Part 19 : Kedatangan Afnan
Judul Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
Part 19
Barang siapa membela orang yang bersalah, maka dia senantiasa dalam murka Allah.
🌠🌠🌠
"Aku tidak bisa membayangkan jika peluru itu ...," kata Leen.
Aramoun mendaratkan jarinya di bibir Leen, agar ia tidak meneruskan bicaranya. Leen tergagap. Matanya terlihat sayu, organ tubuhnya melemah dengan sentuhan pria itu. Belum lagi tatapan Aramoun membuat gadis itu ingin menghindar karena ia merasa seakan jatuh dari ketinggian.
"Kapan kau datang? M-- maksudku kau datang di saat yang tepat," kata Leen.
"Leen," panggilan Aramoun lirih sambil memburu matanya, tetapi bola mata indah itu masih menghindar.
"Bukan aku mengabaikan pesanmu. Aku hanya belum sempat saja mengganti kode kamar itu," kilah gadis itu, memberi keterangan tanpa ditanya.
"Aku juga tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu di kamar itu," ungkap Aramoun dengan sorot meneduh.
"Karena itu, jangan membuat jurang pemisah lagi!" pinta gadis itu dengan mata berair.
Aramoun melepas genggamannya, ia berdiri membalikkan badan menghadap dinding. Ia memukul pelan dinding itu. Pria itu tak mampu memberi jawaban yang menenangkan wanitanya. Mata memerahnya kembali mengedar di langit-langit ruangan Itu, mengingat taubat yang harus ia ulang. Mengingat cinta yang tak dapat disatukan.
"Wajahmu itu mendatangkan masalah, walaupun membuat teman menjadi hormat, tetapi membuat musuh menjadi iri. Kau bisa menyimpulkan sendiri, betapa membahayakannya pria tadi. Jangan sampai wajahmu itu terlihat lagi oleh pria mana pun," kata Aramoun setengah menoleh ke arah gadis itu. "Bahkan karena senyummu itu, masalahku belum juga selesai," bisik Aramoun dalam hati menahan dadanya.
"Kalau aku bilang, orang itu sudah menyelinap untuk yang kedua kalinya ... apa kau?" Bicara Leen terpotong.
"Apa?!"
Aramoun terduduk kembali, rahangnya kaku untuk berkata. Bibirnya sedikit bergerak-gerak tak dapat membela diri, jika sesuatu yang mengerikan itu terjadi pada Leen.
Gadis itu memohon melalui tatapannya. Aramoun menenangkan si wanita dalam pelukan. Kepedihan Leen menjalar ke dada pria itu.
"Kau meninggalkan kepedihan dan ketakutan di sini. Aku bukan hanya dirundung musibah, tetapi aku juga difitnah. Orang-orang berkata itu kau, hingga aku tak 'kan rugi sedikit pun dengan apa yang kau lakukan. Aku terpuruk karena mereka menghinaku. Aku juga tidak terima karena mereka menuduhmu.
Bisa kau bayangkan? Aku menghadapinya sendiri dan membela orang yang tidak ada. Sedangkan kau, tidak peduli padaku. Sampai pada akhirnya, kau sendiri yang datang membuktikan, bahwa orang yang menyelinap malam itu bukan ' lah dirimu," terang Leen. Air mata gadis itu terus menghujan.
Aramoun menyesal, belum banyak yang ia lakukan untuk Leen. Akan tetapi gadis itu sudah banyak berkorban untuknya.
"Siapa yang kausebut mereka?"
Leen melepas pelukan itu. "Siapa pun di rumah ini. Bahkan semua yang datang kemari. Termasuk semua kakak ipar yang sudah empat kali datang, sejak kau tidak Ada. Apa kau tidak merasakan betapa sempitnya aku saat itu? Aku tidak pernah jahat pada mereka, tapi mereka memandangku dengan rendah. Hanya satu hal yang tidak mengecewakanku adalah Allah senantiasa melindungiku dan kedatanganmu adalah akhir dari masalah ini." Leen hampir mendaratkan sentuhan di wajah pria itu.
"Aramoun ...," panggil Nyonya Naili seraya menyalakan lampu.
Mereka salah tingkah, bergeser saling menjauh.
"Ibu," sahut Aramoun.
Aramoun menghampiri ibu tirinya, memeluk dan mencium tangan wanita itu. Nyonya Naili melihat ada yang memar bagian wajah pemuda itu.
"Leen ... ambilkan kompres untuk wajahnya."
Saat Leen beranjak dari mereka, mulai lah Nyonya Naili membicarakan tentang ibu Aramoun. "Bu, maaf aku belum siap menghadapi masalah baru. Aku Akan menyelesaikannya satu per satu."
"A ... Ibu mengerti." Nyonya Naili mengangguk pelan.
Leen sedikit mengambil kesempatan saat Nyonya Naili meminta alat kompres.
Biasanya setelah peristiwa di rumah itu, para asisten rumah tangga berkumpul di dapur membicarakan sesuatu. Kali ini Leen tak akan melewatkan informasi dari obrolan mereka. Walaupun sering kali Leen merasa terpojokkan karena mereka. Tapi apa lah artinya mereka jika kepercayaan Nyonya Naili sudah dikantonginya. Mereka hanya orang-orang lemah dan orang-orang lemah hanya akan bicara di belakang. Terkadang apa yang dilihat dan apa yang di dengar tidak lah sama. Tetapi kebanyakan orang lebih percaya pendengaran mereka dari pada penglihatan. Itu adalah cara penilaian yang tidak adil.
"Ya Rabb, seharusnya kau menyesali perbuatanmu ...," saran Bibi Zanub.
Leen merapatkan tubuhnya ke dinding di sisi pintu dapur.
"Apa? Mana mungkin aku tidak membela keponakanku sendiri?" kata Bibi Fetiye bersikeras membela Barra'.
"Ya Rabb, sekarang kau tahu 'kah dia yang menyebar fitnah dan dia yang pelakunya. Ah, aku tidak habis pikir bagaimana kau memihak orang bersalah."
"Walaupun aku tidak bisa mengeluarkannya dari penjara nantinya ... aku tahu, yang dia lakukan itu pasti ada sebabnya ...!"
"Hati-hati dengan murka Allah, Fetiye ..., kau bukan sekadar membelanya, kau juga terus mempengaruhi orang lain ...."
Membela orang yang bersalah walaupun keluarga atau kerabat sendiri juga tidak dibenarkan. Bahkan pelakunya senantiasa dalam murka Allah, kecuali dia bertaubat.
"Apa keuntunganmu, Bibi Fetiye? Rupanya kau ikut ambil bagian dalam menyebarkan tuduhan itu? Jadi kau juga yang membuatku merasa asing di rumah ini? Setidaknya, berbaik hatilah pada orang yang tidak pernah menyakitimu, jika kau belum bisa menghormati kami sebagai tuanmu. Paling tidak kau tidak menyakitinya." Leen tidak tahan ingin menghentikan keburukan itu.
***
Hingga malam itu dihiasi tahajud menjelang fajar sodiq oleh tuan di rumah itu. Sebuah mobil datang saat orang-orang selesai melaksanakan sholat subuh. Cahaya di langit masih belum terang. Tapi hiasan yang Allah ciptakan senantiasa istimewa untuk dipuji.
Hiasan satu bintang, langit tetap indah. Cahaya rembulan bertabur jutaan bintang, langit semakin mengagumkan. Rangkaian awan-awan yang melayang di bawah matahari yang terik sekalipun, seharusnya terucap pujian, bukan keluhan. Merenungi ciptaan Allah sesaat saja, seperti ibadah selama dua belas tahun yang siangnya berpuasa dan sholat sepanjang malam. Sebaliknya merenungi Zat Allah itu dilarang oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Tuan Harun dan Aramoun baru datang dari masjid terdekat setelah melaksanakan sholat. Cahaya dari mobil itu membuat mereka menoleh. Aramoun tentu sudah menerka siapa yang datang saat itu.
Afnan mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil. Menandakan kedatangan pria itu bukan untuk waktu yang singkat.
"Apa Ayah melanggar norma yang ditanamkan kepadaku?" protes Aramoun dengan suara lirih.
"Ayah tidak melanggar norma apa pun," jawab Tuan Harun singkat.
Jawaban yang cukup mengecewakan bagi Aramoun. Mengenai dirinya dan Leen saja sudah sangat rumit, lalu Afnan?
Afnan mengucapkan salam, pria itu segera mencium tangan Tuan Harun. Ada gelak tawa yang menunjukkan keakraban antara Afnan dengan Tuan Harun. Wajah si bungsu tampak masam. Lagi-lagi Afnan tidak menyadari, pedang di sisinya itu sudah berkilat tajam.
Afnan malah mengajaknya bergurau.
"Wah! Wah! Bagaimana bisa kau datang mendahuluiku di sini? Apa ada jin Ifrit yang menerbangkanmu kemari?"
"Kau sendiri? Berkeliaran kemana? bagaimana bisa kau baru datang?"
Afnan mengerutkan keningnya, menanggapi wajah sarkas pria itu, tetapi tetap saja Afnan mengiringinya dengan gelak tawa.
Hampir keseluruhan ruangan di rumah besar Tuan Harun di desain Arabian yang dimanis dan memberi kesan hangat. Ruang tamu utama berada di paling depan. Warna-warna dengan karakter natural dan tone terang mendominasi ruangan ini. Ada beberapa lampu maroko di meja sisi sofa. Lantainya dibalut permadani berwarna merah.
"Bagaimana bisa tidak ada di sini?" Leen mencari-cari kitab tipis berisi kisah-kisah sahabat Nabi yang dijamin masuk syurga di ruang itu.
Sejak tidak ada teman bicara, diamnya gadis itu jadi berfaedah. Ia menghabiskan waktunya membaca kitab-kitab berisi kisah-kisah. Karena kitab tentang hukum-hukum Islam butuh seorang guru, ia hanya mempelajari yang ringan saja .
Gadis itu mengenakan midi dress floral berwarna hitam dengan phasmina yang memperlihatkan anting anggur hitam di telinganya. Rambut tidak brown lagi, sekarang ia mengganti warna mahkotanya dengan warna burgundiy. Sempurna dengan karya seni di wajahnya yang memberi kesan natural, ia terlihat masih seperti gadis belia dengan postur tinggi sehingga orang lain mengira ia sudah dewasa.
"Hah!" Suara napas gadis itu terdengar.
Leen menjatuhkan apa yang sudah ditemukannya. Lampu di ruangan itu tiba-tiba padam.
Seseorang membungkam mulutnya dari belakang, cengkraman orang itu begitu kuat. Gadis itu melemah, pasrah. Tulang-tulangnya seolah mendadak patah.
Oleh Halwa M
Genre Religi-Romance
Part 19
Barang siapa membela orang yang bersalah, maka dia senantiasa dalam murka Allah.
🌠🌠🌠
"Aku tidak bisa membayangkan jika peluru itu ...," kata Leen.
Aramoun mendaratkan jarinya di bibir Leen, agar ia tidak meneruskan bicaranya. Leen tergagap. Matanya terlihat sayu, organ tubuhnya melemah dengan sentuhan pria itu. Belum lagi tatapan Aramoun membuat gadis itu ingin menghindar karena ia merasa seakan jatuh dari ketinggian.
"Kapan kau datang? M-- maksudku kau datang di saat yang tepat," kata Leen.
"Leen," panggilan Aramoun lirih sambil memburu matanya, tetapi bola mata indah itu masih menghindar.
"Bukan aku mengabaikan pesanmu. Aku hanya belum sempat saja mengganti kode kamar itu," kilah gadis itu, memberi keterangan tanpa ditanya.
"Aku juga tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu di kamar itu," ungkap Aramoun dengan sorot meneduh.
"Karena itu, jangan membuat jurang pemisah lagi!" pinta gadis itu dengan mata berair.
Aramoun melepas genggamannya, ia berdiri membalikkan badan menghadap dinding. Ia memukul pelan dinding itu. Pria itu tak mampu memberi jawaban yang menenangkan wanitanya. Mata memerahnya kembali mengedar di langit-langit ruangan Itu, mengingat taubat yang harus ia ulang. Mengingat cinta yang tak dapat disatukan.
"Wajahmu itu mendatangkan masalah, walaupun membuat teman menjadi hormat, tetapi membuat musuh menjadi iri. Kau bisa menyimpulkan sendiri, betapa membahayakannya pria tadi. Jangan sampai wajahmu itu terlihat lagi oleh pria mana pun," kata Aramoun setengah menoleh ke arah gadis itu. "Bahkan karena senyummu itu, masalahku belum juga selesai," bisik Aramoun dalam hati menahan dadanya.
"Kalau aku bilang, orang itu sudah menyelinap untuk yang kedua kalinya ... apa kau?" Bicara Leen terpotong.
"Apa?!"
Aramoun terduduk kembali, rahangnya kaku untuk berkata. Bibirnya sedikit bergerak-gerak tak dapat membela diri, jika sesuatu yang mengerikan itu terjadi pada Leen.
Gadis itu memohon melalui tatapannya. Aramoun menenangkan si wanita dalam pelukan. Kepedihan Leen menjalar ke dada pria itu.
"Kau meninggalkan kepedihan dan ketakutan di sini. Aku bukan hanya dirundung musibah, tetapi aku juga difitnah. Orang-orang berkata itu kau, hingga aku tak 'kan rugi sedikit pun dengan apa yang kau lakukan. Aku terpuruk karena mereka menghinaku. Aku juga tidak terima karena mereka menuduhmu.
Bisa kau bayangkan? Aku menghadapinya sendiri dan membela orang yang tidak ada. Sedangkan kau, tidak peduli padaku. Sampai pada akhirnya, kau sendiri yang datang membuktikan, bahwa orang yang menyelinap malam itu bukan ' lah dirimu," terang Leen. Air mata gadis itu terus menghujan.
Aramoun menyesal, belum banyak yang ia lakukan untuk Leen. Akan tetapi gadis itu sudah banyak berkorban untuknya.
"Siapa yang kausebut mereka?"
Leen melepas pelukan itu. "Siapa pun di rumah ini. Bahkan semua yang datang kemari. Termasuk semua kakak ipar yang sudah empat kali datang, sejak kau tidak Ada. Apa kau tidak merasakan betapa sempitnya aku saat itu? Aku tidak pernah jahat pada mereka, tapi mereka memandangku dengan rendah. Hanya satu hal yang tidak mengecewakanku adalah Allah senantiasa melindungiku dan kedatanganmu adalah akhir dari masalah ini." Leen hampir mendaratkan sentuhan di wajah pria itu.
"Aramoun ...," panggil Nyonya Naili seraya menyalakan lampu.
Mereka salah tingkah, bergeser saling menjauh.
"Ibu," sahut Aramoun.
Aramoun menghampiri ibu tirinya, memeluk dan mencium tangan wanita itu. Nyonya Naili melihat ada yang memar bagian wajah pemuda itu.
"Leen ... ambilkan kompres untuk wajahnya."
Saat Leen beranjak dari mereka, mulai lah Nyonya Naili membicarakan tentang ibu Aramoun. "Bu, maaf aku belum siap menghadapi masalah baru. Aku Akan menyelesaikannya satu per satu."
"A ... Ibu mengerti." Nyonya Naili mengangguk pelan.
Leen sedikit mengambil kesempatan saat Nyonya Naili meminta alat kompres.
Biasanya setelah peristiwa di rumah itu, para asisten rumah tangga berkumpul di dapur membicarakan sesuatu. Kali ini Leen tak akan melewatkan informasi dari obrolan mereka. Walaupun sering kali Leen merasa terpojokkan karena mereka. Tapi apa lah artinya mereka jika kepercayaan Nyonya Naili sudah dikantonginya. Mereka hanya orang-orang lemah dan orang-orang lemah hanya akan bicara di belakang. Terkadang apa yang dilihat dan apa yang di dengar tidak lah sama. Tetapi kebanyakan orang lebih percaya pendengaran mereka dari pada penglihatan. Itu adalah cara penilaian yang tidak adil.
"Ya Rabb, seharusnya kau menyesali perbuatanmu ...," saran Bibi Zanub.
Leen merapatkan tubuhnya ke dinding di sisi pintu dapur.
"Apa? Mana mungkin aku tidak membela keponakanku sendiri?" kata Bibi Fetiye bersikeras membela Barra'.
"Ya Rabb, sekarang kau tahu 'kah dia yang menyebar fitnah dan dia yang pelakunya. Ah, aku tidak habis pikir bagaimana kau memihak orang bersalah."
"Walaupun aku tidak bisa mengeluarkannya dari penjara nantinya ... aku tahu, yang dia lakukan itu pasti ada sebabnya ...!"
"Hati-hati dengan murka Allah, Fetiye ..., kau bukan sekadar membelanya, kau juga terus mempengaruhi orang lain ...."
Membela orang yang bersalah walaupun keluarga atau kerabat sendiri juga tidak dibenarkan. Bahkan pelakunya senantiasa dalam murka Allah, kecuali dia bertaubat.
"Apa keuntunganmu, Bibi Fetiye? Rupanya kau ikut ambil bagian dalam menyebarkan tuduhan itu? Jadi kau juga yang membuatku merasa asing di rumah ini? Setidaknya, berbaik hatilah pada orang yang tidak pernah menyakitimu, jika kau belum bisa menghormati kami sebagai tuanmu. Paling tidak kau tidak menyakitinya." Leen tidak tahan ingin menghentikan keburukan itu.
***
Hingga malam itu dihiasi tahajud menjelang fajar sodiq oleh tuan di rumah itu. Sebuah mobil datang saat orang-orang selesai melaksanakan sholat subuh. Cahaya di langit masih belum terang. Tapi hiasan yang Allah ciptakan senantiasa istimewa untuk dipuji.
Hiasan satu bintang, langit tetap indah. Cahaya rembulan bertabur jutaan bintang, langit semakin mengagumkan. Rangkaian awan-awan yang melayang di bawah matahari yang terik sekalipun, seharusnya terucap pujian, bukan keluhan. Merenungi ciptaan Allah sesaat saja, seperti ibadah selama dua belas tahun yang siangnya berpuasa dan sholat sepanjang malam. Sebaliknya merenungi Zat Allah itu dilarang oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Tuan Harun dan Aramoun baru datang dari masjid terdekat setelah melaksanakan sholat. Cahaya dari mobil itu membuat mereka menoleh. Aramoun tentu sudah menerka siapa yang datang saat itu.
Afnan mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil. Menandakan kedatangan pria itu bukan untuk waktu yang singkat.
"Apa Ayah melanggar norma yang ditanamkan kepadaku?" protes Aramoun dengan suara lirih.
"Ayah tidak melanggar norma apa pun," jawab Tuan Harun singkat.
Jawaban yang cukup mengecewakan bagi Aramoun. Mengenai dirinya dan Leen saja sudah sangat rumit, lalu Afnan?
Afnan mengucapkan salam, pria itu segera mencium tangan Tuan Harun. Ada gelak tawa yang menunjukkan keakraban antara Afnan dengan Tuan Harun. Wajah si bungsu tampak masam. Lagi-lagi Afnan tidak menyadari, pedang di sisinya itu sudah berkilat tajam.
Afnan malah mengajaknya bergurau.
"Wah! Wah! Bagaimana bisa kau datang mendahuluiku di sini? Apa ada jin Ifrit yang menerbangkanmu kemari?"
"Kau sendiri? Berkeliaran kemana? bagaimana bisa kau baru datang?"
Afnan mengerutkan keningnya, menanggapi wajah sarkas pria itu, tetapi tetap saja Afnan mengiringinya dengan gelak tawa.
Hampir keseluruhan ruangan di rumah besar Tuan Harun di desain Arabian yang dimanis dan memberi kesan hangat. Ruang tamu utama berada di paling depan. Warna-warna dengan karakter natural dan tone terang mendominasi ruangan ini. Ada beberapa lampu maroko di meja sisi sofa. Lantainya dibalut permadani berwarna merah.
"Bagaimana bisa tidak ada di sini?" Leen mencari-cari kitab tipis berisi kisah-kisah sahabat Nabi yang dijamin masuk syurga di ruang itu.
Sejak tidak ada teman bicara, diamnya gadis itu jadi berfaedah. Ia menghabiskan waktunya membaca kitab-kitab berisi kisah-kisah. Karena kitab tentang hukum-hukum Islam butuh seorang guru, ia hanya mempelajari yang ringan saja .
Gadis itu mengenakan midi dress floral berwarna hitam dengan phasmina yang memperlihatkan anting anggur hitam di telinganya. Rambut tidak brown lagi, sekarang ia mengganti warna mahkotanya dengan warna burgundiy. Sempurna dengan karya seni di wajahnya yang memberi kesan natural, ia terlihat masih seperti gadis belia dengan postur tinggi sehingga orang lain mengira ia sudah dewasa.
"Hah!" Suara napas gadis itu terdengar.
Leen menjatuhkan apa yang sudah ditemukannya. Lampu di ruangan itu tiba-tiba padam.
Seseorang membungkam mulutnya dari belakang, cengkraman orang itu begitu kuat. Gadis itu melemah, pasrah. Tulang-tulangnya seolah mendadak patah.
0 Response to "Part 19 : Kedatangan Afnan"
Post a Comment