Part 2 : Bertanya-tanya
Ilustrasi Gambar oleh Arek Socha dari Pixabay
Phasmina Merah dari Aramoun
Part 2 : Bertanya-tanya
Dua kotak nasi berhamburan ke jalan. Aramoun tak yakin teriakannya didengar oleh gadis itu. Aramoun tersimpuh memangku kepala gadis itu. Darah segar mengalir dari dahinya. Lengan kanannya juga terluka.
Jantung pria itu secepat kuda berlari. Buru-buru ia menopang tubuh gadis itu lalu memasukkannya ke mobil. Entah apa yang akan ia katakan pada sang ayah nantinya.
"Alyan, datanglah ke apartemenku!" kata Aramoun, menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Ini masih dini hari, Aramoun ...," elak Alyan.
"Aku tunggu!"
"Dari nada bicaramu sepertinya kau sehat-sehat saja?"
"Ini darurat!" Aramoun melempar ponselnya di dashboard setelah membuat lawan bicaranya kesal.
Rintihan gadis itu terdengar sesaat. Leen melupakan kecuriagaan anehnya pada Aramoun walaupun kini mereka duduk berdampingan. Luka-luka yang ada pada dirinya, membuat gadis itu memilih untuk tidur.
***
"Ayah menyuruhku membawanya ke Beirut, tetapi aku malah akan membawanya ke Tripoli," sesal Aramoun.
"Kau memang cari masalah dengan ayahmu!" gertak Alyan yang tengah membalut lengan Leen.
Mata gadis itu masih terpejam. Namun, siapa sangka jika ternyata Leen merekam pembicaraan mereka? Gadis itu ketakutan. Ia mengira Aramoun berkhianat atau bahkan akan menculiknya.
Mereka berdua keluar dari kamar, meneruskan pembicaraan.
"Cepat angkat ponselmu! Ayahmu sudah sangat khawatir!" desak Alyan. Sudah ada tiga puluh panggilan tak terjawab bertuliskan 'Abuyya' di ponselnya.
Pria itu menyandarkan kepalanya di dinding. "Tidak, ayah hanya ingin memarahiku!" kilah Aramoun.
"Jangan terus-terusan menyalakan ayahmu! Kalian berdua sama saja keras kepala." Alyan semakin geram.
Semula, ia mengira hubungannya dengan sang ayah akan membaik setelah kehadiran gadis itu. Namun, apa yang terjadi? Ia malah menimbulkan masalah baru.
"Aku pikir malam ini akan mencicipi manisnya kismis. Namun ...." Aramoun membalikkan badan. Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke dinding, dengan membentangkan ke dua tangan.
***
Leen merasa sangat resah. Ia berjalan kesana kemari seraya terus berpikir agar dapat melarikan diri dari Aramoun. Kedua tangannya saling meremas.
Prang
Begitu gugupnya, sampai-sampai Leen menjatuhkan gelas dari nakas. Bunyi gelas itu kian nyaring karena menjatuhi guji maroko.
Gadis itu segera berbaring di ranjang. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover. Berpura-pura tidur adalah pilihan terakhir saat ini.
Aroma misik sedikit menggelitik gadis itu. Jubah Haromain dengan list gold dan peci Oman membuat wanita mana saja terkesima. Apa yang dikenakan Aramoun dapat membawa aura positif bagi yang melihatnya. Namun, tidak dengan Leen. Rasa takut menguasainya saat pria itu semakin mendekat.
Sentuhan Aramoun mendarat di ubun-ubun gadis itu. Leen terduduk menyingkap bed covernya. Tirai bening di mata si gadis hampir tumpah.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak seperti yang kau pikirkan." Sorotan Aramoun meneduh, tetapi wajah gadis itu kian gusar. "Kita akan bertemu ayah setelah sholat subuh," kata Aramoun.
Sholat subuh Leen secepat kilat, bahkan sebelum Aramoun menyelesaikan ruku' dan sujudnya. Gadis itu menerobos pintu utama keluar dari apartemen.
Langit masih gelap. Gadis itu menghentikan taksi kuning. Lehernya mendongak, memandang gagahnya gedung itu saat membuka pintu taksi.
"Daripada dia membawaku ke tempat yang lebih jauh, lebih baik aku pergi sendiri," gerutu Leen. Gadis itu sesekali menoleh ke belakang, khawatir Aramoun akan menyusulnya.
"Wen taruh?" tanya si supir.
"Ba aruh ila Roe Ibrahim," jawab Leen singkat. Ia sedikit mengingat nama jalannya saja.
Leen berkutat pada ponselnya. Ada lebih dari tiga puluh panggilan tidak terjawab. Ia menghubungi Tuan Harun.
"Ayah, ini aku Leen," kata gadis itu.
"Di mana Aramoun?!" tanya Tuan Harun bercampur amarah.
"Ayah ..., berikan saja alamat rumah," pinta Leen.
"Jadi, Aramoun tidak bersamamu?" Tuan Harun kian garang.
"Ayah, aku mohon ...."
Rumah Tuan Harun melewati luasnya arena berkuda dan rumah sakit militer di jalan Ibrahim. Tidak ada rumah di sini, hanya ada rumah Tuan Harun.
Leen tiba dalam waktu dua puluh menit. Taksi yang mengantarnya berhenti di depan gerbang setinggi empat meter. Dinding kokoh bak benteng mengelilingi tanah seluas dua hektar.
"Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai di sini," bisik Leen.
Hanya tinggal satu bintang yang masih bersinar. Gadis itu melihat sekelilingnya juga masih remang-remang. Seorang security membukakan gerbang setelah ia mengetuknya.
Rumah putih itu mulai terlihat. Rumah yang apabila dilihat dari posisi Leen berdiri saat ini memanjang seperti kapal pesiar. Hijaunya rumput seluas mata memandang. Pepohonan yang rindang tersebar di beberapa titik di halaman rumah. Tumbuhan-tumbuhan hias masih jauh di depan rumah sana. Ia masih harus menempuh rumah itu dengan kaki lebamnya.
Gadis itu berjalan tertatih. Sosok kedua orang tua yang ia rindukan, membuat Leen lupa betapa membahayakannya Aramoun. Tangis haru bercampur prihatin tersirat di wajah Nyonya Naili, istri Tuan Harun melihat gadis itu benar-benar tidak baik.
"Ma bala sya'nuk ya Habibatiy?" tanya Nyonya Naili begitu Leen berada di hadapannya.
Gadis itu masih belum sanggup menjawabnya. Ia memeluk Nyonya Naili erat.
"Anak itu harus diberi pelajaran!" Ledakan amarah Tuan Harun bak dentuman meriam koloni Prancis di negara itu.
Mereka bertiga serentak membalikkan badan, mendengar suara mesin mobil. Pria yang membuat Leen melarikan diri itu, kini berada di hadapan mereka.
"Apa yang kau lakukan pada Leen?!" hardik Tuan Harun.
"Ayah, aku ...," kata Aramoun terpotong.
"Sudah puas kau membuat Ayah khawatir!"
"Percuma, Ayah tidak akan mendengar apa pun dariku!" balas Aramoun.
Mereka saling menatap layaknya singa yang hendak bertarung. Mata Aramoun memerah menahan amarah dan kecewa.
"Aramoun, minta maaf pada Ayahmu!" Nyonya Naili mencekal lengan Aramoun.
"Ayah! Aku dilahirkan ibuku bukan untuk dimarahi!"
Leen menghentikan tangisnya. Gadis itu melempar pandangan ke arah Aramoun dan Tuan Harun secara bergantian.
"Ayah, dia sudah menjagaku. Kalau dia tidak melindungiku, Tadi, aku tidak mungkin berada di sini," jelas Leen.
Tuan Harun terdiam, menelaah penjelasan dari Leen.
"Baiklah, Ayah bisa mengerti." Amarah Tuan Harun mereda.
Nyonya Naili melepas cekalannya. Suara-suara tidak terdengar sesaat. Aramoun mencium punggung tangan Tuan Harun tanpa menatap. Pertikaian itu memang terjadi begitu saja hingga ia belum sempat bersalaman dengan ke dua orang tuanya.
"Mari, Nak. Ibu antar ke kamarmu," ajak Nyonya Naili.
"Biar aku saja, Bu ...," kata Aramoun.
"Baiklah." Nyonya Naili meninggalkan mereka.
"Kamarnya ada di samping kamarmu!" teriak Tuan Harun sambil menaiki tangga.
"Apa? Kenapa kami tidak satu kamar?" bisik Aramoun.
________________________________________
Catatan kaki
Wen ta ruh? : ke mana kau mau pergi?
Ba aruh ila Roe Ibrahim : aku akan pergi ke Jalan Ibrahim.
Ma bala sya'nuk ya Habibatiy? : apa yang terjadi padamu, sayang?

0 Response to "Part 2 : Bertanya-tanya"
Post a Comment