Part 1 : Pertemuan



Phasmina Merah dari Aramoun
#PMDA

Part 1 : Pertemuan
Romance-religi
Oleh : Halwa M

Samtaleen Barbarosa. Seorang gadis dengan mini dress simetris berbalut trench coat berwarna camel yang menutupi hingga lututnya, sedang menunggu dengan resah di Bandara Rafiq Hariri. Beberapa kali ia menyugar rambut brownnya yang terurai panjang, sedikit frustrasi. Sepatu boots kulit yang ia kenakan menghentak ke bumi berkali-kali.

Maza'ma bi harfin. Ia tidak bicara sepatah kata pun selama tiga jam. Wajahnya merah padam. Sesekali ia menggigit jarinya, putus asa. Sekuat apa pun ia menahan, air mata tetap saja tumpah. Tidak ada yang bisa ia lakukan, bahkan pasportnya ditahan petugas.

"Kenapa tidak ada yang menjawab panggilanku?!" gerutunya lirih, sambil menyingkap Rambut. "Siapa saja yang menjemputku, aku akan menguburnya hidup-hidup!"

Ponsel di tangannya dilempar kasar ke dalam tote bag kulit miliknya. Kobaran api di hatinya semakin menyala. Terlebih lagi, ini pertama kalinya gadis berusia dua puluh tahun itu menginjakkan kaki di Lebanon.

"Samtaleen ..., Samtaleen ..., Samtaleen," ucap gadis itu memanggil namanya sendiri. Ia mencari karton, kardus, atau apa pun yang bertuliskan namanya, di antara mereka yang akan menjemput.

"Ah! Ya Rabb, masih tidak ada." Leen kembali terduduk di kursi besi. Gadis dengan bola mata besar nan indah itu menenggelamkan wajah di atas ke dua telapak tangan. Hidung mancungnya kini memerah.

"Assalamu'alaikum, ya Habibatil hanan." Suara berat seorang pria terdengar begitu dekat.

Ia mendapati sepasang sepatu sport dengan tali simpul berwarna kuning, saat membuka telapak tangannya. Perlahan, penglihatannya terus menelusuri apa yang dikenakan pria tadi. Selanjutnya, celana jeans berwarna navy dan kemeja putih bergambar atribut bajak laut dikenakan pria itu. Saat kacamata hitam pria tadi tertangkap pandangannya, Leen berdiri dan mengangkat kepala dengan angkuh.

"Sayang? Apa yang bisa kau buktikan
 dengan kata-kata itu?!" Tangan lemahnya mendorong dada pria tadi. Pria itu hanya tersenyum jahil. Begitu marahnya, hingga ia lupa menjawab salam pria tadi. "Ah! ya Rabb, kau yang membuat bandara ini seperti penjara untukku?!"

Leen terbelalak seraya melayangkan pukulan menggunakan tasnya. Pria tadi memperlihatkan pasport milik Leen.

"Sudahlah, daripada kita berdebat, lebih baik kita tinggalkan tempat ini, Nona," ajak pria tadi seraya menarik koper milik Leen. Si pria hampir meraih tangan gadis memesona tersebut.

Syaqrona Aramoun, nama pria tadi. Nampaknya, ia harus bersabar dengan situasi ini. Leen menampik tangannya dan memilih berjalan sendiri mendahului Aramoun.

*

Mendekati tengah malam, Leen dan Aramoun meninggalkan 'Matar Bayrut Rafiq al- Hariri ad-Dowaly'. Bandar udara yang terletak di sebelah selatan Beirut tersebut, namanya diambil dari seorang pengusaha dan mantan perdana menteri Lebanon, Rafiq Hariri.

Negara dengan julukan Parisnya Timur Tegah ini, selalu menyuguhkan sisi gemerlapnya di malam hari. Club Malam menjamur di kota-kota besar termasuk Beirut, hingga gaya hidup mereka tak lepas dari anggur dan minuman beralkohol.

Penduduk muslim sunni di sini hanya 27%  saja. Kini, masyarakat muslimnya dapat bernapas lega menjalankan syariat sejak lima belas tahun terakhir, walaupun sebelumnya terjadi perang saudara. Dan keluarga besar Aramoun, merupakan bagian dari penduduk muslim sunni.

Infrastruktur kota yang terkesan mewah hanya berada pada daerah sekitar bandara dan tepi laut saja. Selebihnya, tampak sederhana, tetapi tetap memesona. Kondisi alam yang memikat, menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang datang ke negeri Arab tanpa gurun tersebut. Gaya berpakaian para wanita, kebarat-baratan terutama mereka yang non muslim. Maka wajar saja jika Lebanon dijuluki Parisnya Timur Tengah.
Bangunan peninggalan koloni Prancis memberi kesan klasik pada negara ini. Bahkan banyak kafe- kafe yang dibuka memanfaatkan bangunan bersejarah itu.

Pelita-pelita bertebaran seakan-akan kegelapan tidak ada. Gadis kelahiran Amman, Yordania itu membuang muka dengan pandangan kosong ke arah kaca. Ia mengabaikan apa pun yang dikatakan Aramoun. Pertemuan pertama dengan situasi yang sulit, membuatnya tak mudah beramah tamah dengan Aramoun.

"Rasanya, aku ingin bernapas dengan tabung oksigen saja," keluh Leen, merasa sangat lelah.

Aramoun kembali tersenyum melalui spion, pada gadis di belakangnya. Begitu senangnya, Aramoun tak dapat mengendalikan diri, salah satu tentara hatinya berkedip menggoda. Karena sejak tadi, baru kali ini Leen buka suara.

"Rupanya, Ayah terlalu lama mempertemukan kita," goda Aramoun, kembali memandang sambil terus menyetir.

"Apa? Hei supir. Jangan bertindak kurang ajar. Memangnya, siapa yang kau maksud dengan ayah?" Bola mata dengan segala hiasan yang ia miliki, menghardik pria berkewarga negaraan Lebanon tersebut.

Amukan Leen memang lumayan menakutkan. Namun, ia meledakkannya hanya sewaktu-waktu saja. Sebetulnya, Leen adalah gadis yang penurut.

Leen mulai merasa tidak nyaman. Ia mencari-cari ponsel di dalam tas.

"Hah!"

Leen terkejut. Ia ingin secepatnya menghubungi seseorang. Namun, ponselnya kehabisan nyawa.

"Hubungi ayahku, aku ingin bicara dengannya!"

Leen melongok )nn-di antara celah kursi depan. Aramoun setengah memutar wajah hingga wajah keduanya  berhadapan. Tercekat dengan keadaan. Leen terhuyung, punggungnya terbanting ke sandaran kursi setelah meraih ponsel Aramoun. Ia tidak mengharapkan situasi seperti ini. Sementara Aramoun, menyembunyikan senyumnya dengan tangan. Sebetulnya pria berusia dua puluh delapan tahun itu berharap lebih.

"Ayah, supir yang Ayah kirim, sudah mulai kurang ajar padaku!"

Mimik gadis itu memelas dengan rengekan seperti anak kecil, mengadu pada suara di seberang sana.

"Bahkan, jika kau duduk di sampingnya, Ayah akan percaya padanya." Tuan Harun namanya. Ia memutuskan ponsel secara sepihak.

"Kau sudah dengar sendiri? Kau bersama orang yang tepat." Aramoun sejak tadi menggodanya. Ia tidak peduli dengan taring predator gadis tadi. Singa betina itu harus luluh padanya.

Kening gadis itu berkerut putus asa mendengar jawaban tidak masuk akal Tuan Harun.

Mobil yang mereka tunggangi menepi. Meski Leen ingin segera tiba di rumah, tetapi Aramoun tahu, gadis yang bersamanya kini belum makan apa pun kecuali makanan ringan saja. Perjalanan masih ditempuh satu jam lagi.

"Enti tatabi'ni suwayy?" tanya Aramoun.

Leen hanya menggeleng malas. Ia benar-benar kehabisan tenaga. Kecurigaannya pada Aramoun membuat kedua matanya waspada.

"Thob 'an." Aramoun bergegas turun lalu menyeberang menuju restoran Leon.

Hampir setengah jam menunggu. Leen mulai bosan dan memutuskan untuk menghampiri Aramoun.

Brak!

Leen menutup pintu mobil. Udara malam semakin dingin bahkan menggelitik hidung. Gadis itu merapatkan trench coatnya tak membiarkan udara menelusup ke pori-porinya. Ia mulai menyeberang jalan. Jalanan di tengah malam seperti ini sangat sepi. Bahkan Leen tidak melihat satu pun kendaraan yang melintas.

Sebuah motor dari arah kanan menikung dengan kecepatan tinggi  menumbangkan gadis itu.

"A ...." Suara Leen memekik telinga Aramoun.

"Leen ...!" teriak Aramoun.

Leen tersungkur. Kepalanya terbentur trotoar di tepi jalan.

🌠Catatan

Assalamu'alaikum, ya Habibatil hanan : Assalamualaikum Sayang

Thob'an : baiklah

Enti tatabi'ni suwayy? : kau mau ikut denganku sebentar?




0 Response to "Part 1 : Pertemuan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel