Part 8 : Taubat
Ilustrasi Gambar oleh Muntaha Nega dari Pixabay
8. Taubat
Dosa yang tidak ditaubati akan meningkat menjadi dosa yang dinikmati.
🌠🌠🌠
Seperti kuda yang lepas tali kendalinya, mobil Aramoun melaju tidak stabil. Sesekali pemuda itu bergumam menyebut asma Allah. Sungguh ia ingin melepas jeratan-jeratan yang membuatnya tak dapat berdamai dengan siapa pun. Tidak ada lagi tempat yang ia tuju selain rumah sakit. Mobil X-tra Grand miliknya sudah terpakir.
Ia berjalan menuju ruang Alyan. Pria itu seolah memasuki bangunan kosong. Para petugas medis yang lengkap dengan seragam mereka, sebagian pasien yang yang melintas didorong menggunakan kursi roda, dan tidak sedikit pasien yang sedang antri diantar anggota keluarga mereka, semua hilang dalam penglihatannya.
Brak!
Pintu ruang spesialis paru-paru itu menjerit setelah Aramoun membantingnya. Ia juga mengunci pintu itu.
"Aramoun?" Alyan bangkit dari duduknya. Langkah gesitnya menghampiri Aramoun.
"Apa yang harus kulakukan? Aku kembali menyakitinya!" pekik Aramoun.
Tak pernah dilakukan sebelumnya. Tiba-tiba, Aramoun memeluk Alyan. Wanita itu sama sekali tidak membalas pelukannya. Bahkan, sekuat tenaga ia berusaha melepas.
"Tetaplah pada batasanmu, Aramoun. Aku tahu siapa yang ingin kau perlakuan seperti ini. Bukan kah sudah kubilang, kau akan kehilangan waktu bersamanya. Jadi, perlakukan dia sebaik mungkin!" hardik Alyan.
Alyan mendorong pria itu. Ia mundur selangkah, lalu terduduk di sofa. Tangan Aramoun meremas kepala, menahan tekanan. Perlahan pria itu meraba dada. Paru-paru pemuda itu mengalami penyumbatan. Kecemasan berlebih membuat penyakit asmanya kambuh.
"Di mana inhalermu?" Alyan meraba kantong jasnya. Namun, sayangnya Alyan tidak menemukan apa pun.
Suara napasnya semakin terdengar, mulutnya terbuka, tangan kanan pria itu meremas dada dan kedua mata Aramoun terpejam.
"Ah, Ya Rabb ...." Alyan menyentuh layar ponselnya memanggil seorang petugas apotek.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Alyan berlari membukanya. Fareha juga muncul saat itu. Alyan menyemprotkan inhaler di mulut Aramoun lalu mengatupkannya. Pria itu berbaring di sofa sambil berselimut. Alyan segera menarik kawannya ke luar dan membiarkan Aramoun beristirahat.
"Apa dia datang dalam keadaan seperti ini?" tanya Fareha.
Alyan menggeleng pelan.
"Aku habis memarahinya, tadi. Bayangkan saja, dia habis memelukku." Bukan ekspresi gembira yang ditunjukkan Alyan, ia malah tampak tidak suka.
"Hah, akhirnya ...," Fareha menangkup mulutnya yang tercengang, wajah girang Fareha mendadak hilang, "tetapi, kenapa kau malah memarahinya?"
"Kalau sudah begitu, akan sangat mudah bagiku untuk menyukainya. Lagipula, aku tahu siapa yang ingin dia perlakukan seperti ini. Tentu saja itu, tidak adil bagiku," tukas Alyan.
"Setidaknya kau gunakan kesempatan ini," sarannya.
"Kalau kau tahu seperti apa wanitanya, maka kau akan mundur seribu langkah, malah aku ingin menyatukan mereka."
Pembicaraan mereka semakin serius. Mereka kini duduk di taman rumah sakit.
"Fareha ... Tuan Saad Hariri menunggumu!" seru seseorang dari kejauhan.
Fareha hanya melambaikan tangan dan tetap berbincang.
***
Leen ke luar kamar. Mata gadis itu masih sembap. Bertemu seseorang mungkin dapat mengobati kesedihannya. Ia menuju dapur, sekadar mencari makanan ringan atau membantu memotong sayuran agar dapat berbincang-bincang.
"Nona Leen dan Tuan Aramoun, mereka sudah sama-sama dewasa, tidak mungkin tidak terjadi sesuatu," ucap Bibi Fetiye meyakinkan lawan bicaranya.
"Aku tidak mau bicara hal yang tidak kutahu, Fetiye." Bibi Zanub menanggapinya dengan bijak.
Apa yang dikatakan Bibi Fetiye terdengar jelas di telinga gadis itu. Leen berdiri di ambang pintu dapur. Ia seketika membuang muka. Air mata yang banyak terkuras tadi, kembali merabunkan pandangan gadis itu. Pakaian yang dikenakannya terasa dirobek- robek. Mereka belum menyadari keberadaan nonanya. Leen menarik napas panjang, menegarkan diri.
"Bibi Fetiye! Apa kau menjadi orang yang lebih baik setelah menjatuhkanku?" gertak Leen.
"A---i--- itu, Maksudku Anda dan Tuan Aramoun ...." Bibi Fetiye tergagap. Ia tak mampu meneruskan perkataannya.
Leen mengalihkan pandangannya ke Bibi Zanub.
"Bibi Zanub."
"Ya, Nona."
"Terima kasih sudah menanggapi kabar bohong itu dengan bijak. Aku harap Bibi tetap seperti itu," tukas Leen. Ia meninggalkan mereka.
"Ah, ya Rabb," keluh Bibi Fetiye yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Lain kali, hati-hati kalau bicara. Yang kau katakan pasti tidak benar. Dia mungkin berbeda dengan Nyonya Naili yang tidak menghiraukan perkataan kita."
***
Pagi seperti ini, Nyonya Naili berada di perpustakaan rumahnya, setelah Tuan Harun berangkat ke kantor. Terdapat dua bufet raksasa yang merapat di dinding dan ada juga yang menyekat ruangan itu.
Bisa dibilang Tuan Harun adalah kolektor kitab-kitab Karangan ulama dunia, baik ulama salaf maupun ulama saat ini. Beberapa putranya pernah mendalami ilmu agama di Mesir, Makkah, Yaman dan India, walaupun mereka menempuhnya tidak sampai selesai, termasuk Aramoun. Keluarga besar Tuan Harun adalah penganut Madzhab Malikiy.
Hayatusshohabah merupakan kitab kegemaran Nyonya Naili karangan Maulana Muhammad Yusuf al Kandahlawiy, India. Di dalamnya berisi kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam yang banyak mengandung pelajaran. Saat ini, Nyonya Naili membacanya kembali walau telah selesai berkali-kali.
Di ruang ini juga terdapat kursi dan meja panjang yang menyatu. Siapa pun bisa kemari, termasuk Leen. Langkah gadis itu hampir tidak terdengar, hingga ia berada di sisi seseorang yang dipanggil 'Ibu' itu, barulah Nyonya Naili menyadarinya.
"Ada apa denganmu?" tanya Nyonya Naili melihat mata sembapnya. Ia melepas kacamata.
"Ibu. Apa Ibu percaya padaku? aku sangat butuh pembelaanmu. Jika aku mendapatkannya, maka aku tidak peduli apa pun yang dikatakan orang lain."
"Nak, orang yang menyukaimu tidak butuh penjelasan. Ibu tahu, kau merasa sulit dengan kabar tentang dirimu dan Aramoun. Apalagi Aramoun memberi jawaban mengejutkan.
Sayyidah Aisyah, istri Rosulullah pernah mengalami tuduhan dari kaum munafik, seperti yang kau alami saat ini. Sampai-sampai beliau tidak punya pembela, bahkan ia memilih pulang ke rumah Sayyidina Abu Bakar. Hampir 40 hari lamanya, akhirnya Allah Subhanahu WaTaala menurunkan ayat membela beliau.
Ternyata ujian itu untuk meninggikan derajat. Dan mungkin ini ujian pertamamu setelah kau memutuskan untuk menutup aurat."
"Bagaimana dengan tingkatanku? Sementara aku tidak sebaik Sayyidah Aisyah."
"Tentu saja kalau kau tetap pada jalan yang benar, maka Allah akan gerakkan orang-orang untuk membelamu, seperti Ibu saat ini. Ibu percaya padamu."
Leen menggenggam tangan Nyonya Naili kemudian menciumnya. Gadis itu memeluknya erat.
***
Mengingat makhluk adalah penyakit, mengingat Kholik adalah obat. Setelah menjadikan Alyan sebagai tempat pelariannya dan malah membuat sakitnya kambuh, Aramoun melarikan diri ke masjid.
Di Masjid Al Amin yang merupakan icon muslim Lebanon yang paling penting ini, menjadi tempat pengaduan Aramoun. Masjid bergaya Ottoman tersebut dibangun oleh Perdana Menteri Rafiq Hariri. Di sebelahnya berdiri tempat peribadatan orang-orang masihah.
"Ya Rabb, jauh di jurang hatiku sana, ada nafsu yang bernama cinta. Dan aku belum sanggup mentaubatinya." Aramoun membisikkan keluhannya selepas sholat dzuhur.
Masjid mulai sepi, hanya ada beberapa orang saja yang duduk berjauhan. Aramoun menghampiri seseorang yang di panggil Syekh Abdullah, imam masjid Al Amin. Melihat ada delapan lilitan di sorbannya, Aramoun terkagum. Tentunya ilmu agama Syekh itu sangat tinggi.
"Assalamualaikum, Syekh." Aramoun mencium tangannya lalu duduk bersila di hadapannya.
"Waalaikumsalam, ya Walad."
"Aku sudah melaksanakan perintah Allah untuk mengadukan masalahku pada-Nya. Kini, aku melaksanakan perintah selanjutnya, yakni bertanya pada yang ahli," tutur Aramoun.
"Semua kebaikan datang dari Allah. Silakan anakku." Syekh yang sudah terlihat beruban itu terus memutar tasbihnya.
"Aku sampai malu mengatakan ini. Aku mencintai mahromku sendiri, Syekh," kata Aramoun, seketika menunduk setelah menceritakan cinta yang dikatakan aib itu.
"Astagfirullah, Nak," gumam Syekh Abdullah terkejut, "kau harus segera mentaubatinya."
"Itu yang belum bisa kulakukan." Aramoun meraup wajah beberapa kali.
"Dosa yang tidak kautaubati, akan meningkat menjadi dosa yang kau nikmati."

0 Response to " Part 8 : Taubat"
Post a Comment