Part 10 : Jejak kebaikan


Ilustrasi Gambar oleh Igor Schubin dari Pixabay

10. Jejak Kebaikan

"Kalau aku berbulan madu dengannya, ia akan mengajakku ke sungai bawah laut atau ke kubangan bekas meteor jatuh."

🌠🌠🌠

Aramoun menyingkap tirai melongok ke bangku belakang. Gadis itu duduk memeluk lututnya ( duduk ihtiba' ), melirik dengan risau kesana-kemari.

"Ayo, kemari." Aramoun memberi isyarat, supaya Leen duduk di sisinya. "Aku ingin mendengarnya sekali lagi," sindir Aramoun, berlembut-lembut pada mangsanya.

Leen melangkah pasrah. Gadis itu menyiapkan hati, jika tiba-tiba halilintar kembali menggelegar. Aramoun tak melepas pandangannya sampai gadis itu kembali memasuki mobil, lalu duduk di sisinya.

Mobil kembali melaju. Gadis itu sesekali memberanikan diri melirik ke wajah kaku Aramoun. "Kau--- ti-dak jadi meninggalkan rumah?M-- tidak! Tidak! Maksudku a-pa kau--- berubah pikiran?" tanya Leen tergagap.

Terlalu berani menanyakan hal sensitif di saat seperti ini, gadis itu menundukkan kepalanya sambil memalingkan wajah. "Apa ini? Kenapa diam saja? Apa dia semakin marah?" gerutu Leen.

Gerakan tangan Aramoun perlahan menelusup di balik lapisan niqob, mengurai ikatan di kepala gadis itu. Niqob mendarat lembut di tempat duduk Leen. Gadis itu terkesiap. Ada perpaduan antara manisnya kurma dan masamnya kismis di balik hujan senyuman yang  hampir mencabut nyawa Leen.

Bibir laki-laki itu melebar dengan sorotan polos seperti anak kecil di mata lentiknya. Rambut bagian depan bervolume terlihat selky. Telinga Aramoun sedikit panjang serasi dengan wajahnya.

Menanggapi amarah pria itu terasa lebih mudah bagi Leen daripada merespon senyumannya saat ini. Gadis itu tersenyum kaku sambil mengelus tengkuknya. Leen memungut kembali niqobnya, lalu menyampir sembarangan agar wajahnya tak terlihat. Gadis itu masih ingin tersenyum tanpa diketahui Aramoun.

"Jika yang sudah terjadi kau anggap buruk, maka hari ini aku akan memperbaikinya. Semoga yang teringat di benakmu adalah kebaikan hari ini. Hari di mana aku akan mulai menyingkirkan apa yang ada di hati ini dan aku akan kembali jika berhasil menyingkirkannya."

Leen terpaku. Senyuman di balik tirai wajahnya mendadak hilang. Ia memandang wajah pria di sisinya.

"Oh, ya. Kau harus membayar semuanya. Aku hampir sesak napas karena kau menyebutkan keburukanku, tadi," tandasnya.

Leen tertawa jengah, melihat kembali sisi keras kepala pria itu. "Seperti yang ingin kau lakukan padaku saat ini, maka aku pun begitu." Mereka sepakat untuk saling meninggalkan jejak kebaikan.

Pukul 09.00 mereka tiba di Souk Beirut. sebuah pusat perbelanjaan yang merupakan jantung ekonominya Lebanon. Leen terpukau. Gadis itu di suguhkan pintu masuk Souk Beirut yang mengagumkan. Bukan seperti mall pada umumnya dengan pintu kaca yang didorong atau pun otomatis, di sini terdapat pintu masuk yang menyerupai lorong kaca yang di penuhi lampu hias. Malam hari tentu akan terlihat lebih menawan dari siangnya. Bangunannya masih memperlihatkan pengaruh koloni Prancis dengan ornamen yang lebih modern. Tidak hanya memanfaatkan dalam ruangan, Souk Beirut juga menyuguhkan konsep outdoor, sehingga pengunjungnya seperti berada di jalan raya dengan toko-toko beretalase, memajang kebutuhan para pengunjung. Terutama pakaian, gaun-gaun bertema glamora banyak di temukan di sini.

"Wah, Ibu pasti senang sekali. Selain dapat membeli di butik desainernya langsung, harganya sangat terjangkau." Gadis itu membuat lawan bicara di ponselnya berteriak heboh. "Uang Ibu masih 50.000 dolar," ujar Leen kegirangan.

"Hei, Aramoun!" Seorang pria berteriak seraya melambaikan tangan. Pria itu memberi isyarat supaya Aramoun bergabung dengannya, walaupun sekadar pesta koktail kecil-kecilan.
Terlihat jelas kalau Aramoun tidak suka dirinya terpergok bersama seorang wanita. Nahasnya, pria itu malah mengejar.

"Ayolah, Aramoun. Apa ini istrimu? Aku sangat hapal tinggi badan ibumu."

"Apa kau pernah mendengar aku punya saudara perempuan?"

Leen mengangkat kepala, ekor matanya menangkap Aramoun, ingin menghardiknya. Memang ia tidak membenarkan pertanyaan pria tadi, hanya saja jawaban Aramoun membuat pria itu berasumsi sendiri. Gadis itu mulai merasa tidak nyaman.

"Aku juga bawa istriku. Biarkan saja mereka di ruang privasi." Pria itu menuntun punggung Aramoun.

Uluran tangan Aramoun menelusuri pergelangan gadis di belakangnya hingga jari-jari mereka saling betautan, bersatu dalam genggaman.

Hilal, namanya. Ia hapal sekali bagaimana keluarga Aramoun dengan segala aturan sang ayah. Mereka berteman sejak remaja. Semenjak Hilal menikah, mereka jadi jarang bersama.

"Jika mereka bertanya sesuatu, maka jawab sebisanya. Kalau kau ragu menjawabnya, kirim pesan saja padaku," titah Aramoun, berbisik.

Rasanya, Leen ingin melempar heels ke kepala Aramoun. Gadis itu akan menjadi korban dari masalahnya lagi. Mereka pun berpisah tempat duduk. Para pria duduk di bangku nomor 40, sedangkan wanitanya berada di ruang privasi.

Ada dua wanita yang bersama Leen saat ini, yakni istri Hilal dan istri  Anwar.

"Tidak mungkin kalian hanya berbulan madu di Beirut saja. Kami tahu keluarga kalian sering bepergian ke luar negeri." Sureem, istri Hilal menggoda.

"Ayolah, siapa tahu berikutnya kami akan ke sana," desak Noory, istri Anwar.

"Kalau aku berbulan madu dengannya, ia akan mengajakku ke sungai bawah laut atau ke kubangan bekas meteor jatuh," ketus Leen kesal. Mereka tertawa menganggap Jawaban Leen sebagai lelucon.

"Berapa usiamu? Kau terlihat masih remaja?" tanya Sureem.

"Dua puluh tahun. Bagaimana? Apa dia seperti pamanku karena terlihat tua?"

"Ya Rabb Leen .... Sekilas terlihat seperti itu, tapi jangan khawatir, kalian tampak serasi," timpal Noory seraya menyesap koktailnya.

"Rencana kalian akan punya anak berapa?" Sureem mulai suka dengan jawaban menohok Leen, sampai-sampai wanita itu bertanya hal yang tidak perlu.

"Punya anak? Dia menggandeng tanganku saja baru tadi pagi!" batin Leen, payah.

Leen mulai mengetik pertanyaan yang diajukan Sureem dengan memangku ponselnya. Ia tidak habis pikir akan diberondong dengan peluru pertanyaan seperti ini. Mungkin mereka menganggap Leen dan Aramoun pengantin baru, hingga mereka ingin menggodanya.

{ Sebanyak putra Nabi Ya'kub }
Itu yang muncul di layar ponsel.

Leen menjawab sesuai dengan jawaban Aramoun. Payahnya lagi, gadis itu ikut tertawa tanpa tahu berapa jumlah putra Nabi Ya'kub.

"Ya Rabb, itu melebihi jumlah pria di rumahmu," ucap Noory tertawa geli.

"Apa?" Leen terkejut.

Gadis yang semula penggila fashion itu kembali mengetik.

{ Berapa jumlahnya yang kau sebutkan itu? }

{ 12 }

{ Awas saja kau Aramoun! Aku akan memasukkanmu ke bekas lubang meteor! }

Membaca pesan terakhir dari Leen, Aramoun tahu gadis itu sudah merasa tidak nyaman. Aramoun berpamitan pada mereka. Ia juga tak lupa mengirim pesan pada Leen, mengajaknya pulang. Rupanya, mereka juga memutuskan untuk pulang.

Leen mencium bau parfum beraroma buble sebelum ke luar ruang privasi di Restoran Syarq itu. Entah siapa yang baru menyemprotkannya. Gadis itu tiba-tiba saja ingin muntah. Dia memang tidak suka parfum dengan aroma buble.

Gadis itu lebih dulu meninggalkan dua wanita berphasmina tadi, tanpa sempat berpamitan pada mereka. Gempa susulan di kepala Leen terus mengguncang isi perutnya. Sambil menahan agar sesuatu tidak keluar dari mulutnya, Leen berlari mencari toilet.

Dua wanita yang ditinggalkan Leen saling memandang, lalu mengikuti ke arah mana gadis itu pergi.

Leen memuntahkan isi perutnya di washtaple. Dari cermin besar di depannya, ia melihat Sureem dan Noory yang nampak khawatir.

"Apa ini pertamakalinya?"

Entah siapa di belakangnya yang bertanya, Leen malas menjawab.

"Periksalah, ke dokter! Siapa tahu kau," saran Noory sambil memberi isyarat dengan tangan, membentuk bulatan di perutnya, terlihat dari cermin.

"Ya Rabb, kau benar-benar membuatku gila, Aramoun!" jerit Leen dalam hati.

***

Brak!

Leen menutup kembali pintu mobil yang dibuka Aramoun. Pria itu melihat kilatan api di mata Leen. Aramoun meraih beberapa paper bag dari tangan gadis itu.

"Jadi, ini yang kau bilang aku harus membayarnya?" gertak Leen

Aramoun tertawa jahil.

"Itu tidak lucu! Tidak ada yang bisa kuingat dari kebaikanmu hari ini," tandas Leen.

"Setidaknya, aku sudah rela menjadi supirmu hari ini!" teriak Aramoun sambil tertawa geli, saat gadis itu memasuki mobil.

0 Response to "Part 10 : Jejak kebaikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel