Part 23 : Sihir Aramoun

Judul       Phasmina Merah dari Aramoun #PMDA
By            ST
Genre      Religi-Romance
Part         23

"Aku sungguh tidak rela melepasmu, bahkan aroma seribu bunga yang semerbak darimu tidak akan kubiarkan laki-laki lain menghirupnya. Aku tidak bisa membayangkan jika yang terjadi lebih dari itu."

🌠🌠🌠

Leen belum bisa lepas dari genggaman pria itu. Mereka berdua ke luar dari kamar Aramoun. Baru selangkah dari pintu kamar itu, Aramoun sudah berdiri tegak dengan mata berkilat.

Bagaimana semerbak seribu bunga dari gadis itu tak rela dihirup pria lain lalu yang terjadi sekarang tak pernah terbayangkan sebelumnya? Semua yang berkilau pada penyihir hati itu, kini dinikmati pria lain. Walaupun sekadar menyegarkan mata saja, itu sudah cukup merobohkan kekuatan Aramoun. Mata kedua pria itu bertarung sengit. Leen memandangi mereka bergantian.

"Jadi ini, yang kau sembunyikan dariku? Tadinya, aku tidak benar-benar ingin merebutnya darimu. Namun, sekarang kau akan tahu, bahwa aku tidak akan mundur selangkah pun."

"Jika kau ingin tahu siapa pria yang sudah dipeluknya di luar sana ...," Aramoun merebut gadis itu dari Afnan.

"Aku tidak peduli!" 

"Tunggu dulu! Ada apa ini?" Leen memandangi mereka.

"Kau tidak mengenaliku, Leen?" tanya Afnan, menunjuk wajahnya.

Kedua alis gadis itu saling bertautan seraya berpikir. Leen masih kebingungan. Ia tidak menemukan jawaban apa pun tentang Afnan.

"Aku tidak tahu darimana harus mengingatnya," jawab Leen.

"Mari, kutunjukkan sesuatu." Afnan hampir meraih Leen lagi.

Aramoun menjauhkan Leen dan menarik gadis itu ke belakangnya lalu berkata, "Mungkin kau salah orang atau sekadar mendapat konfirmasi saja tanpa bercakap dengannya," ketus Aramoun.

Afnan masih tak percaya, sebetulnya dulu ia hanya iseng saja sampai-sampai pemuda itu menyimpan foto gadis tersebut. Saat ini yang ia lihat adalah nyata, maka pria itu tak 'kan menyia-nyiakan gadis seperti Leen.

Tak ingin berdebat lagi, Aramoun membawa gadis itu ke ruang lain.

Leen mundur beberapa langkah, hingga dinding menghentikannya. Mereka berhadapan. Salah satu tangan Aramoun bersandar di dinding, tangan lainnya berkacak pinggang sambil menyingkap jas yang dikenakannya ke belakang.

Pemuda itu sungguh lelah. Sering kali ia bermusuhan dengan perasaannya. Ditambah lagi sekarang ia menghadapi seseorang.

"Sejak kecil aku sudah menghadapi kepahitan hidup. Saat mendapatkan manisnya, aku diuji lagi dengan cinta yang seharusnya kutaubati. Aku tidak leluasa menikmati rasa ini. Cinta sungguh membunuhku." Aramoun meraih pergelangan Leen lalu menyinggahkan telapak tangan si penyihir hati di dada bidangnya. "Mungkin karena seharusnya aku mentaubatinya, hingga Allah datangkan seseorang agar aku memulainya lagi, tetapi aku sungguh tidak rela melepasmu, bahkan aroma seribu bunga yang semerbak darimu tidak akan kubiarkan laki-laki lain menghirupnya. Aku tidak bisa membayangkan jika yang terjadi lebih dari itu."

Nyawa gadis itu hampir saja ke luar, terlunglai sihir-sihir dari bibir pangerannya. "Kenapa kau harus mentaubatinya?" Gadis itu menatapnya getir, bibir bergetar dengan telaga air mata yang hampir menggenang.

***

"Setelah beberapa hari aku tidak kemari, begini 'kah keadaanmu?" tanya Afnan.

Alyan tak menjawab. Biasanya gadis itu banyak bicara, tetapi kini tampak hampir menangis. Afnan meraih gahwa saat ia masih mengaduknya, agar perhatian gadis itu beralih padanya.

"Bagaimana? Apa kau mulai menemukan keberuntungan?" Alyan menopang dagu.

"Keberuntungan atau apa pun itu, yang jelas aku jadi bertikai dengan Aramoun."

Pikiran gadis itu masih buyar. Tidak ada respon sama sekali. Ia bahkan beranjak dari tempat duduknya. Afnan mengekorinya hingga ke balkon.

Gadis itu berpegangan pada pagar balkon lalu menitihkan air mata. Pria itu memandangnya dari samping, menyibak rambut hitamnya. Afnan melepas kacamata wanita itu lalu menyeka kedua  sudut matanya.

"Kak Shima akhirnya tahu kalau pria itu semula menyukaiku. Entah siapa yang membongkarnya, dia juga menyimpulkan kalau aku menyukai Allen. Sampai pada akhirnya Kak Shima membatalkan rencana pernikahan mereka," terang Alyan.

"Bagaimana sekarang?"

"Sekarang, bagi mereka itu semua sudah berakhir. Allen mendesakku agar Kak Shima tidak membatalkannya. Pria itu juga menyalahkanku atas kerumitan mereka. Beruntung, aku berhasil membujuk Kak Shima."

"Bagaimana denganmu?" tanya Afnan, mengelus punggung gadis itu.

"Ini bukan masalah sepele karena aku menolak seorang pria, lalu imbasnya ia akan mencari wanita lain.

Sebesar apa pun aku menyukai seseorang, semuanya akan tertahan karena aku bukan wanita sempurna. Rahimku koyak karena kecelakaan 2 tahun yang lalu. Mana ada pria yang mau denganku?" Alyan tersedu.

Pria itu terperangah sesaat. Afnan menyandarkan kepala wanita itu di bahunya. "Bersabarlah, kau akan menemukan jalan terbaik nantinya," kata Afnan menghibur gadis itu.

"Bahkan Aramoun pernah memintaku untuk menikah dengannya. Dia merasa berdosa karena sering terjadi kontak fisik di antara kami. Padahal aku hanya memperlakukannya hanya sebagai pasien seperti yang lainnya, tetapi aku menolak karena hal itu."

"Apa? Aramoun melamarmu?" tanya Afnan terkejut.

"Tapi kami sama-sama menganggap itu angin lalu karena tidak ada rasa dan tidak terjadi apa-apa di antara kami."

Afnan mungkin memperoleh informasi penting di tengah perhelatannya dengan Aramoun tadi pagi. Pria itu tidak ingin bersaing dengan cara yang tidak sehat. Beda ceritanya jika yang dilakukan Aramoun adalah bagian dari pengkhianatan pria itu kepada Leen. Entah Leen dan Aramoun menjalin hubungan atau tidak, tetapi yang ia tahu mereka punya kedekatan yang istimewa.

***

Berteman angin yang sepoi-sepoi menyentuh kehalusan kulitnya, Leen terduduk di kursi panjang seorang diri. Di depan kamar lamanya, menanti Aramoun.
Sudah dua jam, Aramoun belum muncul juga. Hingga kantuk menyerangnya.

"Pantas saja sudah pukul 11.00, apa dia tidak pulang?" Leen bangkit dari duduknya.

Pandangannya mengedar ke arah gerbang pelindung, sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Aramoun.

"Ah! Aramoun?" Seseorang menepuk pundak gadis itu. Leen sedikit kecewa, rupanya yang datang adalah Afnan.

"Jangan sembarangan menyentuhku!" gertak Leen.

Pria itu kembali menyuarakan gelak tawa.

"Kekasihmu itu mungkin melarikan diri dengan wanita lain ...," ejek Afnan.

"Afnan ...." Gadis itu menghentakkan kakinya, geram.

"Kenapa ini masih ditutupi?" Afnan hampir menyingkap tirai di wajah gadis itu.

Cepat-cepat Leen menampiknya.

"Aramoun tidak pulang gara-gara kau!" gerutu Leen. Ia meninggalkan Afnan yang mencibirnya.

Hingga pagi tiba. Leen mencari Aramoun membuka kamar pria itu. Kamar pemuda itu kosong.
Ia mulai resah, kalau nantinya pria itu meninggalkannya lagi.

"Ibu, apa Aramoun tidak pulang semalam?" tanya Leen pada Nyonya Naili yang sedang menata sendok di meja makan.

"Mungkin dia di apartemennya. Tadi subuh dia tidak terlihat mendampingi ayahmu ke masjid," jelas Nyonya Naili.

"Bu, boleh aku membawakan sarapan untuknya?" tanya Leen.

"Ada apa, Nak? Kau tampak khawatir. Apa ada masalah di antara kalian?" Nyonya Naili ikut khawatir.

Mata Leen berkaca-kaca. Ia tidak menjawab pertanyaan Nyonya Naili. Wajah gadis itu menunduk, kedua tangannya saling meremas.

"Baiklah, kau akan ke apartemennya?"

Leen mengangguk lemah.

"Tenang saja, Nak. Kalau dia ingin pergi jauh, pasti pamit pada Ibu." Nyonya Naili menyunggingkan senyum.

"Namun, tidak denganku," tutur Leen, terlihat masih cemas.

"Kalau begitu siapkan apa yang akan kaubawa," titah Nyonya Naili. "Biar nanti Afnan yang mengantarmu."

Leen melirik ke arah Afnan yang baru duduk di kursi. "Tidak perlu, Bu. Aku bisa menyetir sendiri," elak Leen.

"Nanti ayahmu malah melarang," kata Nyonya Naili.

"Kalau kau khawatir Aramoun akan marah, aku bisa langsung pergi," celetuk Afnan.

Leen tak dapat mengelak dari tawaran Afnan dan saran Nyonya Naili. Ia pun pergi bersama Afnan. Tidak seperti bersama Aramoun, gadis itu memilih duduk di belakang. Ia juga tidak banyak bicara kecuali ditanya.

"Aku adalah satu-satunya pria yang kau konfirmasi di media sosial. Akun facebookmu 'Bintusy Syams' ( Gadis Populer ) 'kan?"

Leen terkesiap. "Yang kau katakan itu benar, tapi tentang konfirmasi itu ..., aku hanya salah menekan tombol saja. Buktinya semua pertanyaanmu tidak ada yang kubalas. Jadi wajar saja kalau aku tidak ingat apa pun tentangmu," tandas Leen. Gadis itu membuang pandangannya ke arah jalan.

Afnan tersenyum, setidaknya mendengar gadis itu berbicara sudah membuatnya merasa beruntung walaupun dengan memperlihatkan taring predatornya.

"Jadi, kau benar-benar gadis itu?  Bagaimana bisa kau ada di sini?"

Leen malas menjawabnya.

"Kalau aku tidak bisa mengganti posisi Aramoun, setidaknya kita bisa jadi teman 'kan?"

Afnan seperti bicara dengan batu.

Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, mereka berhenti di depan gedung apartemen Calivier. Leen mendongakkan kepalanya ke arah gedung lantai tersebut. Kamar Aramoun berada di lantai sepuluh. Ia berjalan tanpa Afnan.

Ting!

Pintu lift terbuka, ia sudah tiba di lantai yang  dituju. Ia mulai mengontrol rasa yang menjalar dari jantung hingga ke seluruh tubuhnya.

Leen menekan bel di sisi pintu. Gadis itu sudah mengembangkan senyumnya di balik niqob.

Aramoun membuka pintu. Leen merasa sangat beruntung karena pria itu tidak pergi jauh. Mata gadis itu berbinar seolah ia melewati gunung dan lembah untuk sampai di sisi Aramoun.

"Leen?"

"Siapa yang datang Aramoun?" Alyan muncul melebarkan pintu yang dibuka Aramoun.

Kotak makanan terjatuh dari tangan Leen.

"Bagaimana mungkin, sepagi ini sudah ada seorang wanita di sisinya?" Batin Leen, menjerit.

0 Response to "Part 23 : Sihir Aramoun"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel