9. Wanita berharga
9. Wanita Berharga
Walaupun istri Fir'aun, jika dalam dirinya ada bekal agama ( Islam ), maka Allah Subhanahu Wa Taala membangunkan istana di surga untuknya.
🌠🌠🌠
Setitik pesan dari rembulan, bahwa cahayanya tetap menyinari walaupun naungan pohon kurma Menghalangi. Tetapi, rembulan tak dapat menjanjikan dua insan dapat hidup bersama. Ia hanya mampu membuat mereka bertemu untuk menikmati indahnya.
Tap! Tap! Tap!
Begitu menikmati purnama malam itu di bawah naungan pohon kurma, Leen tidak mendengar langkah kaki Aramoun menaiki beberapa anak tangga menuju kamarnya. Cahaya terang yang bukan dari pelita itu membuat si pria membalikkan badan dan mengabaikan lelahnya. Mendekat akan tersiksa, tetapi pria itu harus memperbaiki sesuatu.
Aramoun menyampir jas di pundaknya. Pemuda itu menghampiri Leen yang duduk di kursi kayu panjang membelakanginya. Aramoun mendapati gadis itu menghirup udara perlahan, dengan kelopak mata tertutup, mungkin ia sedang menetralkan beban-beban di pikirannya. Tangan Aramoun memegang sandaran kursi dari belakang. Ia sempat membandingkan rembulan dengan wajah gadis itu. Ternyata, sama memikatnya.
Leen terkesiap. Ia terlambat melarikan diri. Aramoun menyampirkan jas di sandaran kursi lalu duduk mendampinginya. Pria itu terlihat lebih berantakan dibanding Leen dengan mata sembapnya tadi pagi.
"Setelah kau membuat masalah, seenaknya saja pergi dan membiarkanku menghadapinya sendiri?" hujat Leen.
"Aku kira, masalahku yang akan selesai setelah mengatakan itu pada Ayah."
"Apa harus dengan menjatuhkanku?"
"Mau bagaimana lagi? masalahku, ada pada dirimu," tandas Aramoun seraya menunjuk ke arahnya.
"Sebutkan saja! Aku siap dibenahi!" tukas Leen. Gadis itu menaikkan kaki lalu memutar duduknya kemudian menghadap ke arah Aramoun.
Aramoun bungkam, ia memandang gadis itu sekilas, lalu kembali menatap rembulan. 'Kalau aku mengatakannya, kau tidak akan di sini."
"Apa? Apa--- itu akan membunuhku?"
"Ya! kalau kau mengalami hal yang sama," gertak Aramoun dengan suara lirih.
Lirikan pemuda itu menikam tajam pada bola mata indah Leen. Wajah sarkasnya begitu dekat, menyadarkan gadis itu bahwa Aramoun bisa saja menerkamnya saat ini. Harapan berdamai dengan pemuda itu semakin kecil. Leen sedikit ketakutan, tangannya menahan dada.
"Aramoun!" panggil Tuan Harun di ambang pintu rumah besar.
Leen menurunkan kakinya bergegas meninggalkan Aramoun, lalu mencari pertolongan di balik pintu kamarnya. Aramoun melangkah malas memenuhi panggilan sang ayah.
Di ruang tamu, Tuan Harun kembali mengintrogasinya. Sebuah teko India berisi cai dan lima gelas mungil tertata rapi di atas meja. Nyonya Naili menuangkan cai untuk tiga orang.
"Ya Rabb, Nak. Rambutmu berantakan sekali. Apa kau habis berkelahi?" tanya Nyonya Naili khawatir sambil membenahi rambut Aramoun kemudian melihat-lihat wajahnya yang lusuh.
"Syukron." Aramoun menerima gelas dari Nyonya Naili.
"Jangan terlalu memanjakannya," larang Tuan Harun.
Nyonya Naili hanya diam.
"Kemana saja kau seharian ini? Ayah tidak melihatmu di kantor, sejak pagi kau juga tidak ada di rumah. Kapan kau akan mulai mengajari Leen?"
Tap!
Gelas kecil mendarat kasar dari tangan Aramoun.
"Aku tidak mau, Ayah!" tolak Aramoun.
"Kalau begitu, Ayah akan menyuruh orang lain untuk mengajarinya."
Baru selangkah Aramoun beranjak, pria itu memutar tubuhnya.
"Siapa? Pria atau wanita?" tanya Aramoun.
"Apa pedulimu, pria atau wanita!"
Nyonya Naili menggeleng heran. Melihat adu mulut antara Tuan Harun dan Aramoun seakan tidak ada habisnya. Sampai-sampai Nyonya Naili bosan menasihati Tuan Harun, agar ia sedikit lebih lembut. Aramoun meninggalkan mereka.
Usai merekam penolakan Aramoun dari balik pintu, Leen berlari kecil mengejar pria itu. Gadis itu benar-benar penasaran tentang sesuatu yang Aramoun simpan di hatinya. "Seberapa besar kebencian yang kau pendam terhadapku, sampai-sampai kau mengabaikan sesuatu yang sangat kubutuhkan saat ini?"
"Kenapa? Kenapa kau sangat membutuhkannya?"
"Walaupun istri Fir'aun, jika dalam dirinya ada bekal agama ( Islam ), maka Allah Subhanahu Wa Taala membangunkan istana di surga untuknya."
Aramoun mengernyitkan dahi, mendengar Leen sudah pandai bicara dengan kata-kata bernilai emas. Ia membuat langkah gadis itu mundur perlahan. Kilatan di matanya membuat Leen lemas. Punggung gadis itu sudah membentur dinding, tangannya bersandar pada rak serbaguna di Sisi gadis itu.
"Apa yang sedang kau katakan itu, tidak pernah ada, walaupun sebiji dzarroh. Kau akan tahu, betapa sulitnya aku, jika kau merasakannya. Simpan saja rasa penasaranmu itu. Jangan bertanya lagi mengenai apa yang ada di hatiku. Sudah kuputuskan, besok aku akan meninggalkan rumah ini," Aramoun menyibak rambut gadis itu ke belakang, "selamat. Kau akan mendapatkan apa yang sedang kau butuhkan, walau tidak bersamaku." Tatapan pria itu sangat sinis.
Napas Leen tertahan sampai Aramoun beranjak dari sisinya. Gadis itu merasa seperti virus mematikan hingga Aramoun menghindar, bahkan ingin meninggalkan rumah ini. Meledakkan amarah di depannya, sudah tidak ada gunanya lagi. Akan tetapi, di sisi lain ia ingin mengakhiri pertikaiannya dengan pemuda itu.
"Minum ini, Nona! supaya Anda merasa lebih baik." Bibi Zanub memberinya segelas cai. Ia memergoki mereka tadi.
"Apa aku terlihat sangat menyedihkan?" tanya Leen gemetar.
"Benar, Nona. Aku rasa semua tadi cukup menyakitkan." Bibi Zanub mengelus punggungnya.
Gadis itu terduduk lemas di sisi rak tadi dengan tatapan kosong sambil memeluk lututnya. Ia tidak ingin menumpahkan air mata walaupun ingin menangis.
****
Suasana sarapan tadi, mengganggu pikiran Nyonya Naili. Tidak ada suara manusia, bahkan sekadar menyapa. Semua makan dengan cepat, lalu membubarkan diri.
Nyonya Naili berinisiatif mengajak Leen berbelanja saat ini. Ia mengintruksikan supaya gadis itu mengganti pakaiannya.
Leen pun sudah rapi mengenakan abaya dan menutup aurat dengan sempurna. Ia tentu sangat antusias, sampai-sampai gadis itu sudah duduk manis di dalam mobil menunggu Nyonya Naili. "Iya Bu. Aku akan mengirimnya, jika hari ini gaun itu sudah ada." Ibu tirinya di Amman menghubungin Leen.
"Apa? Ibu ingin dengan lengan berkelipan seperti bintang? Ya Rabb, Ibu .... Apa Ibu akan menikah lagi?" goda gadis itu pada ibu tirinya. Wanita itu memesan gaun pesta rancangan desainer internasional Elie Saab yang berasal dari Beirut.
"Leen ...," seru Nyonya Naili dari teras rumah. "Ibu tidak ikut. Kau berangkat sendiri saja, teman Ibu akan datang kemari ...!"
Leen melambaikan tangan saat kereta kencana masa kini yang dinaikinya melaju. Gadis itu duduk sendirian di kursi belakang. Terdapat tirai yang memisahkan antara dirinya dengan si supir.
"Kau tahu, Barra? Tuan bungsumu itu akan meninggalkan rumah karena aku. Dia pasti ingin dipandang baik karena tidak mengusirku.
Aku sangat heran, dalam sekejap saja, sikapnya jadi berubah. Padahal, pria itu seperti Qois yang sedang kasmaran sewaktu dia menjemputku di bandara. Dia terus saja menggodaku dengan ucapannya, bahkan dia mengedipkan matanya saat itu. Untung saja aku bukan wanita yang mudah dirayu.
Sekarang, si bungsu itu memandangku seperti kotoran yang tidak ingin dilihat," gadis itu mulai menangis,"apa kau tahu, apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu? Apa dia cemburu karena kasih sayang ayahnya kurenggut?" Leen menghentikan tangisnya. "Apa yang dimilikinya tidak ada yang istimewa, keras kepala, pencemburu dan pemarah!' gerutu Leen.
"Tapi dia pernah berbaik hati padamu, membelikan pakaian tanpa kau minta!"
Siiiit
Mobil berhenti.
"Aramoun?" Gadis itu menyadari sesuatu.
Leen benar-benar meledakkan isi hatinya di telinga Aramoun.
0 Response to " 9. Wanita berharga"
Post a Comment