bungsu Tuan Harun itu juga menerobos pinggang Leen, membalas pelukannya.

"Akhirnya, cintaku tidak lagi tersesat dan menemukan tempat kembali," ucap Aramoun.

Malam itu menjadi malam berakhirnya jurang-jurang yang mereka lalui sebelum itu. Kepedihan sirna begitu saja. Bukan lagi cinta yang dikatakan aib, bukan lagi cinta yang membuat pemiliknya berdosa, melainkan, cinta yang akan membimbing mereka untuk taat.

Sebesar apa pun masalah yang terjadi pasti akan ada akhirnya, entah kapan pun itu. Masalah yang semakin memuncak, menandakan masalah itu akan selesai jika menjalaninya dengan takwa.

***

Beberapa hari sebelum Afnan mengajak Alyan menemui Leen, pria itu melamar seseorang yang sejak lama dekat dengannya.

"Aku tidak punya kedekatan dengan wanita mana pun. Bertahun-tahun denganmu, aku menemukan kecocokan," ungkap Afnan.

"Apa hanya karena kau kasihan padaku?"

"Jangan mempersulit dirimu, Alyan ...."

"Aku tidak mempersulit diri. Lebih baik tidak, sebelum kau kesulitan karena aku," sergah Alyan, membalikkan badan.

Meski pada mulanya Alyan menolak, tetapi Afnan berhasil meluluhkan gadis itu, setelah memberinya waktu beberapa hari. Alyan menyadari kekurangannya. Ia mengajukan usulan aneh yang membuat Afnan sulit mengembalikan kerutan di keningnya.

"Terima kasih, telah menjadikanku yang pertama. Kau boleh mendatangkan yang ke dua, tetapi tidak untuk yang ke tiga," kata Alyan.

Gurauan bagian dari hari-hari Afnan. Baru kali ini wajah serius pria itu dapat meyakinkan Alyan. Alyan sendiri memang tidak punya pilihan untuk mendapatkan seseorang yang menerima kekurangannya. Namun, ia percaya kebaikan pria itu dan mereka memang saling menyayangi sejak lama.

Tidak seperti Aramoun dan Leen yang telah disahkan sejak belia. Afnan dan Alyan baru diakadkan hari ini. Walimah mereka akan diadakan secara bersamaan  besok.

***

"Selamat, Aramoun. Ibu senang sekali, Leen terlihat sangat bahagia sekarang. Tidak seperti kemarin, Ibu sampai khawatir," ungkap Nyonya Naili seraya menepuk bahu Aramoun beberapa kali.

Aramoun tertawa lirih. Ia sesekali menghindar dari pukulan kecil ibu tirinya. Leen datang dengan gugup. Aramoun dan istrinya saling melirik. Mereka hendak menunjukkan bukti yang diminta sang Ayah.

"Ibu, ini bukti yang diminta Ayah." Aramoun menyodorkan sebuah botol kaca kecil yang terdapat sapu tangan di dalamnya, dengan percaya diri.

Leen tertunduk malu. "Ibu, jangan memandangku seperti itu." Leen menutupi wajahnya.

"Di mana air mata yang Ibu lihat semalam?" goda Nyonya Naili. "Baiklah, masih banyak yang harus Ibu urus."

Nyonya Naili meninggalkan mereka, tetapi kali ini wanita itu tidak menyita kunci kamar lagi.

"Bagaimana dengan semua asumsimu tentang status kita waktu itu?" tanya Leen.

"Ayah memang sengaja tidak memberitahuku tentang status kita. Pengetahuan agamamu sangat minim, karena itu ayah ingin aku mengajarimu terlebih dahulu. Ayah tidak ingin kau menjadi penentang suaminya, seperti ibuku dulu," ungkap Aramoun.

"Tentang kakak-kakakmu?" tanya Leen penasaran.

Pria itu mendekatkan wajah. Tentara hatinya bergantian menikmati keindahan bola mata sang istri dan bibir tipisnya yang menawan nan fasih mendzikirkan cinta. "Semua kakakku pernah menyusu pada ibumu, sewaktu keluargaku belum pindah dari Yordan. Aku belum ada saat itu. Mereka disusui ibumu bersamaan dengan ketiga kakakmu. Mengenai undangan yang kutemukan, itu undangan yang salah cetak, karena itu aku hanya menemukan satu saja di laci ayah," ungkap Aramoun.

Salah satu tangan Aramoun menangkup punggung Leen, wajah mereka jadi sangat dekat. Pria itu mencicipi kembali manisnya anggur merah di bawah rongga napas sang istri. Anggur yang tak kan habis walaupun berjuta-juta kali ia melahapnya.

Arahkan cinta itu pada yang semestinya. Jika cintamu tersesat pada kegelapan dosa, maka carilah cahaya dengan mentaubatinya. Cinta itu istimewa jangan sampai menjadi kotor karena salah meletakkannya.

0 Response to "Extra part 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel